PERTUNJUKKAN YANG MENGHIBUR

Poster drama musikal ONROP!
Drama Musikal ONROP!

Moralitas menjadi hal utama yang diangkat dalam drama musikal ini. Moral yang dianggap benar oleh sekelompok orang yang memiliki kekuasaan – tapi sayangnya, mereka pun melanggar nilai-nilai moral yang mereka tetapkan.

Seksualitas merupakan sesuatu yang tabu, baik untuk dibicarakan apalagi dilakukan di depan umum. Seksualitas dalam artian yang sangat luas, sampai begitu luas sehingga apapun bisa dimaknai sebagai seksualitas. Larangan mengenakan rok yang jarak batas paling bawahnya lebih dari 10 cm dari tapak kaki. Itu merupakan onrop! Larangan mengucapkan kata-kata yang berkaitan dengan alat reproduksi, dalam konteks apapun. Itu pun onrop! Semua kata itu digantikan dengan kata “ho oh”. Larangan mengucapkan kata-kata umpatan yang dianggap tidak bermoral. Dan lagi-lagi, kata-kata itu digantikan dengan “ho oh”. Kata-kata itu seperti sebuah kesalahan ketika muncul dalam kepala manusia.

Nilai-nilai moral membelenggu kebebasan. Kebebasan untuk berekspresi. Kebebasan untuk menjadi diri sendiri. Kebebasan untuk memilih orientasi seksual. Menjadi gay itu onrop!

ONROP! Sebuah drama musikal karya Joko Anwar. Dalam produksi kali ini, sutradara film Janji Joni, Kala, dan Pintu Terlarang ini bekerja sama dengan banyak nama yang sudah tak asing. Afi Shamara sebagai produser. Musik oleh Aghi Narottama, Bemby Gusty, dan Ramondo Gascaro. Pelatih vokal Irv Nat. Koreografi oleh Eko Supriyanto. Dan, sejumlah nama lain yang menjanjikan sebuah kualitas.

Melalui tokoh utama Bram Anungtio/Bram (Ichsan Akbar), drama ini mengungkapkan belenggu yang ada di masyarakat. Bram yang berprofesi sebagai penulis novel religi sepanjang hidupnya selalu taat pada nilai-nilai moral yang ada. Dia selalu menjaga omongannya. Tidak ada ‘kata terlarang’ yang keluar dari mulutnya. Bahkan, di kantornya, dia marah saat asistennya, Amir (Yudi Firmansyah), mengucapkan kalimat dalam bahasa Inggris. “Amir. Sudah saya katakan. Di ruangan ini hanya boleh menggunakan bahasa Indonesia!”

Ketaatan pada nilai moral pun ditunjukkan Bram kala menjelaskan hubungannya dengan Sari (Aimee Saras), kekasihnya. Dalam beberapa kesempatan, Bram memperkenalkan Sari sebagai adiknya kepada orang-orang, sesuatu yang tentunya membuat sang kekasih sangat marah. Hal itu dia lakukan agar mereka tidak ditangkap karena telah berbuat sesuatu yang semestinya belum mereka lakukan. Bram pun tidak mau ‘berdekatan’ dengan Sari. Ya, layaknya sepasang kekasih, sentuhan fisik sangat tidak bisa dihindarkan, bahkan mungkin itulah yang diinginkan. Tapi, tidak pada Bram. Sari yang begitu menggebu ‘mendekati’ Bram selalu ditolak oleh Bram. Alasannya, “Belum mukhrim”.

Namun, malang bagi Bram. Dalam acara peluncuran novel religi terbarunya, dia ditangkap oleh Polisi Moral karena telah mengucapkan kata “ho oh”. Saat itu, Bram sedang membacakan sepenggal cerita dari novel religi terbarunya. Pada penggalan yang dia bacakan, ada kutipan dari lirik salah satu lagu karya Ebiet G. Ade, “Kita musti telanjang dan benar-benar bersih”. Kata bercetak tebal itulah yang menjadi penyebab penangkapan Bram.

