Ambitious but Rubbish

(Salah satu yang tersisa dari ONROP!)

Poster drama musikal ONROP!

Ada banyak hal yang coba disampaikan dalam pementasan drama musikal ONROP!. Drama karya Joko Anwar ini menyampaikan kritik soal kebebasan dalam berekspresi, untuk menjadi diri sendiri (straight or gay), kemunafikan para penguasa, dan lainnya. Dan, salah satu hal yang menarik adalah tentang obsesi untuk mengalihbahasakan semua istilah asing.

Setidaknya, dua kali masalah ini diangkat dalam drama musikal tersebut. Keduanya melalui tokoh bernama Amir.

Yang pertama, pada scene 3. Pada scene yang berlangsung di kantor Bram ini, Amir (asisten Bram) meledek sikap Bram yang sangat dingin pada pacarnya, Sari. Amir berlari ke tengah panggung dan coba merayu Sari. “Hey baby. Come to me please,” ujar Amir kepada Sari dengan sikap memohon sambil menjulurkan kedua tangan kepada Sari.

Mendengar itu, Bram yang sibuk dengan kegiatannya di meja kerjanya berkomentar, “Amir. Sudah saya katakan. Di ruangan ini hanya boleh menggunakan bahasa Indonesia!”

Mendengar komentar bosnya tersebut, Amir mengernyitkan dahi dan coba berpikir. Lalu, dia berujar, “Halo bayi. Datanglah padaku, tolong.” Setelah mengucapkan itu, Amir menunjukkan ekspresi wajah ‘jijik’ terhadap kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya.

Yang kedua, terjadi pada scene 13. Saat itu, Amir sedang berjalan sendiri di depan Galeri Nasional. Dari keterangan dialog, bagian itu terjadi pada malam hari, lewat dari jam 9 malam – batas jam malam yang ditentukan oleh pemerintah. Saat berjalan itu, Amir bertemu dengan Polisi Moral. Karena telah lewat dari jam malam, Polisi Moral pun menangkap Amir dan mengintrogasinya.

“Dari mana kamu?” tanya seorang Polisi Moral.
“Pasti habis pesta ho oh, ya?” tanya Polisi Moral yang lain.

Amir yang lehernya berada dalam rangkulan salah seorang Polisi Morah membantah pertanyaan Polisi Moral tadi.

“Tidak. Saya baru pulang kerja,” bantah Amir.
“Memangnya kamu kerja apa?” tanya Polisi Moral lagi.
“Saya freelance,” Amir menjawab.
“Dalam bahasa Indonesia!” bentak Polisi Moral.
Amir sebentar terdiam lalu menjawab, “Prilens”.
“Ooo…,” angguk Polisi Moral.

Dalam dua bagian tersebut, Joko Anwar seperti ingin mengingatkan bahwa ada sekelompok orang di negeri ini yang begitu ambisius untuk melokalisasi segala hal yang datang dari luar, terutama dalam hal ini adalah mengenai bahasa.

Pada bagian yang pertama, terasa janggal jika ungkapan yang aslinya berasal dari bahasa Inggris tersebut dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia. Terasa tidak pas. Tidak salah memang, tapi tidak pas. Dan dalam bagian yang kedua, karena dalam keadaan terdesak dan memang tidak ada padanan untuk kata “freelance” dalam bahasa Indonesia, makanya Amir mengalihbahasakan sekenanya terhadap kata tersebut.

Tidak salah usaha yang dilakukan Amir. Dalam aturan bahasa Indonesia, penyesuain kata asing dengan lafal bahasa Indonesia memang diperbolehkan. Cuma, cara ini merupakan proses pengalihbahasaan yang terakhir – saat proses yang lain sudah ditempuh dan tidak menemukan jalan keluar. Tapi anehnya, cara inilah yang paling sering digunakan – mungkin karena merupakan yang paling mudah. Contohnya saja “computer” menjadi “komputer”, “telephone” menjadi “telefon”, “almari” menjadi “lemari”, “icon” menjadi “ikon”, dan lainnya.

