Dia (2)

Terlalu naif jika ini dibilang cinta. Ini hanya sebuah kekaguman. Seseorang yang hanya bisa melihat, memandang, dan memperhatikan di setiap ada kesempatan. Menganguminya melalui pandangan, tanpa ada kata yang pernah terucap. Tidak, kata tidak dilibatkan di sini. Kata tidak pernah tercipta. Kata tidak pernah terucap. Kata hanya ada di dalam angan. Atau mungkin, tidak pernah ada keberanian untuk memikirkan kata yang tepat untuk mengungkapkannya. Terlalu takut untuk mengungkapkan kekaguman ini dalam susunan kata. Biarkan saja seperti ini. Tidak perlu bersusah payah memikirkan kata untuk dapat mengungkapkannya. Dia bukanlah kata. Dia adalah kekaguman. Biarkan mulut ini tetap terkatup. Tak usah berusaha membukanya. Cukup tariknya perlahan ke samping. Buatlah sebuah simpul senyum kecil saat mata mengungkapkan segalanya. Biarkan hari berganti dalam kesunyian. Tak perlu mencemarinya dengan perkataan yang tak perlu. Malam berlalu dalam hening, biarkan dia yang mengisi keheningan itu.

Terlalu munafik jika ini dibilang cinta. Saat menatapnya, hanya ada diam. Tapi di dalam kepala, berbagai hal melintas. Mereka seperti muncul begitu saja. Seperti sekelompok pasukan yang berlari kencang sambil berteriak lantang ke medan perang. Tidak ada yang bisa menghentikannya. Sekuat apapun berusaha, sekeras apapun untuk menjaga kemurniannya, pikiran ini terus saja menghantam. Akulah sang manusia. Anak seorang yang dibuang karena dosa. Itu begitu melekat di tubuh, pikiran, jiwa, dan seluruh hidupku. Akulah dosa. Akulah pikiran-pikiran yang membuat tubuh ini terbuang ke dunia. Terlalu lemah untuk bertahan dan terus terhempas, terbawa arus pikiran.

Di luar, malam pekat dengan keheningan. Sesekali binatang-binatang malam menunjukkan eksistensinya. Angin bertiup tidak terlalu kencang. Ranting-ranting pohon bergoyang perlahan membelai perlahan dinding serta atap rumah, mengisi keheningan dengan bisikan.

Di dalam, ada serbuan yang sangat hebat. Berkecamuk. Di hati dan pikiran. Genderang perang sudah ditabuh. Pasukan berderap maju. Sementara, pertahanan yang dibangun tidak terlalu kuat. Berusaha sekuat apapun tak mungkin menghadang perang yang entah bagaimana terjadi. Berulang. Terus. Tiap malam.

Terlalu meremehkan, mungkin, jika ini disebut cinta. Tidak ada hasrat untuk memiliki. Benar memang ada perang di sini. Tapi tidak ada rasa untuk memiliki. Dia begitu jauh di sana. Tak mungkin untuk bahkan membelainya. Tangan ini terlalu pendek untuk meraihnya. Hanya mata yang mampu menjangkaunya.

Dia, duduk sendiri di sana. Memamerkan senyumnya. Tatapan matanya begitu penuh dengan percaya diri. Dialah sang pujaan. Hanya untuk dipuja.

Entahlah, jika harus menemukan kata yang tepat untuk mengungkapkannya, aku rasa akalku tak mampu. Aku terlalu bodoh untuk bisa mengerti. Otakku telah dilemahkan oleh perang yang terus berkecamuk. Aku menjadi terlalu lelah untuk bisa memikirkan kata yang tepat. Aku menyerah. Kalah.

Sekali lagi, hanya mata yang mampu. Biarkan mataku yang mengungkapkan segalanya. Karena hanya dia yang mampu menjangkaunya. Hanya mataku yang mampu menerjemahkan semua yang terjadi. Biarlah mata, dalam keheningannya, menjelaskan semuanya.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s