Berdasar hasil persidangan, Bram dinyatakan bersalah dan sebagai hukumannya dia akan dibuang ke Pulau Onrop. Menurut kabar, Pulau Onrop merupakan pulau yang didiami oleh manusia-manusia tak bermoral. Mereka saling menyiksa, memperkosa, membunuh, bahkan memangsa sesamanya. Bram pun membayangkan kengerian yang akan dia hadapi di Pulau Onrop. Hanya saja, kengerian yang dia bayangkan tidak terbukti. Tiba di Pulau Onrop, Bram ditunjukkan sebuah kehidupan yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Kehidupan yang penuh dengan warna. Setiap orang bebas untuk menjadi dirinya sendiri. Mereka bergembira setiap hari. Berekspresi sesuai dengan keinginannya masing-masing.

“Bagaimana mungkin dalam kehidupan yang tanpa agama, masyarakatnya bisa hidup dengan damai?” tanya Bram keheranan.

Pertanyaan itu kemudian dijawab oleh Pak Toto, pelukis yang menjadi penghuni Pulau Onrop. Menurutnya, semua penghuni di Pulau Onrop memiliki agama. Tapi, mereka tidak menjadikan agama sebagai alat untuk memaksakan kehendak kepada orang lain. Mereka menjalankan agama masing-masing dan membiarkan kegiatan beragama sebagai kegiatan yang sifatnya sangat pribadi, antara pribadi dengan penciptanya.

Menghadapi kenyataan seperti, Bram pun menyadari pemikirannya selama ini ternyata salah. Dia telah terbelenggu oleh nilai-nilai moral yang ada. Dan di saat kesadaran itu muncul, perasaan bersalah pun tumbuh di hatinya. Selama ini, dia telah salah memperlakukan Sari. Karenanya, dia ingin kembali ke Jakarta untuk menjemput Sari dan membawanya ke Pulau Onrop.

Tiba di Jakarta, Bram menemukan situasi yang semakin parah. Perempuan semakin dilecehkan. Polisi Moral semakin bertindak semena-mena. Kondisi kota semakin kacau. Rakyat semakin ditelantarkan.

Bram pun akhirnya dapat bertemu dengan Sari dan Amir. Dia lalu menceritakan Pulau Onrop kepada mereka sambil menujukkan lukisan tentang Pulau Onrop karya Pak Toto. Merasa tertarik, mereka bertiga pun memutuskan melakukan sesuatu agar ditangkap oleh Polisi Moral dan dibuang ke Pulau Onrop. Bram dan Sari berciuman di depan umum, sedang Amir mengucapkan “V-A-G-I-N-A” dengan lantang.

Mereka bertiga pun akhirnya disidangkan. Dan sesuai rencana, mereka pun didakwa bersalah dan akan dibuang ke Pulau Onrop. Hanya saja, di tengah persidangan, para Polisi Moral membawa sebuah koran yang memuat lukisan Pulau Onrop karya Pak Toto, yang terjatuh saat Bram ditangkap oleh Polisi Moral. Melihat lukisan yang dipampang di koran tersebut, banyak orang di Jakarta yang tertarik untuk pergi ke Pulau Onrop dan karenanya mereka melakukan berbagai hal yang selama ini dilarang oleh pemerintah. Kemudian, terjadilah perdebatan antara Bram, Sari, dan Amir dengan para penegak moral (Polisi Moral dan para pengadil moral). Perdebatan itu pun akhirnya dimenangkan oleh Bram dan kawan-kawan. Para penegak moral lalu memutuskan untuk pindah ke pulau lain dan memulai hidup yang lebih bermoral di sana, walau sempat diajak untuk tetap tinggal di Jakarta oleh Bram.

Tontonan yang Menghibur
Dengan didukung 65 pemain, delapan orang anggota choir, serta 31 orang pemain musik, drama musikal ini menghadirkan tontonan yang meriah. Sepanjang 17 scene yang dibagi dalam dua babak, penonton terus disuguhkan sebuah tontonan yang penuh dengan permainan warna (baik dari kostum pemain, set panggung, maupun permainan cahaya lampu).

Terlebih, dengan 17 lagu yang disajikan bersama dengan koreografi yang begitu enerjik, drama musikal ini merupakan sebuah tontonan yang penuh dengan energi. Seperti sebuah pasar malam. Penuh dengan hiruk-pikuk. Orang berlalu lalalang. Penuh dengan pergerakan. Penuh dengan warna. Suasana sangat semarak. Seperti itulah gambaran pementasan drama musikal ini.

Koreografi karya Eko Supriyanto dipenuhi semangat menggelora. Kadang, terutama untuk para pemain wanita, gerakannya penuh dengan birahi. Gejolak dalam diri yang begitu membara tapi tidak bisa tersalurkan. Menggoda. Dan sebagai sebuah tontonan, semua itu sangat menarik.

