Gadis Hujan (1)

Gadis kecil itu hanya duduk terdiam. Kedua tangannya dilingkarkan di kedua kakinya yang ditekuk hingga dengkulnya menyentuh dada. Di kolong sebuah jembatan, di suatu sore yang disibukkan oleh arus lalu lintas kota, di tempat yang dia tak tahu di mana. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dia hanya bisa duduk. Diam, bimbang memandang rintik-tintik air yang terus membasahi jalanan.

Rintik hujan masih turun. Butir-butir air menetes dari balik beton jembatan. Ada yang merembes membasahi beton penyangga jembatan itu. Menjulur perlahan menuju bagian paling bawah. Beberapa tetes air jatuh ke tubuh gadis itu. Tapi, gadis kecil itu tidak merasakan tetes air yang jatuh di tubuhnya. Pakaiannya sudah basah. Kuyup. Semuanya. Rambutnya yang sepanjang bahu juga basah. Dia meninggigil kedinginan di kolong jembatan itu. Raut mukanya sudah mulai pucat. Kulit tangannya sudah berkerut, tanda sudah lama terkena air.

Gadis kecil itu coba bertahan dari dinginnya hujan. Pakaian yang basah dan tubuh yang mungil. Hanya mendekapkan seluruh tubuh cara yang dia tahu untuk membuat tubuhnya sedikit merasa hangat. Tidak ada handuk kering yang bisa membasuh air yang membasahi tubuhnya. Tidak ada sweater yang bisa membuatnya merasa hangat. Tidak ada segelas susu hangat. Dia hanya sendiri di situ, di tempat yang dia sendiri tidak tahu di mana.

Kadang dia coba memperhatikan daerah di sekitarnya, coba mencari tahu di mana tempat dia berada dan dengannya dia bisa jalan mana yang harus ditempuh untuk menuju ke rumahnya. Tapi ternyata, hujan deras dan lalu lintas yang sangat padat membuatnya bingung. Dia merasa asing pada tempatnya berada. Suara klakson kendaraan semakin membuatnya terasaing di kolong jembatan itu.

Beberapa kali dia menelungkupkan wajahnya di antara kedua kaki yang ditekuk. Dia coba mengingat jalan yang sudah dilalui hingga bisa sampai di tempat itu. Dia coba mengingat semua jalan yang sudah dia lalui. Sekuat tenaga. Mulai dari pertama kali melangkahkan kaki dari halaman rumah hingga akhirnya dia berhenti di tempat itu. Namun, sekuat apapun dia coba mengingat semua hal yang dilakukannya hari itu, gadis kecil tetap tidak bisa menemukan jalan menuju ke rumahnya. Dan setelah sadar tidak bisa mengingat jalan menuju rumahnya, tanpa disadari, air matanya pun menetes. Sambil tetap duduk tertelungkup di kolong jembatan menahan udara dingin, gadis kecil menangis sendiri.

Sudah cukup lama dia duduk di situ. Daerah sekitar tempat dia duduk basah karena air yang merembes dari pakaiannya. Hari sudah menjelang sore dan hujan masih juga belum reda. Tubuh mungil itu mulai kehabisan tenaga. Udara dingin, badan dan pakaian yang basah, perut yang belum terisi sejak siang tadi, serta isakan tangis menguras banyak cadangan tenaga yang dimiliki tubuh gadis itu.

Kadang dia berharap ibu dan ayahnya datang menjemputnya di tempat itu. Di antara gerimis hujan yang turun, mereka datang menghampirinya. Menembus hujan dengan berlindung pada payung, mereka datang. Membawakan selimut hangat, memeluknya, dan membawanya pulang. Tapi, tidak. Itu hanya khayalannya. Khayalan yang menimbulkan rasa penyesalan di dalam hatinya. Sesal karena perbuatan yang dilakukannya hari ini, yang membuatnya terduduk sendiri di kolong jembatan itu.

Siang tadi, dia terbangun dari tidurnya. Suara hujan yang turun dengan deras membangunkannya. Dia lalu menghampiri ibunya yang sedang sibuk menyiapkan makan malam di dapur.

“Ma…” panggil gadis itu sambil mengucek mata dengan tangan kirinya, sementara tangan kanan membawa boneka kesayangannya.

“Duh, sayang. Kok, kamu bangun, sih?” sahut ibu setelah mendengar panggilan anaknya. Ibu pun lalu menghentikan kegiatan memasaknya. Dia lalu menghampiri gadis kecil itu, memeluknya, dan menggendongnya kembali ke kamar.

Ibu pun membaringkan gadis kecil itu di tempat tidur. Menaikkan selimut dan mengusap dahi gadis kecil.

“Kamu tidur lagi, ya. Ibu mau masak dulu.”

“Enggak bisa.”

“Kenapa? Takut sama suara hujan?” tanya ibu.

Gadis kecil itu hanya terdiam.

“Ya sudah kalau begitu. Kamu main dulu di dalam kamar, ya. Ibu mau masak dulu. Selesai masak, ibu temani kamu, ya,” ujar ibu sambil mencium dahi gadis kecil. Ibu pun lalu keluar dari kamar itu, kembali melanjutkan pekerjaannya di dapur.

