24112010

Seperti hari sebelumnya, cuaca hari ini tidak terlalu bagus. Hujan dan panas datang silih berganti dalam waktu yang sangat berdekatan. Sungguh sangat tidak bersahabat, terutama bagi para pengendara motor yang malas membawa jas hujan.

Tiba-tiba hujan turun dengan deras. Tidak ada tempat untuk berteduh. Tidak ada jas hujan yang tersimpan di tas ataupun di bagasi di bawah jok motor. Satu-satunya pilihan adalah terus melanjutkan perjalanan dan berharap segera ada tempat untuk berteduh. Dan, akhirnya tempat itu ditemukan.

Sebenarnya, ada beberapa tempat berteduh di pinggir jalan. Tapi, itu hanya teras toko yang tidak seberapa luas dan sudah terisi kerumunan pengendara motor yang sudah lebih cekatan. Walhasil, tempat yang tersisa dan yang paling aman adalah sebuah mal yang kebetulan tidak terlalu jauh.

Namun masalahnya, hujan yang turun cukup deras. Cukup kuat untuk membuat basah pakaian. Dan, bayangkan betapa tidak nyamannya masuk ke sebuah mal dengan pakaian kuyup, sementara orang lain berpakaian sangat rapi. Berusaha untuk tidak peduli, tapi itu sesuatu yang sangat tidak mungkin dilakukan. Pandangan mata orang-orang yang berpapasan atau melirik terasa begitu menghujam. Walau tak tersentuh oleh indra peraba, dia langsung menusuk.

Di saat seperti itu, tempat paling nyaman adalah tetap berada di area parkir, menikmati udara yang sesak oleh asap kendaraan, dan menambahkannya dengan kepulan asap tembakau. Jangan menghujat jika banyak program jangka panjang yang tidak dapat terselesaikan di negara ini. Generasi muda tidak memiliki umur yang cukup panjang untuk dapat merealisasikannya, sebagian besar.

Sampai di kantor, jam makan siang sudah tersantap beberapa menit. Menghisap kembali sebatang rokok dan bergegas ke meja, menyalakan komputer, membuka email, dan mencetak undangan. Tidak sampai 10 menit, sudah siap untuk kembali pergi.

Ada sebuah acara yang harus dihadiri. Dari sejak membaca undangan yang dikirim, sudah terbayang kebosanan yang akan dihadapi. Tapi, ya, namanya juga sudah menjadi tugas. Hadapi saja.

Dan, ya, kebosanan itu terbukti, bahkan melebihi ekspektasi.

Terlalu ribet dengan berbagai aturan protokol, karena acara dihadiri oleh Gubernur dan diadakan di kantor gubernur. Begitulah kelakukan para pejabat di negeri ini. Dari jadwal yang tertera di undangan, acara baru berlangsung satu jam kemudian. Ruang acara berlangsung sangat pengap, terlalu banyak orang di dalamnya. Pendingin udara tak mampu menanggulangi konsumsi oksigen manusia-manusia yang ada di dalamnya.

Acara pun dimulai. Kata sambutan dari pejabat satu lalu dilanjutkan dengan pejabat yang lainnya. Penandatanganan perjanjian. Dan terakhir, kata sambutan dari sang Gubernur.

Dari semua ucapan yang disampaikan, ada satu kalimat yang akhirnya membuat lega bahwa ada pejabat di negeri ini yang bisa bersifat realistis.

Acara ini sendiri merupakan penyerahan kendaraan tenaga listrik lengkap dengan alat untuk mengisi ulang listrik ke kendaraan tersebut. Sebuah teknologi yang sedang gencar dikembangkan di negara-negara maju sebagai salah satu konklusi masalah lingkungan hidup yang berlakangan sangat menyita perhatian.

Satu kalimat realistis yang diucapkan oleh sang Gubernur adalah, “Memang, untuk saat ini, prioritas Jakarta bukanlah untuk mengurangi polusi, tapi pada kemacetan dan banjir.” Realistis, kan?

Dan memang, masih terlalu jauh bagi kita untuk dapat memikirkan permasalahan yang terlalu canggih sementara masalah-masalah yang usianya mencapai beberapa generasi pun belum terselesaikan.

Selesai acara, diputuskan tidak kembali ke kantor. Malas, lagi pula jauh. Dan karena pergi ke tempat acara tanpa menggunakan motor, a.k.a naik taksi, sekarang saatnya menikmati sesuatu yang lain.

Keluar dari Balai Kota, tempat acara, menyalakan sebatang rokok (lagi) dan berjalan menelusuri pedestrian. Ada sesuatu yang berbeda. Ada kenyamanan di sini. Ada perasaan tenang berjalan di sini. Ada pohon-pohon hijau yang memberikan kesejukan. Ada pedestrian yang cukup luas sehingga orang-orang yang melintasinya tidak saling menubrukkan bahu saat bersinggungan. Dan yang pasti, ada keteraturan di sini.

Trotoar dipergunakan sebagaimana mestinya, ya, kecuali adanya beberapa tukang ojek yang coba mencari penumpang – tapi mereka pun masih teratur dalam sebuah barisan yang rapi dan tidak mengganggu pejalan kaki. Tidak ada tukang asongan yang biasanya menjadi penghias di antara pagar besi dan pagar hidup. Atau, yang biasanya paling mengganggu, di sini tidak ada pekerjaan penggalian kabel yang membuat kondisi sangat tidak nyaman – terutama dalam kondisi musim hujan seperti sekarang ini.

Maaf jika terdengar norak, tapi ada saat ketika saya merasa seperti tidak sedang berada di Jakarta. Kenyamanan ini bukan sesuatu yang biasanya Jakarta tawarkan kepada para warganya, ya, terutama yang tinggal di daerah non-pemerintah dan elit seperti di kawasan ini.

Semua sesuai dengan aturan. Berjalan bersama dalam simfoni yang mengalun pelan namun pasti. Terbayang jika seantero kota ini dibuat layaknya kawasan ini. Dengan pedestrian yang sangat memadai. Dengan pepohonan hijau di sisi-sisi jalan. Dengan keteraturan yang selalu terjaga walaupun dia jauh dari perkantoran pemerintah. Dengan itu semua, mungkin Jakarta akan menjadi kota yang lebih baik. Kemacetan pun sepertinya bukan sesuatu yang mustahil untuk diatasi. Jika fasilitas yang disediakan sangat memadai dan pemerintah mampu menjamin keamanan serta kenyamanan, bukan tidak mungkin akan banyak orang yang akan meninggalkan mobilnya di rumah dan memilih untuk menggunakan fasilitas pedestrian. Berjalan bersama kerabat, atau bersepeda santai menikmati suasana kota.

Dengan kesibukan, rutinitas, dan tekanan yang setiap hari diterima, suasana nyaman di senja hari sepertinya merupakan sesuatu yang sangat berharga. Sebagai obat penangkal stres. Bukannya ingin terlalu banyak menuntut, tapi untuk mewujudkannya merupakan tanggung jawab pemerintah.

Wassalam.

Tangerang
24 November 2010

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s