Catatan (2)

Suatu saat kau merasa bahwa kau tidak mengenal dirimu. Kau tidak mengerti mengenai apa yang ada di dalam pikiranmu. Kau tidak dapat mengontrol dirimu. Semua pengalaman yang telah kau lewati bersama dirimu seakan tidak mengajarkanmu apa-apa. Kau tidak mengerti dirimu sendiri. Semua pengetahuan tentang dirimu yang kau rasa pernah kau dapatkan menghilang begitu saja. Tidak berbekas.

Ketika kau mengalami masa seperti itu, kau menjadi sangat dungu. Kau dikendalikan oleh dirimu. Semua yang telah kau rencanakan tidak dapat terlaksana. Dirimu mengacaukan semuanya. Kau sadar akan hal itu, tapi kau tidak dapat melakukan apapun. Kau hanya berjalan mengikuti dirimu. Kau dikendalikan olehnya.

Segala pikiran yang selama ini ada di dalam kepalamu tentang dirinya berganti dengan pikiran dirimu. Kau menjadi manusia yang munafik. Bukan atas kehendakmu, memang, tapi kau sadar akan hal itu tetapi kau tidak berbuat sesuatu. Kau membiarkan dirimu menjadi seorang yang munafik. Seorang yang kau benci.

Tanpa sadar telah tumbuh perasaan iri dalam dirimu. Pada siapa? Kaupun tidak tahu. Pada dia? Teman dekatnya? Masa lalunya? Atau siapa?

Selalu saja kau berpikir suatu saat kau akan kehilangan dirinya. Seseorang akan datang dalam kehidupannya. Mengambilnya dari kehidupanmu. Hidup bersama. Sedang kau, akan selalu menunggu dirinya. Selalu kau akan dapat melakukan semua yang dia inginkan. Kau akan wujudkan semua cita-citanya, walaupun kau sadar kau melakukan itu semua tanpa dia. Kau akan hidup di dalam kehidupan yang selalu dia inginkan. Sebuah rumah yang nyaman untuk tinggal bersama keluarga. Sebuah taman di belakang rumah dengan aliran air yang selalu membuat suasana nyaman dan menjadikannya tempat yang tepat untuk bermesraan. Sebuah mobil sederhana yang cukup besar untuk membawa semua anggota keluarga berkeliling mengunjungi tempat-tempat yang selama ini kalian ingin kunjungi. Sebuah kehidupan yang akan selalu membuatnya terbuai dalam kebahagiaan. Kau akan selalu menjadi seorang yang dapat mewujudkan semua yang dia inginkan.

Namun, kau tidak pernah sadar. Kau membayangkan itu semua hanya untuk memuaskan egomu. Kau merasa kau dapat melakukan semua yang dia inginkan. Yang sebenarnya, itu semua hanya membuktikan betapa egoisnya dirimu. Kau merasa dapat hidup bahagia tanpa dirinya. Kau bahagia walau hanya dengan bayang kehidupan yang dia inginkan. Kau hidup dalam kehidupan yang dia inginkan. Kau bahagia dalam cita-cita yang dia miliki. Kau tak pernah sadar kalau sebenarnya kau tidak akan pernah dapat melakukan hal itu. Kau tidak akan pernah dapat hidup tanpa dirinya. Kau tidak akan pernah bahagia tanpa dia. Kau sangat membutuhkannya. Bukan hanya bayang, cita-cita, kasih sayang, harapan, atau apapun yang ada di dalam dirinya. Yang kau butuhkan adalah dirinya. Dia seutuhnya. Seluruh yang ada dalam dirinya. Kau sangat bergantung padanya. Hidupmu ada dalam genggamannya. Kebahagianmu hanya bersamanya.

Kau selalu melanjutkan khayalanmu tentang ketidaksempurnaan seseorang yang hidup bersamanya. Ketidakberhasilan orang tersebut untuk membahagiakannya. Hanya kau yang dapat melakukannya. Hanya kau yang sempurna. Kau selalu berpikir bahwa hanya kaulah satu-satunya yang sempurna. Hanya kau yang dapat membahagiakannya. Hanya bersamamu dia akan bahagia.

