KITA!

Inilah kita. Dua manusia. Dua tubuh. Dua jiwa. Dua hati. Dua pikiran. Lahir di dunia berbeda, kita tumbuh di lingkungan berbeda. Kau dengan keharuman bunga chrysant yang tumbuh di padang hijau. Barisan mahkota bunganya menghiasi padang rumput hijau. Wangimu tersebar di sela-sela batang-batang ilalang yang berayun-ayun mengikuti tiupan angin. Sedang aku? Aku adalah ilalang. Emmm… bukan. Aku mungkin bukan batang ilalang yang beruntung bisa menikmati sedikit keharuman bunga chrysant di padang itu. Atau mungkin, aku adalah ilalang. Ilalang yang tumbuh bersama ilalang-ilalang lain. Atau… entahlah. Yang pasti, aku tidak pernah menikmati keharuman bunga chrysant di padang itu.

Harus kuakui, pernah memang aku coba membayangkan wangi bunga chrysant. Di suatu siang, di bawah sinar matahari, aku tidur di sebuah padang hijau. Di tengah rimbunan ilalang. Kedua tanganku terentang. Mataku terpejam. Hidungku menyari. Coba meresapi wangi-wangi yang ada di padang itu. Kubayangkan beberapa bunga chrysant tumbuh di sekelilingku. Dan, bunga-bunganya sedang bermekaran. Indah dalam bayanganku. Ungu, kuning, merah, putih. Beraneka. Tapi, ketika hidungku terus menyari, tidak aku rasakan harumnya bunga chrysant. Aku tak mampu. Bahkan untuk sekadar membayangkan harum bunganya.

Berkali kucoba. Berkali kupaksakan imajinasiku. Tapi, selalu sama. Imajinasiku tak mampu untuk membayangkannya.

Ah, bunga chrysant. Tak terlalu indah, mungkin. Jika dibandingkan dengan mawar yang dipersembahkan seorang kekasih kepada pujaannya. Tak sepenting bunga melati yang selalu mengiringi manusia dalam siklus kehidupannya. Tak juga seistimewa anggrek yang memukau siapapun yang melihatnya, walau hanya sekilas.

Kaulah chrysant. Sederhana. Kau tumbuh di padang hijau ilalang. Mahkotamu memberikan keindahan di padang itu. Warna-warnimu menjadi sangat penting di antara hamparan ilangan. Menyegah kebosanan siapun yang menikmati padang itu. Membuat mereka terpana. Di antara yang sederhana, kaulah goresan warna yang memberi kesegaran.

Mungkin karena nasib. Atau, takdir. Atau inilah jalan yang sudah digariskan pada kita. Dua manusia yang hidup di lingkungan berbeda bisa bertemu. Menyatu. Setidaknya pernah, kita menjadi satu. Bukan diri, bukan tubuh, hanya hati. Tidak sepenuhnya memang, karena harus kita akui hati kita tidak benar-benar menyatu. Aku masih dengan duniaku dan kau dengan duniamu. Tapi setidaknya, kita pernah memiliki perasaan yang sama.

Tidak pernah sebelumnya aku berpikir untuk bisa mengalaminya. Kau yang begitu jauh akhirnya bisa sedekat itu denganku.

Bukan juga sebuah mimpi yang menjadi kenyataan ketika semua itu terjadi. Jujur, karena bahkan aku tidak pernah berani untuk memimpikannya. Tapi, itulah yang pernah terjadi di antara kita.

Pernah terbesit sebuah kemungkinan di dalam kepalaku. Berbagai kemungkinan yang membuat hal itu dapat terjadi. Mungkin sesuatu yang pernah terjadi di antara kita sebelumnya. Bukan hanya kita, dua manusia yang menjalani hal itu. Tapi, kita yang pernah menjalani kehidupan yang lain. Mungkin ada sesuatu yang belum kita tuntaskan di kehidupan itu. Ada hutang yang belum terbayar. Atau, sebuah janji yang belum terpenuhi. Atau, mungkin saja tentang perasaan yang belum sempat terungkapkan.

Mungkin juga pendahulu kita pernah berhubungan. Tidak harus dalam hal hubungan seperti yang pernah kita jalani. Bisa dalam beragam jenis. Bisa hanya sekadar bertemu. Ah, tidak. Terlalu berlebih. Bisa hanya sekadar saling menoleh. Beradu lirik di sebuah tempat yang disesaki kerumunan manusia. Tidak saling bertegur. Tidak juga saling memikirkan momen itu. Hanya terjadi dalam sekejap dan berlalu begitu saja. Tapi, itu yang membuat kita akhirnya dapat bertemu dan menjalani semua hal itu.

Atau… ada kemungkinan-kemungkinan yang lain. Yang bahkan tidak dapat terbayangkan oleh alam fantasi kita. Kita memang manusia dengan kemampuan untuk membayangkan segala hal yang mungkin saja terjadi. Tapi, kemungkinan itu terlalu banyak. Sampai-sampai, kita tidak dapat membayangkannya. Atau mungkin, tidak pernah ada kemungkinan seperti yang diduga.

