Pertemuan Akhir Semester

Di akhir sebuah pertemuan, seorang murid bertanya pada gurunya. “Pak, kenapa Bapak selalu memindahkan meja-kursi Bapak ke bagian sisi lalu menggeser white board ke bagian tengah?”

Mendengar pertanyaan itu, sang guru yang sedang membereskan buku-bukunya pun menghentikan kegiatannnya. Dia terdiam untuk sejenak, sambil mengingat kebiasaannya menggeser meja-kursi dan white board setiap kali masuk ke kelas.

Dan setelah merenung sejenak, sang guru sadar bahwa dia selalu melakukan hal itu tanpa disadarinya. Tidak ada alasan khusus yang mendorongnya melakukan itu.

Murid-murid masih terdiam menantikan jawaban dari guru mereka. Wajah mereka menunjukkan raut muka yang menantikan sebuah jawaban – terutama murid yang bertanya tadi.

Hal yang ditanyakan murid tersebut bukanlah sesuatu yang penting atau bersifat sangat pribadi dan rahasia. Murid itu hanya menanyakan sebuah kebiasaan yang dilakukan oleh gurunya. Tidak bermaksud untuk menyalahkan ataupun menghakimi. Dia hanya ingin tahu alasan yang melatarbelakangi kebiasaan gurunya tersebut.

Tidak ada yang salah dengan memiliki sebuah kebiasaan. Semua orang memilikinya. Satu orang dengan kebiasaan tersendiri – yang berbeda dengan kebiasaan orang lain. Ada sebagian orang yang mengetahui alasan yang mendorong mereka melakukan kebiasaan itu. Sedang, sebagian orang yang lain tidak pernah sadar dengan kebiasaan yang mereka lakukan. Jangankan untuk menyadari alasan mereka melakukan hal tersebut, mereka bahkan tidak pernah sadar kalau mereka memiliki sebuah kebiasaan – sampai akhirnya ada seseorang yang memberi tahu mereka tentang kebiasaan tersebut. Karenanya, sangat sia-sia menanyakan alasan yang membuat golongan kedua melakukan kebiasaan mereka. Dan jika terus dipojokkan, paling-paling mereka hanya akan menjawab “Ya, suka aja” atau “Enak” atau “Nyaman” atau jawaban lain yang tidak lebih dari tiga kata dan sama sekali tidak menjelaskan alasan yang sebenarnya.

Murid-murid itu pun sebenarnya, tanpa mereka sadari, tahu kalau guru mereka yang satu ini termasuk dalam golongan kedua tersebut. Berminggu-minggu mengikuti kelas guru tersebut membuat mereka secara perlahan memahami sifat guru mereka.

©

Sang guru masih ingat betul saat pertama kali masuk ke kelas itu. Belum ada orang. Hanya dia dengan serangkaian kursi-meja, white board, serta benda-benda lain yang tidak bisa dia ajak berbicara. Inilah hari pertamanya mengajar – dan memang untuk pertama kali dalam hidupnya dia akan menjadi pengajar bagi sekelompok orang.

Tas masih tersangkut di pundaknya saat kedua tangannya bergegas mengangkat meja dan merapatkannya ke tembok. Kakinya mendorong kursi mengikuti arah berpindahnya meja. Sementara, white board yang tadinya berdiri sendiri di pojok ruang, dia pindahkan ke bagian tengah – tempat yang sebelumnya ditempati oleh meja-kursi yang dia singkirkan. Selesai dengan itu, dia duduk di kursinya. Dia lemparkan senyum sambil memperhatikan seluruh bagian kelas. Terbayang olehnya sesaat lagi kursi-kursi kosong yang ada di hadapannya akan diisi oleh orang-orang muda yang selalu dibayangi perasaan ingin tahu, dan dia harus bisa memuaskan rasa ingin tahu mereka. Di atas meja-meja tersebut, akan tergeletak kertas, buku, pulpen, dan segala hal. Dia bisa membayangkan orang-orang muda itu akan memperhatikannya setiap saat. Semua yang dia ucapkan atau dia tulis di white board, akan langsung berpindah ke kertas yang ada di atas meja orang-orang muda itu. Persis seperti yang dia lakukan saat menjadi mahasiswa dulu. Hanya saja, kelas tempatnya mengajar tidak sebesar tempatnya belajar dulu.

Sekolah tempatnya mengajar sekarang hanyalah sebuah institusi kecil – tidak seperti salah satu universitas terfavorit di negeri ini yang menjadi tempatnya belajar dulu. Ruang-ruang kelas di sekolah ini pun tidak seberapa besar. Maksimal, tiap kelas hanya mampu menampung sekitar 16 orang siswa. Jumlah itu berbanding jauh dengan kelas tempatnya belajar dulu yang sangat besar dan bisa dipenuhi ratusan mahasiswa.

