Mimpi Indah

“Selamat tidur, sayang,” ucap Ibu sambil mengecup pipi Indah.

Indah hanya membalasnya dengan senyuman. Ibu lalu membenarkan selimut hingga menutupi seluruh tubuh Indah. Setelah itu, Ibu berjalan ke arah pintu, mematikan lampu kamar, lalu menutup pintu. Indah sekarang sendiri di dalam ruangan. Kamar menjadi gelap, tapi di langit-langit kamar terdapat bintang-bintang yang bersinar dalam kegelapan.

Mata Indah tertuju pada bintang-bintang di langit-langit kamar. Beberapa lama dia pandangi bintang-bintang itu. Seperti langit yang sesungguhnya di malam hari, bintang-bintang itu bersinar. Tapi sayang, di luar sedang hujan, jadi tidak ada bintang yang terlihat.

Bintang-bintang di langit-langit itu mengeluarkan warna hijau kemilau. Indah menikmatinya hingga dia terlelap.

Dalam tidurnya, Indah memimpikan bintang-bintang itu. Tapi, bukan bintang-bintang yang ada di langit-langit kamarnya. Indah memimpikan dirinya berada di angkasa, bersama dengan bintang-bintang.

Bintang-bintang itu jumlahnya tak terhingga. Mereka terhampar di langit. Ada yang besar, ada yang kecil. Semuanya memancarkan cahaya. Ada yang sangat terang, ada yang redup, ada pula yang berkedep-kedip memancarkan warna biru dan merah secara bergantian.

Indah melayang-layang di antara bintang-bintang itu. Tubuh Indah melayang-layang. Indah seperti kapas yang diterbangkan oleh angin. Hanya saja, dia mampu mengendalikan ke mana arah yang dia inginkan.

Dia hampiri bintang-bintang yang ada di dekatnya. Satu per satu, bintang-bintang itu diperhatikannya. Mereka sangat terang, begitu indah. Dia meraba bintang-bintang itu dengan tangannya. Ingin rasanya mengambil beberapa bintang yang ada di angkasa untuk dibawanya pulang, dipasang di langit-langit kamarnya untuk menemani bintang-bintang berwarna hijau kemilau.

Namun kemudian, Indah mendengar sebuah suara yang sangat merdu. Suara itu menyanyikan sebuah lagu. Sebuah lagu yang sangat sedap didengar oleh telinganya. Indah pun coba mencari asal suara itu. Ternyata, suara itu berasal dari bulan. Bulan tidak terlihat bulat malam itu. Bentuknya seperti sabit. Dan di antara ceruk bulan yang berbentuk sabit itu, terdapat seorang wanita cantik yang sedang duduk. Kedua tangannya bergerak-gerak di antara ceruk. Indah pun melayang semakin mendekati sosok wanita itu.

Saat tiba di dekat sosok itu, Indah baru sadar kalau ternyata kedua tangan wanita itu sedang memainkan senar-senar yang membentang di antara ceruk bulan. Senar-senar itu mengeluarkan suara yang sangat merdu, sama seperti suara yang keluar dari mulut wanita itu. Indah pun melayang semakin mendekat.

Indah akhirnya sampai di hadapan sosok wanita itu. Wanita itu masih tetap bernyanyi sambil memetik senar. Indah pun menyapa wanita itu.

“Halo. Saya Indah. Kamu siapa?”

Mendengar itu, wanita itu lalu menghentikan kegiatannya. Dia lalu menatap sosok gadis kecil yang ada di hadapannya. Sambil tersenyum, wanita itu menjawab pertanyaan Indah.

“Halo, Indah. Saya Dewi Malam. Saya yang selalu menemani manusia saat mereka sedang tidur,” jawab wanita itu sambil melambaikan tangannya memberi isyarat agar Indah duduk di sampingnya.

Indah lalu duduk di samping wanita yang menyebut dirinya Dewi Malam itu. Indah memperhatikan sosok wanita yang ada di sampingnya. Dia memiliki rambut hitam yang sangat panjang. Rambut itu terlihat sangat terawat sehingga sangat sedap dipandang mata. Kedua matanya bulat, hidungnya mancung, kulitnya putih cemerlang. Wanita itu sangat cantik. Mungkin karena kecantikannya bintang-bintang rela selalu menemaninya di malam yang gelap setiap harinya, begitu pikir Indah.

