Ubud-Denpasar-Kuta 18 12 2010

Sabtu pagi. Matahari belum sepenuhnya menguasai pagi. Embun masih mengambang di atas permukaan tanah. Suasana tenang menyelimuti. Di sebuah persimpangan, kami menghentikan laju mobil. Menanyakan arah sebuah tempat yang ingin kami tuju pada orang-orang yang sedang duduk-duduk santai di sebuah warung, sementara beberapa orang pria melintasi kami. Ada yang berjalan kaki, ada yang mengendarai sepeda motor, ada pula yang menggunakan mobil. Udeng, kain kampuh, umpal, dan kain wastra melekat di tubuh mereka. Tak ketinggalan beberapa ekor ayam jago dalam sangkar. Menurut orang-orang yang duduk santai di depan warung, pria-pria itu akan pergi ke pura untuk melakukan sabung ayam.

Sabung ayam dan masyarakat Bali memang dua hal yang sulit untuk dipisahkan. Terlebih lagi, hari ini merupakan perayaan Hari Raya Kuningan. Dan dalam sebuah hari raya, sabung ayam merupakan salah satu bagian di dalamnya.

Jika pada hari-hari biasanya sabung ayam dilakukan secara diam-diam, pada perayaan hari raya seperti ini, masyarakat dapat melakukan sabung ayam secara terbuka. Di pura, mereka menggelar sebuah pesta perayaan.

Menurut rencana, pagi ini kami ingin memotret upacara Hari Raya Kuningan di sebuah pura. Kami berencana memotret kegiatan masyarakat yang sedang bersembahyang di sebuah pura yang terletak di antara hamparan sawah. Karenanya, sejak dini hari tadi, mobil kami pacu ke daerah Ubud. Hanya saja, karena minimnya informasi dan pengetahuan yang kami miliki tentang perayaan hari besar itu, kami tidak mendapatkan yang kami inginkan. Pada pagi di sebuah perayaan hari besar, kami yang mayoritas beragama Islam, menganggap para pemeluk agama Hindu akan melakukan sembahyang secara bersama-sama di pura. Tapi, tidak. Kami salah. Pagi hari itu, para penganut agama Hindu melakukan sembahyang di rumah. Kegiatan kerohanian mereka hari itu berpusat di rumah.

Gagal menemukan yang dicari, kami pun memutuskan berbalik arah dan mengikuti pria-pria yang membawa sangkar ayam. Memasuki sebuah pedesaan, kami melintasi sebuah jembatan kecil – yang di salah satu sisinya, yang berupa tebing, mengalir tiga buah air terjun kecil dan aliran airnya melintasi jembatan kecil itu. Embun semakin tebal saat kami semakin jauh masuk ke pedesaan itu. Dan setelah sekitar 20-30 menit, kami akhirnya sampai di sebuah pura. Banjar Keliatan, Kelusa Payangan, Ubud, Bali.

Para polisi adat berjaga di jalan masuk ke pura. Ada yang mengambil uang-masuk dan ada pula yang melakukan pemberkatan pada setiap orang yang akan masuk ke pura. Berjalan melintasi polisi adat itu, ada seorang ibu yang menegur kami. Melihat kami yang tidak menggunakan pakaian adat serta dua orang di antara kami mengalungkan kamera di leher mereka, ibu tersebut memberi tahu bahwa kami tidak bisa masuk ke pura jika tidak mengenakan pakaian adat. Si ibu langsung menawarkan pakaian adat milik suaminya pada kami. Setelah melakukan sembahyang di sebuah pura kecil, si ibu pun mengajak dua orang teman kami ke rumahnya.

Dan, tidak lama kemudian, kedua teman kami itu sudah kembali bergabung dengan rombongan. Tubuh mereka kini sudah dibalut dengan pakaian adat.

Sampai di depan pura, kami melihat kumpulan orang yang berdesak-desakkan. Bagian halaman pura penuh dengan kerumunan orang. Entah berapa jumlah pastinya, bisa ratusan atau mungkin ribuan orang. Di antara kerumanan, ada beberapa ruang kosong yang tiba-tiba tercipta. Di ruang kosong tersebut, dua ekor ayam sedang bertarung – lengkap dengan sebuah pisau kecil yang diikatkan dengan benang berwarna merah di salah satu kakinya.

