Catatan Akhir Oktober 2010

Oktober tinggal meninggalkan beberapa saat. Hanya beberapa jam lagi, dia akan pergi. Dan, tanpa terasa, banyak yang sudah terjadi – dan seharusnya terjadi, tapi tidak terjadi. Tidak terasa. Berlalu dengan cepat. Hujan belum lagi kering. Bahkan, baru mulai membasahi tanah. Tapi, ya, memang sudah saatnya dia pergi meninggalkan kita. Kita saja yang tidak bisa menghargai kehadirannya. Dia datang pada waktunya. Dia melakukan sesuai dengan yang menjadi tugasnya. Kita lah yang selalu menyepelekan. Menganggap remeh. Selalu berpikir masih akan ada Oktober. Jika bukan Oktober yang sekarang, tahun depan toh dia akan datang lagi. Harus diakui, kadang kita terlalu mendahului waktu dan karenanya tidak menghargainya dengan baik.

Dan, waktu terus berlalu. Sementara, masih terlalu banyak hal yang belum selesai dikerjakan. Terlalu banyak malah. Banyak impian yang ingin diwujudkan, tapi karena sikap mendahului waktu dan berpikir masih akan ada esok, impian itu terus memadati kepala.

Buku-buku yang menumpuk di rak belum lagi terbaca dan sudah ada tumpukan buku yang baru. Entah untuk apa dan kapan akan dibaca. Debu sudah menebal menutup sampul buku yang tertumpuk di bagian atas. Belum lagi tulisan yang dibiarkan tidak selesai – atau memang tidak akan pernah selesai.

Semua terasa kurang, walau sebenarnya terlalu banyak yang terbuang percuma. Terlalu tergoda dengan keinginan sesaat. Ada nafsu besar yang tak tertahankan, sementara ada impian gelimang yang ingin diwujudkan. Selalu mengikuti nafsu, tidak bisa fokus dan menentukan prioritas.

Oktober datang dengan membawa hujan. Rintik pada awalnya dan membuat banjir dalam perjalanan. Sebuah kabupaten di tengah hutan di Pulau Irian. Wasior namanya. Ratusan orang menjadi korban karena banjir bandang. Entah berapa banyak keluarga yang kehilangan rumah dan harus kembali ke zaman pra-peradaban. Sementara orang-orang sibuk mengabarkan dan mendiskusikannya, Jakarta pun ternyata masih sangat renta dengan banjir. Hujan yang turun selama semalaman sudah cukup untuk membuat kota terbesar di negara ini kacau balau. Banjir di mana-mana. Kemacetan tak terhindarkan. Semuanya jadi berantakan.

Oktober juga datang membawa bencana. Bukan bencana mungkin, tapi sebuah pengingat: alam bekerja menurut kehendaknya. Tsunami melanda Mentawai. Tidak ada peringatan, dia datang begitu saja. Kabarnya pun tidak terlalu terdengar. Karena sayangnya, Mentawai letaknya jauh dari Pulau Jawa, sementara di ‘pulau kebesaran’ juga terjadi bencana. Gunung Merapi meletus. Peringatan sudah gencar dilakukan sebelumnya. Evakuasi besar-besaran dilakukan. Perkembangan terus dipantau, tapi tetap saja korban tak bisa terelakkan. Mungkin inilah cara alam untuk mengurangi beban yang ditanggungnya. Sudah terlalu banyak manusia di bumi ini. Alam tak lagi sanggup menanggung bebannya. Karenanya, harus dikurangi. Entahlah, itu hanya sebuah kemungkinan.

Hanya saja, satu catatan tentang meletusnya Gunung Merapi kali ini. Salah satu korban yang ditelannya adalah seorang tokoh yang selama ini menjaganya, Mbah Maridjan. Ditemukan meninggal dalam posisi bersujud menghadap ke kiblat di dapur rumahnya. Haturan kekaguman tak terhingga untuk dia yang selalu setia pada tugas dan nilai-nilai yang dianut hingga akhir hayat. Dia yang menjaga kepercayaan yang diberikan dengan segenap jiwa. Walau tak ada surat kontrak saat penugasan, tapi sampai akhir hayatnya dia masih tetap setia dengan tugas yang diembannya. Sekali lagi, haturan kekaguman yang tak terhingga untuk Mbah Maridjan.

Oktober juga bulan yang melelahkan, full of pain. Sebenarnya, sebelum Oktober datang jadwal yang padat sudah terprediksi. Tapi, ya, itu tadi. Selalu tergoda dengan nafsu sesaat. Tak pernah bisa fokus dan menentukan prioritas. Walhasil, penyakit datang bertubi. Gigi yang tiba-tiba berulang. Dan yang paling sial, diare saat berkunjung ke Jepang. Pengalaman pertama ke negeri sakura tidak terlalu berkesan akibat diare.

Dan, ya, itulah Oktober. Mungkin juga seperti bulan-bulan yang lain. Dan memang seperti bulan-bulan yang lain, banyak yang tidak dihargai. Lebih banyak yang terbuang sia-sia.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s