Usaha pengalihbahasaan tersebut sangat sesuai dengan slogan sebuah majalah otomotif dari Inggris, TopGear. Majalah yang memiliki tokoh iconic The Stig ini memiliki slogan Ambitious but Rubbish. Jangan coba mengalihbahasakannya, karena kemungkinan akan terasa kurang pas seperti yang terjadi saat tokoh Amir mengalihbahasakan kalimat dari bahasa Inggris.

Bagus memang memiliki obsesi untuk melokalisasi segala hal yang datang dari luar negeri. Tapi sayangnya, melihat yang selama ini terjadi di Indonesia, segala upaya dalam melakukannya tidak berjalan dengan baik.

Sebagai contoh, di bidang lain. Mari balik ke dekade yang lalu, saat pemerintah negeri ini sangat berambisi untuk memiliki mobil nasional. Walhasil, muncullah mobil Timor sebagai, katanya, mobil nasional. Nyatanya, mobil tersebut tidak lain adalah mobil dari Korea yang alih-alih diberi label nasional untuk memperdaya pajak. Tragisnya, proyek penuh kecurangan itu tidak berjalan lama. Dia mati. Dan bahkan, saat sudah dikuburkan, masih banyak permasalahan yang ditinggalkannya.

Dan, ya, seperti itulah gambaran yang selama ini terjadi di Indonesia. Punya ambisi yang sangat besar, hanya saja memilih jalan singkat untuk merealisasikannya. Hasilnya, sangat jauh untuk bisa dibilang berhasil.

Kembali ke soal bahasa. Menurut Koentjaraningrat, bahasa termasuk dalam tujuh unsur kebudayaan. Karenanya, perkembangan sebuah kebudayaan bisa dilihat dari perkembangan bahasa masyarakat budaya tersebut. Hal ini juga sejalan dengan salah satu teori persebaran bahasa, bahwa bahasa bersumber dari pusat kebudayaan lalu menyebar ke daerah-daerah di dekatnya.

Berdasar dari hal tersebut dan bercermin pada kenyataan yang ada, satu hal yang harus kita sadari adalah Indonesia bukanlah pusat kebudayaan. Memang, dalam sejarahnya, sebuah kawasan yang sekarang bernama Indonesia pernah menjadi pusat kebudayaan, setidaknya untuk kawasan Asia Tenggara. Tapi, itu sudah berlalu berabad-abad yang lalu. Kejayaan itu terjadi saat kawasan ini masih dikuasai oleh putra-putra terbaik yang mampu menunjukkan kemampuannya. Sayangnya, putra-putra itu sudah dimakamkan berabad-abad yang lalu. Mereka termakan sejarah. Begitu pula dengan kejayaan yang pernah dimiliki sebuah kawasan yang sekarang bernama Indonesia.

Kesadaran pada hal akan membawa kita pada kesadaran yang lain. Karena bukan pusat kebudayaan, kita hanya bisa menerima gelombang yang datang dari luar. Berusaha menerima dan menyesuaikan diri dengannya. Hanya itu yang bisa kita lakukan. Kita tidak mungkin untuk mengubahnya. Biarkan dia datang. Jangan coba untuk melawan arus sementara kita tidak punya kekuatan untuk bertahan. Buang-buang tenaga dan akan sia-sia. Persiapkan saja diri untuk segala kemungkinan dan buat saringan yang sangat bagus untuk segala hal baru yang masuk. Tak perlu menolak, karena memang itu tidak mungkin dilakukan.

Atau mungkin, jika ingin memperbaiki nasib, saat menerima segala hal yang masuk dari luar, kita bisa berusaha mengejar ketertinggalan dari negara lain. Pelajari setiap hal baru tersebut. Perhatikan dengan teliti setiap bagiannya. Tapi, itu bukan sesuatu yang mudah. Butuh proses yang panjang. Dan karenanya, agak sulit untuk kita lakukan, karena kita terbiasa untuk melakukan segala hal secara instan.

Tangerang
14 November 2010

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s