Terlebih, drama yang penuh dengan kritik ini disampaikan dengan lelucon. Berbagai kritik yang disampaikan pun menjadi sangat ringan untuk diterima dan dimengerti. Lelucon-lelucon itu didukung dengan kehadiran beberapa pemain yang memainkan peran kartun. Para pemain ini menyajikan guyonan yang lebih mengarah pada slapstick. Bukan slapstick penuh kekerasan seperti pada Srimulat dan kini ditiru oleh Opera Van Java, tapi slapstick melalui gerakan-gerakan berlebihan atau hanya mengeksploitasi sesuatu yang tidak normal.

Memang, harus diakui, slapstick masih sangat manjur sebagai formula untuk mencairkan suasana. Dalam drama musikal ini, dengan begitu banyak kritik yang coba disampaikan oleh Joko Anwar, slapstick sangat membantu dalam mencairkan suasana agar pementasan tidak terjebak dalam sebuah tontonan yang sangat serius, bahkan cenderung membosankan. Sayangnya, slapstick terasa berlebih pada beberapa bagian.

Saat adegan di Pulau Onrok, ada tiga pria bertombak yang menjadi penghuni pulau itu. Salah satu pria bertombak itu mengenakan koteka. Koteka itu berukuran lebih besar jika dibanding yang biasa digunakan oleh orang Papua. Saking besarnya, si pria itu sampai tertusuk oleh koteka berwarna merah yang dikenakannya saat akan bangun dari duduknya.

Lucu memang melihat pria berkoteka tersebut. Kehadirannya mengundang gelak tawa. Tapi, entah karena memang sudah diatur harus seperti itu atau hanya kreativitas si aktor, pria itu terus mengekspoitasi koteka besarnya. Berkali-kali dia berjalan dengan membusungkan perut bagian bawah sehingga kotekanya begitu terangkat, dan mengundang gelak tawa penonton. Atau, pria itu menggerak-gerakkan perut bagian bawah ke atas dan ke bawah, dan lagi-lagi gerakkan itu mengundang gelak tawa penonton. Gerakan-gerakan itu terus diulang. Pria tersebut terlihat terlalu mengandalkan koteka besar miliknya sehingga hanya itu saja yang dia lakukan sepanjang berada di atas panggung.

Hal yang hampir sama juga dilakukan oleh pemeran tokoh Amir, asisten Bram. Dengan penampilan awal yang gagah ditambah dengan dialog awal yang juga terdengar gagah, Amir ternyata seorang gay – dengan stereotip bahwa seorang gay adalah pria yang lemah gemulai, yang gerakannya selalu kemayu, yang gaya berbicaranya selalu disertai gerakan tubuh yang berlebih. Amir selalu bersikap seperti pria gagah saat berada di depan Bram dan di depan umum. Tapi di luar dari itu, dia akan menunjukkan sifat aslinya – bahkan ketika bersama Sari.

Di awal perkenalan mengenai dua sifatnya itu, tokoh Amir terlihat seperti pemeran-pemeran tokoh banci yang biasa kita lihat di sinetron-sinetron. Terlalu biasa. Tidak ada yang spesial dari yang dia tampilkan. Hanya mengandalkan tubuh yang gagah, tapi ternyata gaya bicaranya sangat kemayu. Tapi, seiring berjalannya pertunjukkan, Yudi Firmansyah menunjukkan dirinya memiliki kemampuan berbeda dibanding pemeran tokoh-tokoh banci di sinetron. Dia berhasil memukau penonton, terutama dengan tariannya. Dia berhasil mengeluarkan dirinya dari peran kartun yang sangat mengeksploitasi sesuatu dari tubuhnya.

Namun, bintang pada pertunjukkan malam itu adalah Aimee Saras. Penampilan gadis mungil ini sangat menakjubkan. Dia hampir sempurna di sepanjang pertunjukkan. Olah vokal yang memukau, tubuh lentur yang terus bergerak dalam tarian sesuai alunan nada, serta kemampuan peran yang enak dilihat. Aimee berhasil menunjukkan rasa cinta seorang wanita kepada kekasihnya. Walau selalu ditanggapi dengan sikap dingin, Aimee menunjukkan rasa sepinya ketika Bram dibuang ke Pulau Onrop. Dia pun berhasil memerankan perempuan ‘pelacur’ demi membangkitkan hasrat dari dalam diri Bram. Penuh gairah.

