1

Kalian berdua duduk di sebuah kafe. Sebuah meja budar dengan empat kursi. Kalian duduk berhadapan. Tenang. Tidak ada satupun di antara kalian yang berani untuk memulai pembicaraan.

Langit cerah. Awan melayang diterbangkan angin. Perlahan bergerak. Membawa kesunyian yang kini menghinggapi kalian.

Sebuah pertemuan yang tidak terlalu kalian bayangkan akan terjadi. Sudah terlalu lama kalian tidak berjumpa. Terpisah. Walau tidak dalam arti yang sebenarnya.

Kalian sebenarnya hidup di kota yang sama. Hanya saja, kalian tidak menginginkan sebuah pertemuan. Apalagi pertemuan seperti yang sekarang ini kalian lakukan. Tidak ada keinginan yang menimbulkan usaha untuk bertemu.

Kebisuan. Ya, itulah yang kalian takutkan. Kebisuan seperti inilah yang kalian cemaskan. Tidak ada yang berani untuk memulai pembicaraan. Kalian pun tidak tahu hal apa yang ingin kalian bicarakan, walaupun di dalam hati masing-masing banyak sekali pertanyaan yang ingin diungkapkan.

Pertanyaan apa saja mengenai satu sama lain. Rasa ingin tahu tentang semua yang telah terjadi ketika kalian berpisah, tidak lagi bersama. Perjalanan yang dilalui masing-masing. Semua cerita yang telah dilalui. Peristiwa yang telah menjadi bagian hidup. Sebuah rasa untuk mengungkap siapa orang yang ada di hadapan kalian. Siapa ia kini. Seperti apa perjalanan yang telah dilaluinya. Cerita menarik apa yang telah dilaluinya. Siapa pasangannya selama ini. Atau, tentang apapun yang tidak masing-masing dari kalian ketahui.

Selamanya mungkin kalian akan seperti ini. Tidak akan berbicara satu sama lain. Hanya dalam angan-angan kalian saling berbicara. Masing-masing membuat bayangan. Masing-masing berbicara di dalam pikirannya. Berdiskusi dengan ilusi. Berbagi cerita dengan imajinya sendiri. Saling membayangkan sebuah pertemuan yang hangat. Saling bertukar cerita. Tentang seorang pria yang mengajak kencan di pertemuan pertama. Kecelakaan kecil yang terjadi dalam sebuah perjalanan. Persaingan di kantor yang membuat situasi kerja tidak nyaman. Sebuah film yang mengingatkan kisah perjalanan hidup kalian. Film yang membuat kalian merasa terpukul dengan keadaan yang pernah kalian alami.

Semuanya saling berbicara. Semuanya saling mendengarkan dengan penuh perhatian. Saling berbalas menceritakan dan mendengarkan. Terus saja melakukannya. Melepaskan keinginan untuk bertemu yang selama ini memang sangat mengekang kalian. Keinginan untuk bercerita panjang. Tentang semua yang telah kalian alami. Mengobrol sampai malam. Ketika kalian tidak lagi diizinkan untuk bersama. Seperti yang sering kalian lakukan ketika kalian masih bersama dulu.

Seorang perlayan datang ke meja kalian. Meletakkan minuman yang telah kalian pesan sebelumnya. Dua gelas es lemon tea. Membuyarkan bayangan yang ada di dalam pikiran kalian. Mencairkan harapan yang telah dibangun dalam angan-angan.

Angin masih bertiup. Tidak terlalu kencang, tapi cukup membawa terbang kebisuan kalian dan mengabarkannya pada sungai yang mengalir. Sungai yang mengalir di sebuah bukit pegunungan. Mengalir dari mata air alami. Begitu segar. Murni. Jernih.

Mengalir sampai ke hulu. Ke pantai yang membawanya ke laut.

Aliran air di sungai menimbulkan suara gemericik. Suara alam yang begitu menenangkan. Mendengarnya membuat siapapun menjadi tenang. Melepaskan semua permasalahan yang sedang dihadapi.

Kemang, 19 Januari 2007

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s