Gadis Hujan (2)

Suatu sore, di tepi sungai yang terletak di tengah sebuah hutan, terdapat beberapa binatang yang sedang melakukan rutinitas mereka. Jerapah sedang asyik meninum, Beruang sedang mencari ikan untuk dimakan, sedang Kura-kura sedang bersantai di atas sebuah batu besar. Tapi, selain binatang-binatang itu, ada seorang gadis kecil yang sedang tersesat di dalam hutan. Seharian bermain, dia lupa jalan untuk kembali ke rumahnya. Gadis itu melihat Kura-kura yang sedang bersantai di atas batu. Dia pun bertanya pada Kura-kura itu.

“Hai, Kura-kura. Tahukah kamu arah rumahku?” tanya Gadis Kecil.

Kura-kura tidak langsung menjawab. Mendengar suara itu, Kura-kura malah memasukkan kepalanya ke dalam cangkangnya.

“Hai, Kura-kura. Aku bukan orang jahat. Aku hanya ingin tahu arah menuju rumahku,” ulang Gadis Kecil.

Kepala Kura-kura perlahan keluar. Matanya coba menyidik sosok yang bertanya kepadanya. Di hadapannya, dia melihat Gadis Kecil yang sangat manis. Melihat penampilan gadis itu, rasa curiga Kura-kura hilang. Dia mengeluarkan seluruh kepalanya.

“Hai, Gadis Kecil. Kenapa kamu bisa ada di sini?”

“Aku tersesat. Aku tadi sedang bermain sendiri. Lalu, aku melihat seekor Kupu-kupu. Aku ingin menangkapnya, tapi dia terbang. Aku mengikutinya dan akhirnya aku sampai di sini. Kura-kura, bisakah kamu menunjukkan arah rumahku” tanya Gadis Kecil.

“Wah, aku tidak tahu. Coba kau tanya ke Beruang. Dia sering pergi ke desa untuk mencuri makanan penduduk desa. Dia pasti tahu ke mana arah rumahmu,” jawab Kura-kura.

“Baiklah kalau begitu.”

Gadis Kecil pun berteriak memanggil Beruang yang sedang berusaha menangkap ikan-ikan kecil untuk disantap.

“Beruang!” teriak Gadis Kecil.

Beruang tidak menghiraukan panggilan Gadis Kecil itu. Dia masih terus memperhatikan ikan-ikan yang berenang di sungai.

Gadis Kecil kembali berteriak memanggil Beruang, tapi Beruang tetap tidak menghiraukannya. Akhirnya, Gadis Kecil mengambil sebuah kerikil dan dilemparkan ke arah tepat di depan Beruang itu. Beruang pun lalu menoleh ke arah Gadis Kecil. Dia merasa tidak senang dengan yang baru saja dilakukan oleh Gadis Kecil. Kerikil yang dilempar itu mengusir ikan-ikan kecil yang sedari tadi sudah diincar oleh Beruang. Pergi semua buruan Beruang.

Merasa kesal, Beruang pun menghampiri Gadis Kecil itu.

“Kenapa kau menggangguku?” tanya Beruang ketika sudah sampai di hadapan Gadis Kecil.

“Maaf, aku tidak bermaksud mengganggumu, Beruang. Aku hanya ingin bertanya. Apa kau tahu kemana arah rumahku?”

Beruang hanya diam. Tidak menjawab. Dia membuang pandangannya. Kedua tangannya dilipat di depan dadanya.

“Tolonglah, Beruang. Aku ingin pulang. Aku tersesat,” rayu Gadis Kecil.

Beruang masih tetap diam.

Melihat hal itu, Kura-kura pun coba membantu Gadis Kecil.

“Hai, Beruang. Kau pasti tahu ke mana arah rumah gadis itu. Kau, kan, sering ke desa. Antarlah gadis itu dan mungkin penduduk desa akan memberikan makanannya padamu,” bujuk Kura-kura.

“Iya. Orangtuaku pasti akan memberikan makanan yang banyak padamu jika kau mau mengantarkanku pulang,” tambah Gadis Kecil.

Beruang masih terdiam. Sikapnya masih belum berubah.

“Ayolah. Sekali dalam hidupmu, berbuatlah kebaikan pada manusia,” ucap Kura-kura.

Beruang pun akhirnya berbicara.

“Tidak. Aku tidak mungkin mengantarkannya. Penduduk desa pasti akan menangkapku jika mereka melihatku mendekati desa. Mereka akan mengurungku dan menyiksaku. Mereka akan menganggap aku telah menculik Gadis Kecil. Tidak. Aku tidak mau mengantarkannya,” jawab Beruang.

“Tidak, Beruang. Aku akan bilang pada penduduk desa kalau aku tersesat dan kau telah menyelamatkan aku. Dengan begitu, mereka tidak akan menangkapmu. Mereka malah akan memberimu makanan sebagai balasan kebaikanmu,” Gadis Kecil kembali merayu.

“Tidak. Mereka tidak mungkin akan melepaskan aku. Setelah semua yang telah aku lakukan, penduduk desa tidak mungkin memaafkan aku. Aku tidak bisa mengantarkanmu.”

Gadis Kecil hanya terdiam. Kura-kura menatap gadis kecil itu. Matanya menatap simpati pada manusia kecil itu.

“Tapi, aku bisa menunjukkan arah menuju desa,” sambung Beruang.

“Tapi, aku tidak mungkin berjalan sendirian di dalam hutan. Hari akan segera gelap. Aku takut berjalan sendiri,” iba Gadis Kecil.

“Hanya itu yang bisa aku lakukan,” tambah Beruang.

“Baiklah kalau begitu. Beritahu tahu ke arah mana rumah gadis itu. Aku akan meminta pertolongan Jerapah untuk mengantarkan gadis ini,” ucap Kura-kura.