Satu-satunya kecacatan, yang berhasil terlihat, adalah saat dia memainkan ‘adegan kartun’ di scene 3. Saat gagal menahan Bram untuk pergi ke percetakan, Sari tergencet antara daun pintu dan tembok. Saat pintu ditutup oleh Amir, Sari berlagak layaknya si kucing Tom dalam Tom and Jerry. Karena tergencet pintu dan dinding, badannya jadi gepeng dengan posisi kepala menoleh 90 derajat. Sari membetulkan tubuhnya. Mengembalikan kepalanya ke posisi semula. Hanya saja, dia melakukan itu dengan cepat. Mungkin, jika dia lebih menikmatinya, adegan itu akan menjadi spesial.

Kebalikan dari itu, pemeran utama dalam pertunjukkan ini malah tidak mampu menunjukkan kualitasnya. Usaha dan kemampuan yang ditunjukkan oleh Yudi dan Aimee tidak berhasil diimbangi oleh Ichsan. Dia gagal menunjukkan kemampuan terbaiknya – atau memang hanya segitu kemampuan yang dia miliki?

Kemampuan vokalnya bisa dibilang biasa saja. Kemampuan menarinya pun demikian. Yang lebih parah adalah kemampuan aktingnya. Entah memang sudah diplot untuk selalu berekspresi datar atau tidak, tapi sepanjang pertunjukkan sangat membosankan memperhatikan mimik pemain yang satu ini. Sangat datar, tanpa emosi.

Ekspresi datar paling nyata terlihat saat adegan berciuman dengan Sari. Dengan logika paling sederhana saja, seorang pria yang sadar bahwa selama ini telah menyia-nyiakan kekasihnya dan memendam rindu sangat mendalam saat berada jauh dari kekasihnya pasti akan mencurahkan semua perasaan yang selama ini terpendam saat dia berhasil mencium kekasihnya tersebut. Dan, itu yang terjadi pada tokoh Bram, minus ciuman menggelora yang penuh hasrat. Adegan ciuman terlihat sangat palsu. Terlihat jelas kalau Ichsan masih menjadi aktor di atas panggung, belum menjadi Bram, tokoh yang diperankannya. Aimee, yang pada adegan itu berdiri membelakangi penonton, berusaha menutupi kepalsuan itu dengan gerakkan kepala yang terlihat begitu menikmati ciuman. Sayangnya, Ichsan, yang wajahnya menghadap ke penonton, memperlihatkan ekspresi yang sangat datar. Boleh dibilang, tanpa ekspresi. Itukah gambaran seorang kekasih yang memendam gejolak dan birahi begitu mendalam?

Sebenarnya, Ichsan memiliki satu kesempatan untuk mendapatkan nilai positif. Hanya saja, satu-satunya kesempatan itu dia buang sia-sia. Dari awal pertunjukkan, tokoh Bram ditunjukkan memiliki cara berjalan yang unik. Langkahnya pendek-pendek dan kakinya tidak terlalu diangkat. Layaknya cara berjalan seekor pinguin. Sepanjang yang berhasil diperhatikan, Ichsan berhasil mempertahankan cara berjalan seperti itu. Hingga pada scene 15, saat dia bertemu kembali dengan Sari, tiba-tiba cara berjalannya berubah. Dia berjalan layaknya manusia biasa. Memang, ada penjelasan logis soal itu. Hasrat yang begitu menggebu mendorongnya untuk melangkah lebih cepat ke kekasihnya. Tapi, kenapa itu tidak ditunjukkan sejak awal, ketika pertama dia mendapat kesadaran bahwa dia telah menyia-nyiakan kekasihnya selama ini dan bertekad kembali ke Jakarta untuk menjemput Sari? Dan lagi, setelah adegan itu, Bram kembali berjalan seperti pingiun. Atau mungkin, Ichsan sudah begitu tidak sabar untuk mencium Aimee yang cantik sehingga dia lupa dengan peran yang harus dimainkannya – ya, meski dia tidak benar-benar mencium Aimee?

Tanggung
Seperti yang sudah dijelaskan. Pementasan kali ini layaknya pasar malam yang sangat ramai dan penuh dengan warna. Sayangnya, kemeriahan itu tidak dipertahankan di sesi pergantian scene. Dengan 17 scene yang dimainkan dalam dua babak, setidaknya ada 15 kali pergantian set panggung yang disaksikan oleh penonton.

