Gadis Hujan (4)

Sore itu, hujan turun dengan lebat. Sejak tadi siang, hujan sudah turun. Rumah, rumput, pepohonan, sudah basah. Jalanan bahkan sudah digenangi air. Orang-orang berlalu-lalang melintasi genangan air itu. Menginjaknya yang lalu menciptakan cipratan air. Dan di antara segala hal yang terjadi di sore yang diguyur hujan itu, Gadis Kecil sedang duduk termenung di balik sebuah jendela.

Sudah beberapa lama Gadis Kecil berdiri di balik jendela itu. Kedua tangannya dilipat dan bertumpu di kedua paha untuk menyanggah kepalanya. Pandangannya di arahkan menembus kaca cendela. Tapi, dia tidak memperhatikan apapun. Pandangannya kosong. Dia hanyut di dalam lamunannya.

Di dalam lamunannya, dia membayangkan tentang hari itu. Ayah dan Ibu mengajaknya pergi berkeliling kota. Ke kebun binatang. Melihat jerapah, rusa, burung-burung, dan berbagai jenis binatang lain. Berlarian di taman. Bermain bersama orangtuanya di taman itu.

Setelah itu, mereka pergi ke sebuah toko yang dipenuhi oleh boneka. Berbagai macam boneka ada di toko itu. Dari yang berukuran kecil sampai yang jauh lebih besar dari tubuhnya. Dia sangat senang saat pertama masuk ke dalam toko itu. Dia memeluk semua boneka yang dilihatnya. Gadis Kecil bermain-main dengan semua boneka yang bisa diraihnya. Lalu, dia keluar dari toko itu dengan beberapa boneka di dalam dekapannya.
Mereka pun lalu pergi ke tempat penjual es krim. Gadis Kecil memesan es krim kesukaannya, rasa coklat yang dicampur dengan rasa strawberry dan vanila. Dimakannya perlahan es krim yang ada di depannya. Orangtuanya yang duduk di hadapannya hanya tersenyum melihat kelakukan Gadis Kecil. Bibirnya dipenuhi es krim. Dia merasa sangat senang. Hanya saja, itu semua hanya ada di dalam lamunannya.

Beberapa kali, saat tersadar dari lamunannya, Gadis Kecil mengarahkan pandangan ke sekeliling kamarnya. Dilihatnya kalender. Hari ini, tanggal 18 Januari. Hari ini, dia berulang tahun. Tapi, tidak ada pesta meriah seperti yang diharapkannya. Kamarnya tidak dipenuhi dengan balon beraneka warna. Tidak ada sebuah kue tart yang dihiasi buah cherry di atasnya. Tidak ada hadiah untuknya.

Hatinya merasa sedih ketika sadar bahwa hari ini dia sedang berulang tahun. Orangtuanya sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Sejak pagi, Ayah pergi bekerja dan belum kembali, sedang Ibu selalu sibuk di dapur. Gadis Kecil merasa kesepian di hari ulang tahunnya.

Pandangannya lalu beralih ke deretan boneka yang dijajarkan di atas tempat tidurnya. Ada tiga boneka di sana. Boneka-boneka itu didapatkannya saat dia berulang tahun dua tahun lalu. Orangtua Gadis Kecil yang memberikannya. Dalam sebuah pesta yang meriah, sebuah kado berukuran sangat besar diberikan padanya. Dia masih teringat hari itu. Teman-temannya berkumpul. Mereka mengenakan pakaian yang indah, walaupun tetap Gadis Kecil yang mengenakan pakaian terindah saat itu. Semua orang mengenakan topi ulang tahun. Semua orang bernyanyi untuknya. Dialah ratu hari itu.

Satu tahun setelahnya, dia mendapatkan sebuah sepeda-mini beroda tiga. Juga dalam sebuah pesta yang hampir serupa seperti tahun sebelumnya. Dan sekarang, sepeda-mini itu tergeletak di halaman rumah, basah terguyur hujan.