“Jalan saja terus menuju ke selatan, nanti kau akan menemukan persimpangan. Berbeloklah ke kanan. Terus ikuti jalan itu dan kau akan tiba di desa,” Beruang memberi pengarahan.

“Terima kasih kalau begitu,” ucap Kura-kura kepada Beruang. “Nah, Gadis Kecil, sekarang kau panggilkan Jerapah yang sedang minum di sana,” ucapnya kepada Gadis Kecil.

Gadis Kecil pun berteriak memanggil Jerapah. Mendengar namanya dipanggil, Jerapah menghampiri arah suara.

Saat Jerapah sudah bergabung bersama kumpulan itu, Kura-kura meminta tolong kepadanya.

“Hai, Jerapah. Tolong antarkan Gadis Kecil pulang. Kau tinggi sehingga bisa melihat dalam jarak yang jauh. Biarkan gadis ini naik di punggungmu. Dia tahu arah mana yang harus dituju,” ujar Kura-kura kepada Jerapah.

“Iya, Jerapah. Tolonglah aku. Hari sudah hampir gelap. Aku tidak berani berjalan sendiri di tengah hutan,” Gadis Kecil kembali merayu, kali ini kepada Jerapah.

Jerapah terdiam sejenak. Diperhatikannya Gadis Kecil yang berdiri tidak jauh dari dirinya. Dari posisi jerapah memandang, gadis itu terlihat sangat kecil. Tingginya bahkan tidak sampai selutut kaki Jerapah. Jerapah pun merasa iba pada Gadis Kecil.

“Baiklah. Aku akan mengantarkan gadis itu,” sanggup Jerapah.

“Asyik. Terima kasih, Jerapah. Nanti, jika kita sudah sampai di rumahku, aku akan minta pada orangtuaku untuk memberikan makanan yang enak untukmu,” ucap Gadis Kecil kegirangan.

Jerapah lalu membungkuk. Gadis Kecil pun langsung naik ke atas punggung Jerapah dengan berpijak pada sebuah batu. Saat Gadis Kecil sudah duduk di atas punggungnya, Jerapah pun bangkit dan mulai berjalan sesuai dengan arah yang ditunjukkan Gadis Kecil.

Desa yang dituju jaraknya memang tidak terlalu jauh. Hanya saja, jika dari tepi sungai tempat para binatang dan Gadis Kecil berkumpul, letak desa itu agak tertutup oleh hutan. Dan lagi, saat itu langit sudah mulai gelap. Matahari perlahan menghilang, bersembunyi di balik pepohonan rindang yang menutupi hutan itu. Jerapah pun semakin mempercepat langkahnya. Sedang, Gadis Kecil tetap duduk dengan tenang di pungguh Jerapah.

Mereka akhirnya tiba di desa saat langit sudah gelap. Saat itu, desa diterangi oleh cahaya obor. Para penduduk berkumpul di lapangan yang ada di tengah desa. Mereka semua membawa obor di tangan kiri mereka, sedang tangan kanan menggenggam bermacam perkakas, seperti golok, celurit, dan sebagainya.

Gadis Kecil lalu menyuruh Jeparah untuk berjalan perlahan menghampiri penduduk yang berkumpul tersebut. Perlahan hingga akhirnya mereka berada cukup dekat untuk mendengar pembicaraan penduduk yang berkumpul tersebut.

“Kita harus segera menemukan Gadis Kecil. Hari sudah malam. Kita berpencar secara berkelompok,” ujar seorang pria yang berdiri di tengah kerumunan warga.

Mendengar namanya disebut, Gadis Kecil lalu memanggil pria yang berdiri di tengah kerumunan penduduk itu. “Ayah…!!!”

Pria itu lalu melihat ke arah suara. Dilihatnya, Gadis Kecil duduk di pundah seekor Jerapah. Pria itu lalu menghampiri anaknya.

“Sayang, kamu kemana saja? Ayah dan ibu sangat khawatir,” ucapnya sambil menggendong Gadis Kecil turun dari pundah Jeparah.

“Maaf, Ayah. Aku bermain terlalu jauh hingga tersesat di dalam hutan. Untung ada Kura-kura, Beruang, dan Jerapah ini yang mau menolongku,” jawan Gadis Kecil.

Terbayang betapa senangnya ayah Gadis Kecil saat melihat anaknya sudah kembali pulang. Begitu pula dengan penduduk desa yang lain. Ayah Gadis Kecil lalu memeluknya erat dan membawanya menuju rumah. Penduduk desa yang berkumpul pun membubarkan diri.

“Tunggu, Ayah. Aku tadi menjanjikan makanan yang enak pada Jerapah itu. Kita harus memberikan makanan yang enak pada Jerapah itu, Ayah,” ucap Gadis Kecil pada ayahnya.

“Baiklah, nak. Hai, Jerapah. Kemarilah. Ada banyak makanan yang bisa kau makan di rumahku,” ucap Ayah Gadis Kecil pada Jerapah.

Mendengar hal itu, Jerapah pun berjalan mengikuti ayah dan anak itu.

Tak lama kemudian, mereka pun sampai di rumah. Ayah dan Gadis Kecil segera masuk ke dalam, sedang Jerapah menunggu dengan sabar di luar. Dari dalam rumah, terdengar suara ibu Gadis Kecil yang sangat senang melihat anaknya telah kembali. Suasana gembira terasa dari dalam rumah itu. Ayah Gadis Kecil pun lalu keluar membawa makanan untuk Jerapah. Makanan yang sangat banyak dan tentunya sangat lezat. Jerapah langsung menyantapnya. Dan di dalam rumah, Gadis Kecil pun melahap makanan yang sudah disiapkan ibunya di meja makan.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s