Gadis kecil itu tidak tahu harus melakukan apa. Coba untuk kembali tidur, dia tidak bisa. Dia pun turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah jendela. Dari jendela itu, dia pandangi hujan yang turun deras. Air sudah menggenangi jalanan di depan rumahnya. Halaman rumah yang ditutupi oleh rerumputan juga tergenang air. Gadis kecil itu terus memandangi hujan. Kepalanya disandarkan ke daun jendela.

Tak lama kemudian, dia melihat beberapa orang anak pria yang sedang bermain di luar. Anak-anak itu terlihat asyik bermain di tengah derasnya hujan yang turun. Mereka beradu lari. Kadang saling menendang genangan air. Kadang mereka tiduran di genangan itu dan menggerak-gerakkan tubuhnya seperti kupu-kupu yang mengepakkan sayapnya. Gadis kecil itu terus memperhatikan anak-anak yang sedang bermain di luar. Di dalam hatinya, dia sangat ingin seperti mereka. Bermain di tengah derasnya hujan. Dia membayangkan tubuhnya yang basah tersiram air hujan. Dia berlari di antara tetes-tetes air yang turun dari langit. Dia ingin keluar dari kamar itu.

Gadis kecil pun mulai melangkahkan kakinya, keluar dari kamar. Dia letakkan boneka kesayangannya di dekat jendela. Dia langkahkan kakinya perlahan-lahan, agar tidak ketahuan ibunya. Sampai di depan pintu, dia menarik perlahan pegangan pintu. Ketika engsel pintu mengeluarkan suara berdecit, dia berhenti sebentar. Dia menoleh ke belakang, berharap ibunya tidak mendengar suara decitan itu. Dan, memang ternyata tidak. Suara decitan itu terlalu kecil untuk sampai didengar oleh ibunya, apalagi ditambah suara hujan yang deras. Gadis kecil itupun berhasil keluar dari rumah tanpa diketahui oleh ibunya. Dia langsung berlari kegirangan. Menerpa hujan, coba mengejar anak-anak yang tadi dilihatnya dari jendela.

Tak lama, dia berhasil mengejar anak-anak itu. Tapi, anak-anak itu menolak kehadirannya.

“Kamu, kan, cewek. Masa cewek mau maen sama cowok,” ujar salah seorang anak.

Gadis kecil itu hanya terdiam mendengarnya. Bahkan saat anak-anak itu pergi meninggalkannya, dia masih saja terdiam. Gadis kecil tidak lagi berusaha mengejar anak-anak itu. Ada sedikit rasa kecewa di dalam hatinya karena penolakan itu. Tapi, dia sekarang sudah berada di luar rumah. Tubuhnya sudah basah. Sia-sia saja kalau kembali ke rumah sekarang, begitu pikirnya. Dia pun berlari sendiri di tengah hujan. Tanpa tujuan yang pasti, gadis kecil itu hanya ingin berlari di tengah derasnya hujan yang turun. Kadang kedua tangannya direntangkan, seperti ingin menerjang hujan yang mengguyur tubuhnya. Dia membayangkan dirinya adalah pesawat terbang. Meliuk-liuk di angkasa. Ah, tidak. Dia membayangkan dirinya seekor burung yang terbang bebas di udara. Seekor burung kecil yang tetap terbang bebas walau hujan turun dengan deras. Dia burung kecil yang baru saja menamatkan pelajaran terbang. Beberapa kali dia berteriak kegirangan. Itulah pertama kalinya dia bermain di luar rumah ketika hujan turun. Dia sangat senang. Kesenangan yang bahkan melebihi yang dia rasakan saat bermain dengan boneka kesayangannya.

Gadis kecil terus berlari. Hingga akhirnya terdengar suara klakson mobil. Gadis kecil itu pun tersadar dari khayalannya. Dia berada di tengah jalan raya. Sebuah mobil sudah berada di dekatnya, hampir saja menabraknya. Seorang pria di dalam mobil berteriak ke arahnya, menyuruh gadis kecil itu untuk segera menepi. Gadis itu pun menepi. Dia perhatikan daerah di sekitarnya. “Dimana ini?” tanyanya dalam hati. Mungkin dia mengenal daerah ini, tapi karena hujan yang turun dengan deras, pandangannya menjadi agak terganggu. Gadis itu pun akhirnya memilih untuk duduk di kolong jembatan. Berteduh sambil menunggu hujan reda. Jika hujan sudah reda nanti, mungkin dia bisa mengenali daerah ini.

Namun, hujan yang ditunggunya tidak kunjung reda. Hari sudah gelap. Lampu-lampu jalan sudah mulai menyala. Lampu-lampu kendaraan berseliweran melintasinya. Sesaat menyorot ke arah tubuhnya, lalu pergi meninggalkannya. Gadis kecil itu masih tetap duduk di kolong jembatan itu. Seluruh tubuhnya sudah gemetaran. Entah berapa lama lagi tubuh mungil itu bisa bisa bertahan di cuaca dingin.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s