Soto Yogyakarta

Suatu saat, di sebuah kota, sambil bersantai setelah menyantap semangkuk soto, seorang teman pernah berkata, “Orang Indonesia, kalau di jalanan, udah hilang budayanya.” Saya tidak terlalu ingat topik yang kami bicarakan sebelumnya hingga akhirnya teman tersebut bisa mengeluarkan pernyataan seperti itu.

Teman itu lalu melanjutkan celotehannya. Dan karena kejadian itu sudah berlangsung beberapa bulan yang lalu, saya pun tidak ingat detail yang dia tuturkan. Hanya saja, intinya adalah Indonesia sebenarnya memiliki beragam budaya. Negara ini sebenarnya bangsa dengan keanekaragaman adat istiadat. Bangsa yang menjunjung seni dan budaya. Tapi sekarang, semua itu sepertinya sudah mulai hilang – terutama di kota-kota besar. Mereka tidak bisa lagi disebuat sebagai manusia berbudaya – dalam artian positif. Budaya bagi mereka adalah untuk selalu mementingkan kepentingan pribadi.

Sebagai contoh, teman itu melanjutkan, di jalan raya. Sudah tidak ada aturan. Semuanya merasa jadi raja. Salip sana, salip sini. Semua legal untuk dilakukan. Tidak ada lagi budaya untuk memberikan kesempatan kepada orang lain. Dan, seterusnya.

Karena pembicaraan itu berlangsung tepat setelah selesai menikmati semangkuk soto, yang artinya sedang terjadi proses pembakaran di dalam tubuh dan sebagai konsekuensinya adalah berkurangnya kesadaran, saya hanya bisa mengangguk dan mengiyakan yang dikatakan teman itu. Teman itu terus saja berceloteh, sementara saya berusaha sekuat tenaga untuk mengumpulkan tenaga agar bisa setidaknya berpura-pura memperhatikan semua yang dia ucapkan.

Beberapa hari lalu, saat di tengah kemacetan di dekat kantor, saya pun teringat pada pembicaraan itu. Memang, di tengah kemacetan, semua terlihat sangat kacau – terlebih saya berada di kemacetan sebuah perempatan. Jadi, ada empat arus yang saling berebut untuk bisa melaju. Suara klakson silih berganti. Kadang bahkan disertai dengan cacian. Suasana begitu tidak teratur. Sulit untuk bisa mengetahui sebuah kendaraan berasal dari arah mana dan akan menuju ke mana. Semuanya berantakan.

Mobil yang ada di sisi kiri ingin berbelok ke kanan, begitu pula sebaliknya. Sementara, dari arah berlawanan, sudah menunggu kendaraan-kendaraan lain dengan formasi yang juga tidak teratur. Walhasil, ini seperti benang kusut yang sudah terlalu sulit untuk dilerai. Hanya saja, jika benang bisa dengan mudah dibuang atau dipotong, yang satu ini tidak.

Sebagai pengendara sepeda motor, saya pun coba bertahan dalam kondisi tersebut – bertahan dalam arti memanfaat setiap ruang yang ada untuk bisa keluar secepatnya dari kemacetan. Akhirnya, setelah melalui perjuangan yang cukup ‘melelahkan’, saya pun berhasil keluar darinya. Tiba di kantor, saya bisa bernapas lega. Melepaskan helm dan menikmati sebatang rokok. Nah, saat menikmati sebatang rokok itulah saya lalu tersadar akan suatu hal – tentang yang barusan saya lakukan.

Seperti sudah saya bilang, untuk bisa keluar dari kemacetan, saya memanfaatkan setiap ruang yang ada. Itu artinya saya melakukan beragam aksi manuver. Selip sana, selip sini. Dan, tidak hanya saya yang melakukan hal itu. Semua orang yang terjebak di kemacetan juga melakukan hal serupa – baik pengendara motor maupun pengendara mobil. Sadar dengan hal itu, saya lalu berfantasi, jika dilihat dari atas dan dengan kecepatan yang dinaikkan, mungkin aksi yang dilakukan oleh orang-orang yang terjebak kemacetan merupakan sebuah tontonan yang menarik. Saya membayangkannya seperti aksi udara yang biasa dilakukan oleh pesawat tempur. Meliuk ke sana-ke sini. Terlihat cantik dan menarik. Hanya saja, aksi pesawat tempur itu dilakukan dengan kecepatan yang tinggi, sementara para peserta kemacetan melakukan aksinya dalam kecepatan yang sangat membosankan.

Dan jika saya bisa bertemu dengan teman yang tadi itu dan membahas masalah yang pernah dia utarakan saat itu, saya akan bilang bahwa tidak benar bangsa ini sudah kehilangan budayanya – ya, terutama jiwa seni mereka. Hanya saja, kita tidak menyadarinya. Kita hanya melihat dari satu sisi, atau terlalu terbawa dengan suasana yang dialami. Ya, jujur saja. Di tengah kemacetan, apalagi jika cuaca sedang terik, siapa pula yang bisa melihat keindahan yang sedang terjadi di tengah kekisruhan kendaraan.

Lebak Bulus
2 November 2010

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s