Kau sendiri tidak pernah sadar siapa dirimu sebenarnya. Ya, kau memang tidak pernah sadar tentang dirimu. Kau tidak pernah sadar kalau dirimu jauh sekali dari sempurna. Kau tidak pernah sadar kalau mungkin kau tidak akan dapat membahagiakannya. Kau tidak dapat mewujudkan semua hal yang dia ingikan. Kau tidak dapat memberikan semua yang dapat membuatnya bahagia. Kau tidak mampu untuk membahagiakannya.

Kau mengelabui dirimu. Kau menutupi semua kekuranganmu. Kau berpikir kau adalah seseorang yang lain. Seseorang yang sangat berbeda dengan dirimu. Kau tidak pernah dapat menerima keadaan yang sebenarnya tentang dirimu. Kau bukanlah apa-apa.

Khayalan yang ada di dalam pikiranmu menunjukkan betapa lemahnya dirimu. Semua khayalanmu tentang masa depanmu, masa depan dia, dan tentang apapun semakin menunjukkan ketidakmampuanmu. Kau hanya dapat berkhayal. Kau sempurna dalam khayalan dirimu. Kau sempurna dalam bayanganmu sendiri. Sempurna dalam bayang-bayang yang kau ciptakan.

Dia pernah bercerita tentang masa lalunya padamu. Dia ceritakan semua yang telah dia lakukan ketika dia bersekolah. Tentang teman-temannya di masa itu. Tentang kisah kisah cinta yang pernah dia jalani. Tentang semua pengorbanan yang pernah dia lakukan ketika dia menyukai seseorang. Tentang orang-orang yang tidak pernah kau kenal.

Dia tersenyum bahagia ketika menceritakan itu semua. Wajahnya terlihat berbinar ketika bercerita padamu. Dia tidak dapat berbohong kalau dia bahagia ketika itu. Kau juga bahagia. Kau bahagia ketika mendengar dia bercerita. Kau bahagia mendengar semua kisahnya. Perasaanmu menjadi sama dengan perasaan yang dia alami. Kalian bahagia.

Tidak ada rasa iri di dalam hatimu. Kau tidak cemburu dengan masa lalu yang telah dia lewati. Kau sungguh-sungguh bahagia. Kau berbahagia karena dia. Kau berbahagia untuk dia.

Tapi kau tidak dapat mempertahankan perasaan itu untuk selamanya. Kau tidak dapat menolak untuk dikendalikan oleh dirimu. Sisi lain dari dirimu muncul dan mengendalikanmu. Kau mengikutinya. Kembali kau tidak dapat melakukan apa-apa.

Di saat yang lain, kau teringat ketika dia bercerita tentang masa lalunya padamu. Kau teringat kembali perasaan bahagia yang timbul saat itu. Kau merasakan lagi perasaan bahagia yang kalian rasakan ketika itu. Kau tidak ingin perasaan itu hilang. Terutama untuknya. Kau tidak ingin dia kehilangan perasaan bahagia yang dia rasakan. Kau ingin dia selalu berbahagia.

Kau lalu berpikir. Berpikir tentang kebahagiaan untuk dia. Perasaan bahagia untuk seseorang yang sangat kau kasihi. Perasaan bahagia yang tidak akan pernah hilang dari dirinya. Kau ingin dia selalu bahagia.

Kau berpikir kau tidak akan dapat melakukannya. Kau tidak akan dapat mempertahankan perasaan bahagia untuknya. Kau tidak mampu untuk selalu membuatnya bahagia. Dirimu mengendalikanmu untuk terus berpikir kau tidak mampu melakukannya. Dirimu terus meyakinkanmu bahwa bukan kau yang dapat membahagiakannya setiap saat.

Pada kenyataannya, kau memang selalu merasa bahagia ketika dia bahagia. Dia tidak perlu melakukan sesuatu yang dapat membuatmu bahagia. Dia hanya perlu membahagiakan dirinya, dengan demikian kau pun merasakan bahagia. Kau tidak menuntut banyak dari dia. Kau hanya ingin dia bahagia.