Sabung ayam belangsung di sana-sini. Tidak perlu waktu lama. Cukup dengan sedikit pembicaraan dan pengukuran kondisi ayam. Jika kedua pihak sama-sama setuju, sabung ayam pun berlangsung. Pertarungan pun berlangsung tidak lama. Hanya sekitar tiga sampai lima menit. Dalam suatu serangan yang mematikan, saat seekor ayam melompat ke arah lawannya dan menikamnya dengan kaki, pisau kecil yang sudah terpasang di kaki ayam langsung merobek tubuh sang lawan. Tak lama, musuh pun tumbang. Darah mengucur membasahi tanah. Seorang pria lalu mengambil ayam yang sudah tak berdaya itu. Untuk mengambil pisau kecil yang terpasang di kaki, bukannya membuka ikatan benang merah, pria itu memotong kedua kaki ayam. Potongan kedua kaki lalu diserahkan kepada pemilik ayam. Sang pemilik lalu melepaskan pisau kecil itu dari potongan kaki ayam. Setelah berhasil melepaskannya, pisau kecil itu lalu disimpan di sebuah kotak kayu berukuran seperti kotak kaca mata. Sementara, pria yang memotong kaki ayam tadi mengambil beberapa helai bulu dari bagian leher dan sayap ayam. Setelah itu, ayam yang bagian tubuhnya tak lagi utuh diserahkan kepada sang pemilik.

Sang pemenang terlihat senang, sedang yang kalah tak berarti menjadi pecundang. Ini bukan sekadar pertarungan untuk menjadi pemenang. Ini adalah sebuah upacara persembahan. Darah ayam yang mengalir adalah persembahannya. Tak jarang, kedua ayam yang bertarung sama-sama jatuh terkapar. Darah mengalir dari tubuh mereka.

Pada bagian pura yang lebih dalam, orang-orang yang menyabung ayam berbagi ruang dengan antrian masyarakat yang ingin bersembahyang di bagian paling dalam pura ini, bagian ketiga. Walau jumlahnya tidak sebanyak para penyabung di halaman, suasana di sini tidak kalah ramai. Bahkan, menurut kesimpulan dari penglihatan kami, para penyabung di bagian ini berada di kelas lebih tinggi dibanding penyabung di halaman pura. Ayam-ayam di sini berukuran lebih besar dibanding yang bertarung di bagian halaman.

Di luar, suasana tidak kalah meriah. Orang-orang berlalu lalang di sekitar pura. Ada pula yang duduk santai di warung-warung nasi yang berjajar di sepanjang jalan, dengan seekor babi guling dipajang di tengah meja. Tak luput penjual beragam mainan. Di ujung jalan, berdiri sebuah bangunan terbuka. Ukurannya tidak terlalu besar. Bangunan itu merupakan tempat praktik seorang dokter yang bertugas di desa itu. Saat kami melintasinya, seorang pria paruh baya sedang dirawat di tempat itu. Kakinya terluka akibat terkena pisau kecil yang dipasang di kaki ayam.

Puas menikmati suasana dan mengambil gambar, kami kembali ke rumah ibu yang meminjamkan pakaian adat pada dua teman kami. Setelah berkenalan, ternyata sang tuan rumah bernama Nyoman Manus. Dia tinggal bersama istri dan seorang anak. Ayah Pak Nyoman dulunya seorang ketua adat di banjar tersebut.

Mengobrol dengan Pak Nyoman, kami merasakan keramahan masyarakat Bali. Dia dengan senang hati menceritakan berbagai hal yang kami tanyakan. Mulai dari sejarah awal munculnya Gunung Agung di Bali dan hubungannnya dengan Panembahan Senopati sampai acara sabung ayam yang baru saja kami saksikan. Sementara, saat asyik mengobrol, istri Pak Nyoman menghidangkan secangkir kopi bali. Ah….

“Mereka sudah datang dari jam 4 pagi tadi,” ujar Pak Nyoman dengan dialek Bali yang khas mengenai para penyabung ayam di pura yang tadi kami lihat. Sebagian besar dari mereka tidak berasal dari banjar setempat. Mereka berasal dari banjar-banjar sekitar yang memang sengaja datang ke pura tersebut untuk menyabung ayam. Dan, berdasar informasi dari Pak Nyoman, kemeriahan tersebut akan terus berlangsung selama satu bulan tujuh hari.