Pergantian set panggung dilakukan dengan cara yang konvensional. Beberapa orang berpakaian hitam (black man) masuk ke panggung. Mereka mengeluarkan set panggung yang sudah tidak dipakai dan mengganti dengan set panggung yang baru. Saat pergantian ini terjadi, lampu di panggung digelapkan.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pergantian set panggung seperti itu. Yang menjadi masalah adalah ketika skenario yang direncakan tidak berjalan dengan sempurna. Dalam artian, pencahayaan panggung tidak gelap total. Penonton masih dapat melihat pergerakan yang dilakukan oleh para black man. Masih ada cukup cahaya di atas panggung yang membuat para penonton bisa melihat aksi para black man.

Selain itu, pergantian set panggung oleh black man seharusnya dilakukan dalam keadaan senyap. Mereka tidak boleh menimbulkan bunyi sedikit pun yang bisa membuat penonton sadar bahwa di panggung sedang terjadi pergantian set. Tapi, tidak. Suara langkah mereka terdengar begitu jelas. Sepertinya para black man masih mengenakan alas kaki mereka sehingga menimbulkan suara langkah yang begitu nyata.

Dan lagi. Dengan menggunakan cara penggantian set panggung seperti itu, seperti ada keheningan mencekam saat itu terjadi. Sehabis pementasan yang begitu semarak, tiba-tiba suasana berubah total 180 derajat. Lampu-lampu penuh warna hilang ditelan kegelapan. Panggung yang tadinya dipenuhi pemain dan penari yang bergerak lincah ke sana-ke mari tiba-tiba menjadi kosong. Sunyi. Dan, itu bukan kesunyian yang mengenakkan, terutama di antara kemeriahan yang ditampilkan di atas panggung. Ada perasaan sangat tidak nyaman ketika peralihan itu terjadi, dari suasana semarak-hening-semarak lagi. Memang, pada beberapa pergantian set panggung, para pemain musik sempat mengiringi untuk mengisi kekosongan. Tapi, bukannya menjadi penetralisir suasana hening, musik yang dimainkan malah semakin membuat keheningan menjadi begitu mencekam.

Padahal, pada scene 14, ada sebuah bagian yang sangat menarik. Saat merasakan rindu yang mendalam pada kekasihnya, Bram bernyanyi di pantai. Ketika Bram menyayi, tiba-tiba lampu di panggung meredup. Batang-batang pohon mulai berubah menjadi siluet dan yang terlihat hanya bagian tepinya saja, melalui lampu-lampu kecil yang merambat di sekujur pohon kelapa. Lalu, dari kedua sisi panggung, keluar beberapa orang penari. Masing-masing penari mendorong sebuah lampu taman. Mereka berjalan perlahan. Kaki mereka melangkah jauh. Gerakan yang terlihat indah. Lampu taman lalu diletakkan di tengah panggung. Pantai seketika berubah menjadi seperti Kota Paris dengan keindahan taman dan kotanya. Suasana romantis tercipta. Selesai Bram bernyanyi, para penari kembali muncul dengan gerakan yang sama. Mereka berjalan perlahan dan mendorong lampu-lampu taman ke luar panggung. Lampu-lampu kecil di sekujur pohon kelapa mati. Kembali lagi ke pantai.

Adanya bagian itulah yang menimbulkan pertanyaan kenapa Joko Anwar tidak menjadikan setiap pergantian set seperti itu?

Dengan melibatkan orang seperti Eko Supriyanto, seharusnya pergantian set panggung bisa dibuat lebih menarik. Tidak perlu disembunyikan dengan kostum serba hitam dan pencahayaan gelap total yang ternyata tidak berjalan dengan lancar. Tunjukkan saja. Biarkan penonton melihat dengan jelas pergantian set panggung yang dilakukan. Jadikan proses tersebut sebagai sebuah pertunjukkan sendiri.

Namun, secara keseluruhan, ONROP! merupakan sebuah pertunjukkan yang menghibur. Dengan suasana yang begitu semarak, penuh dengan warna-warni, ONROP! merupakan pertunjukkan yang menyenangkan untuk ditonton, sekaligus pandai dalam menyampaikan kritik-kritik tanpa menjadikan pertunjukkan tersebut menjadi sebuah ceramah yang mengajarkan.

Tangerang
13-14 November 2010

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s