Gadis Hujan (3)

Tidak ada seorang pun yang tahu siapa dan dari mana gadis kecil itu. Dia seperti muncul begitu saja. Di suatu sore, ketika hujan turun dengan derasnya, Waluyo yang baru saja kembali dari sawahnya melihat gadis kecil itu duduk sendiri di bawah salah satu pohon rindang yang tumbuh di sepanjang jalan desa itu. Awalnya, Waluyo agak ragu mendekati gadis kecil itu. Maklum, di desa itu, pernah tersiar kabar tentang sosok hantu yang gentayangan. Apalagi saat itu hujan turun dengan deras, petir terus menggelegar di langit, dan hari sudah mulai gelap. Waluyo sempat melihat sekitarnya, berharap ada orang lain yang bisa diajaknya menghampiri gadis kecil itu. Tapi, tidak ada seorang pun yang dilihatnya.

Setelah beberapa lama terdiam, Waluyo pun akhirnya memberanikan diri untuk menghampiri gadis kecil itu. Perlahan didekatinya sosok mungil itu. Saat sudah berada di dekat gadis kecil, Waluyo mendengar suara tangis yang lirih. Ya, gadis kecil itu sedang menangis. Kepalanya tertunduk di antara lingkaran tangan dan kedua kaki yang dilipatnya di depan tubuhnya. Waluyo pun terus memberanikan dirinya untuk semakin mendekat.

Saat sudah berada tepat di depan gadis kecil, Waluyo pun lalu menepuk punggung gadis kecil. Coba memanggilnya.

“Hai, kamu kenapa?” tanya Waluyo.

Gadis kecil itu tidak menjawab. Dia hanya mengangkat kepalanya. Dan saat itu, barulah secara samar Waluyo melihat wajah gadis kecil itu. Dia terlihat manis. Kulitnya putih. Pipinya agak tembam. Keduanya matanya sudah sembap, tanda dia sudah menangis sejak lama. Rambutnya dibiarkan terurai menutupi tengkuknya. Sekujur tubuhnya sudah basah.

“Rumah kamu dimana?” Waluyo kembali bertanya. Tapi, gadis kecil tak memberikan jawaban.

Melihat hari yang sudah semakin gelap dan hujan yang tak kunjung berhenti, Waluyo pun membawa gadis kecil itu ke rumahnya. Kebetulan, walaupun sudah menikah beberapa tahun, Waluyo belum memiliki seorang anak. Karenanya, ketika sampai di rumah, Sutina, istrinya, langsung menyambut dengan gembira saat dilihatnya Waluyo membawa seorang gadis kecil yang lucu.

“Siapa dia?” tanya Sutina.

“Tak tahu. Aku melihatnya duduk sendiri di bawah pohon. Saat kutanya siapa dia dan di mana rumahnya, dia tidak menjawab,” jawab Waluyo.

Sutina pun langsung mengambil gadis kecil itu dari pelukan suaminya. Tanpa banyak bicara, Sutina pun langsung membawa gadis kecil itu ke dalam kamar. Dia lepaskan pakaian gadis kecil yang sudah basah diguyur hujan, dibasuh sekujur tubuhnya sampai kering, dan dia pakaikan pakaian kering. Setelah itu, diajaknya gadis kecil untuk menyantap makan malam. Disuapinya gadis kecil itu perlahan. Melihat hal itu, Waluyo pun tersenyum bahagia.

“Mungkin dia jawaban doa kita selama ini,” ujar Waluyo.

Sutina tidak mengeluarkan kata-kata. Dia hanya tersenyum dan terus menyuapi gadis kecil yang dengan lahap menyantap setiap sendok makanan yang diberikan. Pasangan itu pun sangat berbahagia menerima kehadiran gadis kecil itu. Dan sejak saat itu, mereka menjadi keluarga kecil yang bahagia.

Namun, walaupun merasa sangat senang mendapatkan seorang anak, pasangan suami-istri itu tak berarti tidak melakukan apapun untuk mencari tahu siapa gadis kecil yang sudah mereka anggap sebagai anak sendiri. Ketika bertemu dengan orang lain atau berkumpul di keramaian, mereka selalu bertanya apakah mendengar ada yang kehilangan seorang gadis kecil. Tapi setelah beberapa lama, mereka tidak juga mendengar ada keluarga yang kehilangan seorang anak.

Gadis kecil itupun merasa sangat senang bisa tinggal bersama pasangan itu. Pipinya semakin gembil. Makannya sangat lahap. Rambutnya sekarang lebih sering dikepang, sang istri yang sering mengepang rambutnya. Wajahnya selalu ceria. Matanya tidak pernah lagi terlihat sembap.

Namun ternyata, setelah beberapa waktu berselang, ada desas-desus yang beredar di penduduk desa. Penduduk desa ternyata tidak terlalu senang dengan kehadiran gadis kecil itu di desa mereka. Pasalnya, sejak kehadiran gadis kecil, hujan tidak pernah turun di desa itu walaupun sekarang sudah masuk musim hujan. Padahal, hujan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi penduduk desa, karena sebagian besar dari mereka adalah petani. Dengan hujan yang tak kunjung turun, mereka khawatir panen mereka kali ini akan gagal. Semua penduduk desa khawatir dengan hal itu, tak terkecuali Waluyo. Tapi, Waluyo selalu berpikir bahwa hujan yang tidak kunjung turun bukan karena kehadiran gadis kecil itu.