Begitu juga dengan white board yang selalu dia geser setelah meja-kursi. Dia hanya white board kecil. Ukurannya tidak lebih dari 40 cm x 100 cm. Sangat berbanding jauh dengan yang ada di universitas tempatnya dulu berkuliah. White board besar itu tergantung di dinding. Dia selalu ada di sana. Terpaku. Tidak biasa dipindah. Tidak seperti white board kecil yang bisa dipindah-pindah.

Sang guru baru akan menulis di white board itu saat akan memberikan sebuah contoh atau penjelasan lanjutan tentang materi yang sedang dibahas – karena materi telah dia kirimkan kepada para siswa beberapa hari sebelum kelas berlangsung, begitu setiap minggunya. Jika tidak, dia akan tetap putih. Kondisi itu sangat berbeda dengan yang dia alami dulu. White board besar selalu penuh dengan coretan dosen. Bahkan, jika dia tidak cepat-cepat menyalin, dia akan bingung dengan urutan coretan yang dibuat oleh sang dosen karena mereka sangat padat dan tersusun dalam rangkaian yang tidak beraturan. Sebagian besar waktunya di dalam kelas dihabiskan untuk menyalin catatan yang ada di white board tersebut, sebagian yang lain untuk mendangakkan kepala karena pandangannya ke white board terhalang oleh dosen. Meja-kursi dosen letaknya ada di depan white board. Meja-kursi itu tidak bisa dibilang berukuran kecil. Meja memiliki panjang hampir sama dengan white board. Dan karena mereka diletakkan di sebuah panggung yang lebih tinggi dengan tempat duduk para mahasiswa, meja-kursi (juga dosen yang duduk) menjadi penghalang utama mahasiswa yang ingin melihat catatan yang sudah dibuat sang dosen di white board. Karenanya, di setiap pertemuan, para mahasiswa berebut menempati barisan yang paling belakang karena dari barisan inilah pandangan ke white board tidak terlalu terhalang oleh meja-kursi (serta dosen yang duduk).

Lama menunggu, rasa ingin tahu para murid berubah menjadi rasa bersalah. Mereka sadar pertanyaan teman mereka sama sekali tidak berhubungan dengan mata kuliah kelas itu – yang selalu dijawab dengan cepat dan lugas oleh sang guru. Dalam benak mereka, mungkin ada suatu hal yang sangat bersifat rahasia dan pribadi yang melatarbelakangi guru mereka melakukan kebiasaannya tersebut. Tapi, mereka tidak berani untuk mengemukakannya. Sang guru masih termenung. Duduk di kursinya. Tidak ada ekspresi khusus yang tersirat dari wajahnya. Murid-murid semakin terjerumus dalam penyesalan mereka.

©

Sudah lama sebenarnya mereka ingin mengajukan pertanyaaan itu. Tapi, selalu saja ada perasaan tidak enak saat akan mengemukakannya. Dan karena ini merupakan pertemuan terakhir sebelum akhirnya mereka akan libur panjang, tidak ada waktu yang lebih baik dari sekarang – dan itupun setelah mereka melakukan undian siapa yang harus mengajukan pertanyaan.

Semua itu berawal dari pembicaraan salah seorang murid di kelas. “Kenapa, ya, Pak A kalau masuk kelas selalu menggeser meja-kursi dan white board?” tanya salah satu murid.

Murid yang lain pun awalnya tidak terlalu menanggapi pertanyaan itu. Mereka tidak memberikan tanggapan padanya. Tapi ternyata, pertanyaan itu cukup untuk membuat semua murid yang lain memperhatikan kebiasaan guru mereka itu.

Tidak hanya kebiasaan menggeser meja-kursi dan white board, tapi kebiasaan-kebiasaan yang lain. Kebiasaan untuk memberikan materi beberapa hari sebelum pertemuan di kelas. Kebiasaan duduk di baris paling belakang saat para murid mencatat penjelasan tambahan atau contoh yang ditulis di white board. Kebiasaan mengajak para murid untuk mengajukan pertanyaan. Bahkan sampai kebiasaan memakan permen mint sebelum kelas dimulai. Tapi, dari semua kebiasaan tersebut, kebiasaan menggeser meja-kursi serta white board itulah yang sangat membuat penasaran – karena guru yang lain tidak pernah melakukannya.

Sang guru menghembuskan napas panjang saat tersadar dari lamunannya. Pandangannya lalu disebarkan ke seluruh ruang. Dilihatnya orang-orang muda yang selama beberapa bulan muridnya. Wajah mereka masih menunjukkan perasaan sangat ingin tahu. Sang guru lalu tersenyum. Tangannya mulai sibuk memasukkan buku-buku ke dalam tas. Dan setelah selesai melakukannya, dia berujar, “Sekian pertemuan kali ini. Selamat berlibur. Semoga nilai kalian semester ini bagus semua.” Sang guru pun lalu berjalan menuju pintu dan meninggalkan ruang. Murid-murid masih tetap di dalam kelas. Membereskan buku, pulpen, serta berbagai benda yang ada di meja mereka dan bersiap untuk pelajaran berikutnya.

Tangerang
16 Januari 2011

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s