3

Seorang teman bercerita mengenai kenalannya. Seorang wanita dewasa yang kecewa dengan dirinya. Mengurung dirinya dalam kesendirian. Menjauh dari lingkungan karena sebuah kesalahan yang sebenarnya tidak sepenuhnya miliknya.

Kesuciannya telah hilang oleh seorang teman. Di kamarnya, ketika dia baru saja sembuh dari sakit. Teman itu datang sendiri. Tidak ada orang lain di rumah. Seorang pria dengan seorang wanita di dalam kamar. Tak peduli teman, atau siapapun. Semua yang terjadi tak pernah terlintas di pikiran sebelumnya.

Awalnya, hanya terjadi perbincangan biasa di antara sesama kawan. Perbincangan sehari-hari yang mungkin selalu terjadi di mana saja. Perbincangan biasa yang kemudian membangkitkan naluri biologis alamiah setiap manusia. Naluri purba timbul dalam diri masing-masing. Bahkan saat tubuh belum sepenuhnya sehat setelah sakit, naluri purba itu mengalahkan semuanya. Sentuhan fisik tak terhindarkan.

Dia dapat menikmati kejadian itu. Sebuah ciuman di antara kawan. Ciuman yang dibarengi dengan sentuhan-sentuhan lembut penuh kasih sayang. Sentuhan yang membuatnya terbuai. Sentuhan yang membuatnya menginginkan sesuatu yang lebih dari sekadar sebuah ciuman.

Ciuman yang membangkitkan nafsu alami. Gejolak birahi menggelora. Memaksa seorang teman untuk memperkosa teman wanitanya. Tidak pernah terbesit sebelumnya, tetapi sekarang itu semua telah terjadi.

Kesucian seorang wanita telah hilang. Menangis sendiri di dalam kamar. Seorang teman hanya duduk di samping menemani – terdiam menyesali perbuatannya. Ketidakmampuan dirinya untuk melawan gejolak biologis alamiah di dalam dirinya. Nafsu yang telah mengendalikannya. Memaksa dirinya untuk memperlakukan seorang teman sebagai pelampiasan nafsu sesaat.

Dia lalu memutuskan untuk melamar teman wanita itu. Mengajak teman itu untuk menikah dengan dirinya. Keputusan pernikahan yang terburu-buru. Hanya karena sebuah penyesalan, karena sebuah kesalahan. Tentunya, teman itu berharap dapat memperbaiki kesalahan yang terlah dia perbuat. Berharap dapat mengobati kesedihan yang dialami seorang teman.

Namun, ajakan itu ditolak. Wanita itu tidak ingin menghabiskan seluruh sisa hidupnya bersama dengan seorang pria yang telah memaksanya melakukan hubungan yang hanya berdasarkan nafsu. Teman wanita telah memutuskan untuk melalui hidupnya sendiri. Dia ingin menjalani hidupnya yang telah kehilangan kesuciannya.

Sebuah hubungan dijalin oleh wanita itu. Bersama dengan seorang pria yang menyayanginya. Ia begitu menaruh harapan pada prianya. Kepercayaan besar dari seorang kekasih kepada pujaannya.

Wanita itu lalu memberitahu perihal kejadian di suatu hari di sebuah kamar. Ketika dia kehilangan kesuciannya karena nafsu seorang teman. Tangisan kesedihan tak terhankan. Wanita itu menangis di hadapan kekasihnya. Menangisi ketidakmampuannya mempertahankan harga dirinya sebagai seorang wanita,.

Merasa bersalah terhadap kekasih yang ada di hadapannya, wanita itu lalu mengajak sang kekasih untuk bercinta. Melakukannya bersama dengan pria yang dia sayangi. Tidak karena paksaan dari seorang pria, tetapi kali ini dialah yang memaksa kekasihnya untuk bercinta. Dia menantang kejantanan sang kekasih. Memaksa untuk membuktikannya sekarang juga, bersama dia.

Tidak ada penolakan dari sang kekasih. Pria itu langsung mengiyakan ajakan sang wanita. Membuktikan kejantanannya kepada sang wanita. Menbuktikan bahwa dia adalah seorang lelaki sejati.

Tidak hanya sekali. Mereka melakukannya berulang-ulang. Hubungan yang dilakukan tidak lagi karena kasih sayang. Tidak lagi karena sebuah pembuktian dari sebuah tantangan seorang kekasih. Hubungan yang dilakukan hanya karena menuruti nafsu birahi. Nafsu liar alami manusia. Melakukan hubungan intim dengan lawan jenis. Bercinta.

Percintaan yang tidak cinta. Hanya nafsu binatang yang semakin lama semakin membosankan. Kejenuhan dirasakan sang pria. Kejenuhan melakukan hubungan dengan hanya seorang wanita. Keinginan untuk melakukannya dengan wanita lain. Menikmati kehangatan tubuh yang lain. Merasakan kenikmatan dengan wanita yang lain.

Sang pria lalu meninggalkan kekasihnya. Membiarkannya kembali menyesali perbuatannya. Mengurung diri dari pergaulan. Menghentikan pendidikannya. Merasa malu kepada dunia karena semua yang telah dilakukannya. Merasa dirinya sudah tidak lagi berharga. Membuang dirinya jauh-jauh dari dunia. Dia tidak lagi berharga. Sebagai seorang wanita, sebagai seorang manusia. Dia hanyalah seonggok daging tak berharga. Mungkin pula berbau busuk dan dikerubungi oleh banyak lalat.

Masyarakat tidak akan menerimanya. Mereka akan membuang wanita ketika tahu dia tidak lagi memiliki kesucian seorang wanita. Mencemoohnya sebagai wanita rendah yang tidak berharga. Membencinya. Masyarakat tidak mengizinkan seorang wanita kehilangan kesucian di luar penikahan bersama pria yang bukan suaminya.

Kemang, 26 Januari 2007

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s