Icon, Ikon, Aikon, atau…

Akhir tahun datang. Seperti tahun-tahun sebelumnya, ini artinya serangan film-film menarik yang ditayangkan di stasiun televisi nasional. Dan sebagai penggemar tayangan gratis, ini tentunya kesempatan yang tidak mungkin dilewatkan.

Kebetulan, pada suatu malam, TransTV menayangkan Spiderman 3. Sudah beberapa kali memang menonton film ini, tapi karena tidak ada tayangan lain yang lebih menarik, akhirnya tetap setia dengan tayangan tersebut.

Karena sudah beberapa kali menonton, perhatian kadang dialihkan pada hal lain. Hingga suatu saat, ada hal yang menarik. Pada salah satu scene, ada dialog yang menyebutkan kata icon. Dalam terjemahannya, stasiun televisi tersebut mengalihbahasakan kata itu sebagai aikon. Hmmm… bukankah biasanya lebih sering digunakan ikon sebagai bentuk pengindonesiaan dari icon, tapi kenapa TransTV memilih menggunakan aikon?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, terdapat lema ikon – yang menunjukkan lema ini memang sering dan sudah wajar digunakan oleh masyarakat bahasa Indonesia. Lema tersebut mendapat penjelasan “lukisan, gambar, gambaran pada panel kayu yang digunakan dalam kebaktian gereja Kristen Ortodoks”. Penjelasan tersebut hampir sama dengan dengan keterangan icon menurut http://www.merriam-webster.com, “a conventional religious image typically painted on a small wooden panel and used in the devotions of Eastern Christians”.

Merunut etimologi, mbah kata ini berasal dari Yunani, éikon. Kata tersebut memiliki arti “kemiripan, citra”. Penggunaan kata ini merujuk pada lukisan seseorang santo atau orang suci di gereja yang disakralkan. Dalam perkembangannya, menurut Dadang Rusbiantoro (Generasi MTV, 5:2008), kata ini telah mengalami pergeseran, dari istilah yang biasanya digunakan untuk kepentingan religius menjadi sesuatu yang berbau populer.

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah masyarakat bahasa Indonesia mendapatkan kata itu dari mana, dari sumber utama (Yunani, éikon) atau melalui perantara (Inggris, icon)? Masalah asal ini turut menentukan bagaimana seharusnya bentuk kata ini dalam bahasa Indonesia.

Pengaruh bahasa Yunani pada bahasa Indonesia memang cukup banyak. Sekadar contoh, berikut beberapa kosa kata dalam bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Yunani: kharisma (kharisma), skandal (skandalon), dan idola (eidolon). Sedang, untuk pengaruh bahasa Inggris terhadap bahasa Indonesia kiranya sudah tidak perlu diberi contoh.

Jujur, agak sulit untuk menentukan bahasa mana yang menjadi sumber kata tersebut. Tapi, jika merunut arti dan menyesuaikannya dengan penggunaan kata tersebut pada saat ini, kemungkin besar kata tersebut kita ambil dari sumbernya langsung, éikon. Itulah kemungkinan yang paling besar, setidaknya sampai titik ini.

Pengindonesiaan
Ada beberapa langkah yang bisa ditempuh untuk mengindonesiakan sebuah kata yang berasal dari bahasa asing. Berikut senarainya:
1. dipadankan dengan kosa kata yang sudah ada dalam bahasa Indonesia;
2. dipadankan dengan kosa kata dari bahasa yang serumpun dengan bahasa Indonesia, bahasa Melayu termasuk dalam kelompok ini;
3. dipadankan dengan kosa kata dari bahasa daerah yang ada di Indonesia, seperti bahasa Jawa, Sunda, Bali, dll; dan
4. menyerapnya menjadi bahasa Indonesia.