Selesai mengobrol, kami pun berpamitan. Dan sekali lagi, kami melakukan kesalahan. Atas dasar rasa tidak enak dan ingin mengucapkan terima kasih atas semua kebaikan yang mereka berikan, kami bermaksud memberikan sejumlah uang – mungkin bisa diumpamakan sebagai uang sewa pakaian adat yang telah mereka pinjamkan. Tapi, reaksi yang kami terima dari tuan rumah di luar yang kami duga. Dia menolak, dengan tegas. “Tidak ada yang seperti itu. Kita sesama manusia harus berbuat baik,” ujar Pak Nyoman dengan nada cukup tinggi. Itu seperti sebuah tamparan di wajah. Kami, orang yang selama ini hidup di sebuah kota metropolitan. Dalam kehidupan sehari-hari, kami terbiasa mengagungkan dan mendahulukan materi. Dan sekarang, di sebuah desa kecil di Ubud, Bali, kami mendapatkan sebuah pelajaran. Materi bukanlah segalanya. Atau setidaknya, tidak semua kebaikan harus dibalas dengan materi. Atau, mungkin kami yang terlalu bodoh untuk bisa mengenali saudara sebangsa(?).

Dalam perjalanan pulang, kami berpapasan dengan orang-orang yang ingin bersembahyang di pura. Pria dan wanita, orang dewasa dan anak-anak. Yang wanita, berjalan dengan membawa setumpuk persembahan di atas kepala mereka. Mereka berjalan menuju pura.

Siang harinya, kami menuju sebuah lapangan di Denpasar. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Matahari bersinar dengan terik. Inilah salah satu yang menjadi magnet turis asing untuk datang ke Bali. Mandi sinar matahari merupakan sebuah kenikmatan tersendiri bagi mereka. Berjemur santai di bibir pantai sambil menghitamkan kulit. Tapi, tidak bagi masyarakat Indonesia.

Dalam kesehariannya, mayoritas di antara mereka, sangat takut untuk bersentuhan dengan terik matahari. “Takut hitam,” begitu alasan yang sering diucapkan. Padahal, nenek moyang bangsa ini berasal dari ras austronesia. Ras yang salah satu cirinya adalah berkulit sawo matang. Tapi sekarang, orang Indonesia seakan ingin menolak takdir itu. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan kulit seputih mungkin dan menjadi bangsa berkulit kuning.

Mungkin, ada pengecualian. Seperti yang diucapkan oleh salah seorang teman, “Masa pulang dari Bali kulit enggak hitam?” Tapi, tetap saja. Ada sebuah ironi dalam ucapan teman tersebut. Masih kental dengan penyanggahan bangsa berkulit sawo matang. Satu-satunya yang melandasi dia untuk tidak takut berjemur di terik matahari adalah karena sedang berada di Bali dan menurutnya tidak lengkap datang ke Bali jika belum membuat kulit menjadi hitam.

Menjelang matahari tenggelam, kami sudah berada di dekat Pantai Kuta. Mungkin, inilah sesi utama yang paling kami nantikan dan menjadi tujuan yang sangat diinginkan saat memutuskan melakukan perjalanan ke Bali: menikmati bir dingin di Pantai Kuta. Agak meleset dari rencana, memang, karena sebenarnya kami merencakan sesi ini dilakukan pada siang hari. Tapi, tak apalah.

Dengan terpaan angin yang cukup kencang, kami duduk berjajar di bibir Pantai Kuta. Masing-masing dari kami memegang sebotol bir dingin. Ombak sore itu cukup besar. Di hadapan kami, matahari mulai menghilang. Lembayung terlukis di langit. Beberapa kali, pesawat terbang yang baru saja lepas landas penghias lukisan tenggelamnya matahari. Botol diangkat dan bir dingin mengalir masuk ke dalam tubuh. Ah….

Inilah saatnya kami melampiaskan segala kepenatan. Setelah melalui perjalanan cukup panjang dan berbagai hal yang kami alami di Pulau Dewata, ini seperti sebuah ‘penyucian diri’. Memang, tidak selama atau semeriah yang dilakukan para penganut Hindu yang merayakan Hari Raya Kuningan. ‘Penyucian diri’ yang kami lakukan hanya sekitar 15 menit dengan sebotol bir dingin ditemani angin, ombak, dan lembayung matahari terbenam. Tapi, itu sudah cukup. Segala kelelahan seperti terbayar tuntas.

Bali telah memberikan banyak hal. Alam, budaya, masyarakatnya. Mungkin semua ini bisa saja kami dapatkan di tempat lain, dan kemungkinan itu sangat tidak tertutup. Tapi karena saat itu kami mengalaminya di Bali, maka tidak berlebihan jika kami menyetujui ungkapan bahwa Bali adalah Pulau Dewata.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s