Beberapa kali mendapat teguran dari penduduk desa untuk segera membawa gadis kecil itu dari desa. Gadis kecil bukan tidak tahu tentang hal itu. Suatu kali, secara tidak sengaja, dia mendengar percakapan Waluyo dengan Sutina.

“Orang-orang di desa menyuruh kita membawa pergi gadis kecil itu, atau kalau tidak, kita akan diusir,” ujar Waluyo.

Sutina menghela napas panjang saat mendengar perkataan suaminya itu.

“Iya. Ibu-ibu juga sudah sering berujar itu,” jawab Sutina dengan nada sedih.

“Aku mengerti, jika hujan tak kunjung turun, panen akan gagal. Dan bukan panen mereka saja yang gagal, sawahku pun akan gagal panen. Tapi kenapa harus gadis kecil itu yang disalahkan?” Waluyo berbicara dengan nada sedikit putus asa.

Pasangan itu lalu terdiam.

“Pokoknya. Aku mau gadis kecil itu tetap sama kita. Biar kita diusir dari desa ini, aku tak mau kehilangan dia. Dia anakku,” ungkap Sutina memecah keheningan.

Waluyo lalu menghampiri istrinya dan memeluknya erat.

Mendengar percakapan itu, gadis kecil merasa sedih. Tapi, dia pun tidak dapat melakukan apa-apa.

Hingga pada suatu malam, penduduk desa mendatangi rumah pasangan itu. Dengan membawa obor di tangan, mereka berkumpul di perkarangan rumah. Penduduk desa berteriak menyuruh Waluyo segera keluar dan membawa gadis kecil. Melihat penduduk desa yang sudah berkumpul di depan rumahnya, Waluyo pun segera keluar, sedang Sutina langsung membopong gadis kecil yang terbangun saat mendengar suara berisik dari luar.

Dengan tergopoh-gopoh, Waluyo menemui pada penduduk desa.

“Hai, Waluyo. Sudah cukup kesabaran kami. Malam ini juga gadis kecil harus keluar dari desa ini!” ujar salah seorang penduduk desa yang disambut dengan suara dukungan dari penduduk yang lain.

“Sabar. Gadis kecil tidak salah apa-apa. Dia bukan penyebab masalah di desa ini,” Waluyo coba menenangkan penduduk desa.

Namun, penduduk desa ternyata sudah tidak bisa ditenangkan. Secara serentak, mereka bergerak maju, masuk ke dalam rumah, dan berusaha mencari gadis kecil. Mereka menelusuri setiap sudut rumah. Dan akhirnya, mereka menemukan gadis kecil di dalam kamar, dalam gendongan Sutina. Mereka berusaha mengambil gadis kecil dari pelukan Sutina. Sutina dengan sekuat tenaga tetap mempertahankan gadis kecil. Waluyo pun kemudian datang membantu istrinya. Tapi, sekuat apapun pasangan itu berusaha mempertahankan gadis kecil, mereka akhirnya kalah oleh penduduk desa. Gadis kecil berhasil direbut oleh penduduk desa.

Gadis kecil menangis saat penduduk desa mengambilnya dari pelukan Sutina. Demikian juga dengan Sutina. Waluyo tetap berusaha merebut kembali gadis kecil, tapi tidak pernah berhasil. Seketika itu, cuaca berubah. Udara terasa gerah. Bintang-bintang dan bulan tertutup awan. Hujan rintik mulai turun.

Penduduk desa membawa gadis kecil ke arah perbatasan desa. Gadis kecil menangis lebih keras. Penduduk membawanya semakin jauh ke perbatasan. Suara tangis gadis kecil tak lagi terdengar. Sementara, hujan yang turun semakin deras. Waluyo dan Sutina yang tersungkur di halaman rumah mereka hanya bisa menangis.

Tak lama kemudian, rombongan penduduk desa mulai kembali memasuki desa. Waluyo dan Sutina memperhatikan mereka, coba mencari keberadaan Gadis Kecil. Tapi, Gadis Kecil tidak lagi bersama penduduk desa itu. Waluyo dan Sutina menangis lebih keras. Mereka tidak dapat membayangkan yang telah dilakukan penduduk desa pada Gadis Kecil.

Hujan semakin keras. Terus, hingga beberapa hari. Hujan deras mengguyur seluruh desa itu selama beberapa hari. Penduduk desa yang pada awalnya merasa senang bisa mendapatkan kembali hujan, kini kembali diburu rasa was-was. Hujan deras yang turun selama beberapa hari mulai menenggelamkan sawah mereka. Jika keadaan seperti ini terus berlanjut, panen mereka akan gagal total. Penduduk desa pun coba kembali menghampiri rumah Waluyo dan Sutina. Dengan susah payah setelah melintasi genangan air, mereka akhirnya tiba di rumah pasangan muda itu. Tapi sayangnya, setelah mendobrak pintu dan mencari ke setiap sudut rumah, penduduk desa tidak dapat menemukan Waluyo dan Sutina. Sepertinya, setelah malam pengusiran Gadis Hujan, pasangan itu langsung pergi meninggalkan rumah mereka. Tidak yang tahu ke mana pasangan itu pergi.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s