Gadis Kecil tak pernah sadar yang pernah dan sedang terjadi pada orangtuanya. Beberapa kali orangtuanya memang berbicara kepadanya kalau kehidupan mereka akan berubah. Mereka harus pindah dari rumah besar yang sudah ditinggali bahkan sebelum Gadis Kecil terlahir ke sebuah rumah yang ukurannya jauh lebih kecil. Mereka harus merelakan mobil yang biasa digunakan Ayah ke kantor atau yang biasa mereka gunakan saat liburan dan menggantikannya dengan sebuah sepeda motor. Bahkan, Ibu harus selalu menyibukkan diri di dapur. Membuat beraneka jenis makanan yang lalu ditempatkan ke dalam kardus-kardus yang menumpuk hampir setinggi atap rumahnya.

Gadis Kecil tidak terlalu ambil peduli pada ucapan orangtuanya. Menurutnya, yang dikatakan oleh orangtuanya hanyalah alasan untuk menolak setiap keinginannya. Gadis Kecil berpikir kalau orangtuanya tidak lagi sayang padanya. Ayah sudah terlalu sibuk dengan pekerjaannya, begitu juga dengan Ibu. Mereka tidak lagi memiliki waktu untuk bermain bersamanya.

Bahkan, saat melamun di balik jendela sore itu, Gadis Kecil berpikir kalau Ayah dan Ibu sudah melupakan hari ulang tahunnya. Jangankan mengadakan sebuah pesta yang meriah, ucapan selamat dan sebuah kado pun tidak diterimanya.

Kemudian, dia berpikir, mungkin Ibu sedang mengandung seorang bayi. Dia akan memiliki seorang adik dan karenanya Ayah dan Ibu tidak lagi peduli padanya. Perhatian mereka sepenuhnya akan diberikan kepada bayi yang akan lahir itu. Sedang, Gadis Kecil akan selalu berada sendiri di dalam kamar. Tidak ada lagi yang peduli padanya.

Lamunannya lalu terbuyarkan oleh sebuah suara. Ibunya memanggil dari luar kamar. Awalnya, dia tidak terlalu peduli pada panggilan itu. Dia malas untuk menanggapi panggilan itu. Dia hanya berdiam diri. Bahkan untuk sekadar menyahut pun dia enggan melakukannya.

Namun, Ibu terus memanggil dan akhirnya Gadis Kecil menyahut dengan nada malas.

“Keluar dari kamar, dong, sayang,” panggil Ibu.

Gadis Kecil tidak langsung menggerakkan tubuhnya. Masih dibutuhkan beberapa panggilan lagi sampai akhirnya dia menggerakkan kakinya dan berjalan perlahan ke arah pintu. Perlahan dibukanya pintu kamar. Dan, betapa terkejutnya dia saat melihat Ayah dan Ibu sudah berdiri di depan kamar. Mereka mengenakan topi ulang tahun. Ibu membawa sebuah kue tart dengan hiasan lilin dan buah cherry di atasnya, sedang Ayah membunyikan terompet. Mereka lalu menyanyikan lagu “Selamat Ulang Tahun”.

Gadis Kecil sangat terkejut melihatnya. Dia tidak menyangka kalau orangtuanya akan melakukan itu. Tanpa sadar, mata Gadis Kecil mulai mengucurkan air mata. Dia menangis bahagia.

“Selamat ulang tahun, sayang,” ucap Ayah dan Ibu sambil memberikan kecupan di kening Gadis Kecil.

Mereka lalu menyuruh Gadis Kecil untuk meniup lilin di atas kue tart. Dengan hati yang masih terkejut, Gadis Kecil meniup lilin. Api di ujung lilin padam dan orangtuanya bersorak. Ayah lalu memberikan sebuah kado untuknya. Air mata Gadis Kecil semakin tak tertahan. Melihat itu, Ibu menyerahkan kue tart kepada Ayah dan lalu memeluk Gadis Kecil.

“Maaf, ya, sayang. Tidak ada pesta tahun ini,” ucap Ibu pelan sambil memeluk Gadis Kecil.

Gadis Kecil hanya terdiam. Dia tidak tahu harus berbicara apa. Ayah lalu memotong kue tart dan meletakkannya di sebuah piring. Sambil menikmati kue tart, Gadis Kecil membuka kado yang diberikan. Isinya, boneka salah satu tokoh animasi favoritnya.

Gadis Kecil pun lalu menyesal dengan semua pikirannya selama sore itu. Dia lalu memeluk orangtuanya.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s