“Dewi Malam, apa kau bernyanyi sepanjang malam?” tanya Indah agak ragu.

Dewi Malam tersenyum mendengar pertanyaan. Lalu, sambil mengusap rambut Indah, Dewi Malam menjawab, “Iya. Aku selalu bernyanyi setiap malam, sejak matahari terbenam hingga matahari terbit.”

“Apa kau tidak lelah bernyanyi selama itu sepanjang malam?” tanya Indah lagi.

“Lelah? Tentu. Bernyanyi sepanjang malam menguras tenaga. Tapi, aku senang melakukannya. Aku senang melihat orang-orang yang terlelap dalam tidurnya karena mendengar nyanyianku.”

Indah hanya mengangguk mendengar jawaban itu.

“Tapi, saat hujan, apa kau masih tetap bernyanyi?” Indah kembali memburu dengan pertanyaan.

“Tentu. Walau hujan sedang mengguyur bumi, walau bulan dan bintang tidak terlihat, aku tetap bernyanyi untuk kalian.”

“Indah,” lanjut Dewi Malam, “bukan hanya di bumi saja yang bisa hujan. Di sini pun ada hujan.”

“Hah?” Indah terkejut mendengarnya.

“Tidak mungkin ada hujan di sini. Ini, kan, ruang angkasa. Tidak ada air di sini,” jelas Indah.

Dewi Malam kembali tersenyum. “Hujan di sini berbeda dengan yang ada di bumi. Di sini, hujan yang turun bukan air. Kau mau melihatnya?”

Indah lalu menggelengkan kepalanya.

Dewi Malam lalu menggerakkan tangannya seperti memberi perintah pada sebuah bintang besar yang letaknya tidak jauh dari mereka. Tidak lama kemudian, bintang itu bergerak. Agak cepat bintang itu bergerak melintasi Dewi Malam dan Indah. Saat bergerak, bintang itu mengeluarkan sesuatu yang bercahaya. Seperti rintik hujan yang biasa Indah lihat, hanya saja rintik-rintik ini mengeluarkan cahaya. Indah menengadahkan tangannya saat bintang itu melintas di atasnya. Rintik-rintik itu jauh di telapak tangannya. Sangat kecil, seperti debu.

“Kau percaya sekarang?” Dewi Malam bertanya.

Indah kembali menggelengkan kepalanya.

“Hujan di sini sangat indah. Aku ingin tinggal di sini,” ucap Indah.

“Tidak. Tempatmu di bumi. Kau tidak boleh tinggal di sini, gadis cantik. Lihat, sebentar lagi matahari akan terbit. Sebaiknya kau kembali sekarang,” ujar Dewi Malam.

Indah agak enggan untuk pergi. Dia sangat ingin terus di situ. Masih belum puas rasanya menikmati keindahan yang ada di angkasa.

“Gadis cantik, pulanglah. Orangtuamu sebentar lagi akan datang ke kamarmu untuk membangunkanmu. Kau bisa kapan saja berkunjung ke sini. Kau hanya perlu memejamkan matamu dan mimpimu akan membawamu ke sini. Lagipula, setiap malam aku akan selalu bernyanyi untukmu,” Dewi Malam coba merayu Indah.

“Janji?”

“Iya. Aku berjanji. Sekarang, kembalilah ke kamarmu,” ujar Dewi Malam.

Indah pun mulai berdiri. Tubuhnya kembali melayang. Dia melambaikan tangannya kepada Dewi Malam sebagai tanda perpisahan.

“Sampai jumpa, Dewi Malam,” teriak Indah.

“Sampai jumpa juga, Indah,” balas Dewi Malam.

Tak berapa kemudian, Indah mendengar sebuah suara yang sudah sangat dikenalnya.

“Indah, bangun. Hari sudah pagi. Ayo bangun, lalu mandi dan sarapan,” ucap Ibu.

Indah pun membuka matanya. Wajahnya sangat bahagia. Dia langsung memperhatikan bintang-bintang yang ada di kamarnya lalu pergi ke jendela kamarnya dan melihat langit. Tak sabar hatinya untuk menunggu malam nanti.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s