Untuk langkah keempat, masih terbagi menjadi beberapa cara – urutan menunjukkan skala prioritas.
a. Tanpa penyesuaian ejaan. Misal monitor – monitor.
b. Melalui penyesuaian ejaan. Misal computer – komputer.
c. Melalui penyesuaian lafal. Misal design – desain.
d. Melalui penyesuaian ejaan dan lafal. Misal management – manajemen.
e. Melalui penambahan vokal pada akhir kata yang hanya berupa satu suku kata, sekaligus dengan penyesuaian ejaan. Misal fact – fakta.

Dari senarai itu, anggaplah langkah 1 sampai 3 sudah dilakukan, dan karena berbagai alasan (terutama karena malas), tidak ditemukan padanan yang pas untuk éikon. Karenanya, satu-satunya langkah yang mungkin dilakukan adalah menyerapnya menjadi bahasa Indonesia (langkah 4).

Lalu, sampailah pada pertanyaan berikutnya, kenapa éikon bisa menjadi ikon? Jawabannya mudah, karena sesuai dengan poin b langkah 4, penyesuaian ejaan. /ei/ berubah menjadi \i\. Tapi, kenapa langsung menggunakan poin b, sementara masih ada poin a – yang sebenarnya sangat mungkin diaplikasikan untuk kasus ini.

Diftong \ei\ bukanlah sesuatu yang asing bagi bahasa Indonesia, termasuk yang terletak di depan kata. Memang, struktur VV bukanlah struktur asli bahasa Indonesia, tapi kehadirannya sudah biasa dan lumrah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ditemukan tiga lema yang menempatkan diftong ini di depan kata, eidetik, eigendom, dan eikosan. Jika ingin setia pada langkah yang sudah ditetapkan mengenai pengindonesiaan kata asing, seharusnya kata itu dalam bahasa Indonesia menjadi eikon.

Atau, ada kemungkinan lain. Kemungkin untuk menggugurkan kesimpulan yang sudah diambil sebelumnya, bahwa masyarakat bahasa Indonesia tidak mendapatkan kata itu langsung dari bahasa Yunani melainkan melalui perantara, bahasa Inggris.

Namun, kemungkinan ini menghadapi permasalahan yang tidak kalah rumit dibandingkan kasus yang pertama. Memang, dalam aturan yang dikeluarkan oleh Pusat Bahasa, kata asing yang menggunakan “c” saat diindonesiakan menjadi “k”. Karenananya, icon menjadi ikon. Sebagai contoh, bentuk yang diindonesiakan dengan cara seperti ini adalah computer menjadi komputer. Computer dilafalkan \kəm-ˈpyü-tər\. Dari situ, terlihat bahwa “c” dilafalkan sebagai \k\, hal yang sama pun terjadi pada icon yang \ˈī-ˌkän\. Tidak ada masalah untuk itu, tapi tidak dengan vokal yang ada di depan. Dalam pelafalannya, \ˈī-ˌ\ terdengar seperti diftong \ei\ dan \ä\ sangat dekat dengan \o\. Yang akhirnya, pengindonesiaanya menjadi eikon. Hmm… kok, ujung-ujungnya ke situ lagi, ya…? Lalu, bagaimana bisa “ikon” yang lebih sering digunakan dan dianggap sebagai pengindonesiaan yang benar? Dan lagi, kenapa bisa TransTV menggunakan aikon?

Buka-buka kamus, akhirnya mendapatkan sesuatu. Dalam Kamus Kata-Kata Serapan Asing dalam Bahasa Indonesia, J.S. Badudu membedakan lema eikon dengan ikon. Eikon mendapat penjelasan “patung”, sedang ikon sebagai “patung, lukisan, gambar pada panel kayu yang digunakan dalam kebaktian gejera Kristen Ortodoks”. Hmm… Kok, semakin pusing, ya? Sudah, ah. Giliran saya untuk pusing sudah selesai. Sekarang, silakan Anda meneruskan kepusingan ini dan coba mencari jawabannya. Saya mau kembali ke depan televisi. Duduk manis sambil menunggu Spiderman 4 ditayangkan di TransTV.

Tangerang
26 Desember 2010

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s