Entahlah. Yang pasti, kita dua manusia yang pernah menjalaninya. Kita, dua manusia keturunan dari nenek moyang-nenek moyang terdahulu. Kita berasal dari dua manusia yang diturunkan ke bumi. Hanya saja, sejarah memisahkan kita. Tidak begitu jauh, tapi sangat berjarak.

Kita. Dua manusia. Dua insan yang pernah coba untuk menyatukan perbedaan. Tak peduli dengan dunia yang ada di sekitar kita. Acuhkan nasihat semua orang. Kita anggap perbedaan itu bukan sesuatu yang dapat memisahkan kita. Ah, harus kita akui, saat itu kita masih muda. Jiwa kita masih terlalu mudah untuk mengerti tentang perbedaan. Dalam hati kita, kita bisa melakukannya. Kita tidak bisa menerima kemustahilan, walau harus kita akui, kadang kita juga ragu dengan setiap langkah yang kita buat.

Kita tidak bisa membohongi diri sendiri. Selalu ada keraguan di dalam setiap langkah yang kita buat.

Namun, tidak. Kita tidak buta. Kita yang membuat diri kita seperti layaknya seorang buta. Selalu membohongi diri kita sendiri. Kita sebenarnya sadar tentang kemustahilan itu. Kita sadar jurang perbedaan yang menganga di antara kita. Tapi, kita terlalu naif untuk mengakuinya. Kita butakan mata kita sendiri untuk berpura-pura tidak melihat jurang itu.

Itulah yang membuat langkah kita terkadang ragu. Karena, kita tahu di antara kita ada sebuah jurang yang dalam. Kita tahu, jika kita salah melangkah, kita akan masuk ke dalam jurang itu. Karenanya, kita ragu melangkah untuk saling menghampiri. Karenanya, kita tidak pernah dapat bersatu.

Kita akan selamanya menjadi kita. Dua dunia. Dua manusia. Tidak akan pernah menjadi satu. Menyatu.

Sebenarnya, kita dapat saja membangun sebuah jembatan. Kau dari sisimu sedang aku dari sisiku. Kita bersama membuat rangka sebuah jembatan. Satu per satu kayu kita susun. Kita sambung, sampai akhirnya rangka itu bertemu di tengah-tengah. Setelah itu, rangka kita beri alas agar kita bisa melintas di atasnya. Tidak perlu besar, tidak perlu juga mewah. Sederhana saja, tapi yang penting kokoh – agar kita bisa dengan aman melintas di atasnya.

Sayangnya, kita telah lebih dulu membutakan mata. Kita tidak pernah terpikirkan untuk membangun sebuah jembatan. Kita tidak pernah memikirkan cara untuk dapat melalui jurang itu. Yang kita lakukan hanya coba terus berjalan di tepi jurang. Melangkahkan kaki perlahan, berhati-hati agar kita tidak jatuh ke dalamnya. Terus dan terus berharap bahwa di ujung jurang ini ada sebuah daratan yang menyatukannya. Tapi ternyata, harapan itu hanya ada di dalam hati kita. Tidak pernah kita melihat ada penghubung dari sisi-sisi jurang ini.

Ya, itulah kita. Dua manusia bodoh yang dikuasai ego. Anak muda yang tak pernah coba berpikir realistis. Tidak peduli dengan kenyataan. Kita hanya melakukan yang kita inginkan. Kita hanya berpikir sesuai dengan keinginan kita. Sesuai dengan kehendak kita. Tidak coba berpikir dengan logika. Tentang kemampuan dan kenyataan yang kita hadapi.

Dan sekarang, di sinilah kita. Di sebuah persimpangan. Kita tidak saling bersisian. Aku tidak di sisimu, begitupun kau. Kita menatap jalan berbeda. Jalan yang kita tempuh saat ini tak lagi sama.

Inilah mungkin yang seharus dari dulu kita lakukan. Menjalani jalan masing-masing. Berusaha sendiri menyapai masa depan. Tak perlu pedulikan ego masa muda. Tak perlu ambil pusing dengan perasaan. Inilah yang seharusnya kita tatap sejak dulu, masa depan.

Berjalanlah ke mana matamu memandang, karena itulah jalanmu. Aku pun akan menjalani jalanku sendiri. Tak perlu menoleh ke arahku, karena aku pun takkan melirik ke padamu. Sudahlah cukup semua kebodohan dan kesalahan yang pernah kita lakukan. Jangan pernah lagi menyangkal kalau di antara kita tidak ada perbedaan. Kita memang sama-sama manusia. Kita lahir dari rahim seorang wanita. Tapi akuilah, kita tidak sama. Setidaknya, untuk saat ini, satu perbedaan nyata di antara kita adalah jalan yang akan ditempuh. Itulah kenyataan. Kita tidak bisa berpaling darinya.

Teruslah berjalan. Tataplah terus ke dapan. Jangan sekali-kali menoleh ke belakang. Biarkanlah yang sudah terjadi. Biarkan kebodohan dan kesalahan itu menjadi bagian dari hidup kita. Bagian yang memang tidak indah, tapi menjadi pelajaran bagi masing-masing kita untuk bisa berpikir dengan logis.

Selamat jalan.

Lebak Bulus,
Februari-April 2009

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s