Dirimu terus memaksamu berpikir bahwa kau tidak mampu membahagiakannya. Memaksamu untuk terus berpikir kalau kau hanya memerlukan dia untuk terus bahagia. Dan bukan kau yang mampu melakukannya. Kau cukup mengetahui dia bahagia dan kau akan menjadi bahagia karenanya. Dirimu terus dan terus menekan pikiranmu. Tanpa sadar kau telah berada pada posisi yang tidak memungkinkan untuk mencari jalan lain. Kau tidak dapat melakukan pemberontakkan pada dirimu. Pikiranmu telah benar-benar diarahkan olehnya.

Pada saat seperti itu, sifat lamamu muncul kembali. Sifat pahlawan yang selalu membuatmu bangga terhadap dirimu di masa lalu. Sifat yang hanya membuatmu hidup dengan duniamu. Kau tidak membiarkan orang lain masuk ke dalam duniamu. Kepahlawananmu menolaknya. Kau tidak perlu siapapun. Kau cukup berbahagia dengan duniamu. Kau cukup bahagia dengan mengetahui orang-orang yang kau sayangi merasakan kebahagiaan. Kau tidak perlu ikut dalam dunia mereka. Kau membuat dinding yang sangat panjang dan tinggi yang tidak dapat ditembus oleh siapapun.

Sifat kepahlawanan yang hanya membuatmu menyesal ketika kau meninggalkannya. Kau hanya menutup-nutupi kesendirianmu. Kepahlawanan yang kau miliki membutakan kesendirianmu. Dia membahagiakanmu dalam dunia yang semu. Dan kau tidak sadar ketika itu. Kau terus terbuai dalam kesemuan yang diciptakan kepahlawananmu.

Kau tentu tidak lupa dengan seseorang yang kau sangat sukai ketika kau sekolah. Dia satu kelas denganmu. Kau tidak peduli walaupun pada saat itu kau sudah memiliki kekasih, tetapi kau tetap menyukainya. Kau menyukainya melebih perasaanmu pada kekasihmu.

Setiap kali kau mendapatkan kesempatan, kau selalu memperhatikannya. Kau bahagia ketika melihat orang yang kau sukai. Ketika guru sedang menerangkan pelajaran. Ketika teman sebelahmu sibuk mencatat penjelasan guru. Ketika dia sibuk membuat catatan. Ketika dia tidak sadar ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Kau selalu memperhatikannya. Pandanganmu tidak dapat menolak untuk terus terarah padanya. Dan kau selalu berpura-pura melakukan sesuatu ketika teman sebelahmu sadar dengan perbuatanmu. Kau tidak pernah mengaku kepada teman-temanmu kalau kau benar-benar suka pada dia.

Suatu saat ketika kau benar-benar meyakinkan dirimu. Kau ingin memberitahunya tentang perasaanmu pada dia. Kau ingin dia tahu tentang perasaan yang kau rasakan. Kau tidak ingin dia menjadi kekasihmu. Cukup dengan dia tahu tentang perasaan yang kau miliki.

Namun ketika tekadmu sudah bulat, kau mendengar temanmu juga memiliki perasaan yang sama denganmu terhadap dia. Keyakinan yang kau miliki menjadi hilang. Kau tidak jadi melakukannya. Kau mengurungkan niatmu.

Kau merasa kalau temanmu lebih dapat membuat dia bahagia. Kepahlawananmu muncul dan mengendalikanmu.

Dan kini, kepahlawananmu muncul kembali. Kau berniat untuk keluar dari kehidupannya. Kau merasa kalau kau tidak dapat membahagiakan kekasihmu. Kau akan kembali membangun tembok yang sangat kuat yang akan membatasi duniamu dengan dunia yang lain.

Kau takut tidak dapat membuat dia bahagia seperti perasaan bahagia yang dia rasakan ketika dia bercerita padamu. Kau takut dengan itu. Kau tidak merasa iri dengan masa lalunya. Kau tidak cemburu dengan kekasihnya di masa lalu yang tetap mampu membuatnya bahagia hanya dengan bercerita tentang masa yang dia lewati bersama mereka.

Kau merasa kalau kali ini kau dapat melakukan hal yang sama dengan ketika kau masih sekolah. Kau merasa dapat mengulangi masa-masa itu. Kau berniat untuk kembali hidup dalam duniamu. Kau tidak sadar tentang betapa pentingnya dia untukmu. Kau hanya berpikir tentang dirimu. Tentang perasaan ketidakmampuanmu. Kau hanya mementingkan egomu.

25 Oktober 2006

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s