DI TEPI

Haruskah kembali membiarkan diri terlena dalam kebahagiaan yang begitu menyala atau berpikir sejenak untuk menyadari realita yang ada? Berada di dalam sebuah situasi yang tidak lagi asing. Situasi yang beberapa kali pernah dialami. Tidak sama persis memang, tapi setidaknya hampir sama.

Tidak mungkin membiarkan diri untuk kembali mengulangi kesalahan yang sama. Pengalaman di masa lalu telah memberikan pelajaran yang sangat berharga. Tidak bisa lagi bersikap tidak acuh pada kenyataan yang ada. Ada sebuah jurang dalam yang menganga di hadapan. Tidak mungkin mengabaikan jurang itu. Dia berada tepat di depan. Sedikit salah melangkah, maka akan jatuh ke dalam kehampaan tidak berujung. Itukah yang diinginkan?

Tidak tentunya. Semua orang pasti ingin merasakan bahagia, bersama orang-orang yang mereka sayangi. Tidak akan ada yang menyanggah hal itu. Tapi dalam keadaan seperti ini, di saat harus memilih siapa yang ingin kita bahagiakan dan bersama siapa kebahagiaan itu akan kita bagi, tidak mudah untuk menentukan sikap yang harus diambil.

Saat ini, kita bukan lagi sepasang remaja yang bisa dengan mudahnya menganggap sepele segala masalah yang mereka hadapi di dalam kehidupan ini. Dunia mereka masih muda. Masih banyak pelajaran yang belum mereka dapatkan dan harus mereka hadapi sendiri untuk bisa melalui proses dari remaja menjadi dewasa. Kita telah melalui proses itu. Kita tahu kenyataan yang kita hadapi. Haruskah kita bersikap kembali seperti sepasang remaja?

Bukannya aku ingin menghancurkan kebahagiaan yang baru saja kita rasakan. Tidak. Aku juga ingin terus merasakan kebahagiaan yang saat ini kita rasakan. Belum puas rasanya menikmati indahnya wajahmu. Masih ingin terus kudengar suaramu menceritakan segala hal yang telah kau alami. Tentangmu, tentang kehidupan yang pernah, sedang, dan cita-cita yang akan kau capai.

Masih ingin kulihat senyum malu di wajahmu. Saat mata kita beradu pandang, saat tatapan sembunyimu memperhatikanku tanpa sengaja kuketahui, wajahmu memerah. Kulit wajah sawo matangmu pun berubah seperti seorang anak gadis yang tersipu saat dibelikan boneka cantik oleh ayahnya. Aku menyukainya. Semua yang ada di dirimu, aku suka.

Namun, maaf, jika aku harus menghancurkan kebahagiaan yang baru sesaat kita rasakan. Bukan maksudku untuk melakukan itu. Aku tidak bermaksud melukaimu. Sungguh. Aku hanya ingin kita tidak terjatuh ke dalam jurang dalam yang menganga di antara kita. Tidak. Kita bukan lagi remaja. Kita adalah dua orang dewasa yang pernah melalui masa-masa seperti ini.

Pernah melaluinya, bersama pasangan yang berbeda. Dan sekarang, kita kembali dihadapkan pada kondisi yang tidak mudah untuk dilalui. Kita tidak pernah tahu apakah ada jalan keluar dari masalah yang sedang kita hadapi. Ataukah memang jalan itu tidak pernah ada.

Yang bisa kita lakukan sekarang, mungkin, berusaha mencari jalan itu. Sekecil apapun kesempatan untuk dapat menemukan jalan itu, kita harus mencarinya jika kita memang ingin melintasi jurang di antara kita. Aku bersedia melakukannya jika memang kamu menginginkannya.

Walau masalah yang kita hadapi sekarang hampir sama dengan yang pernah kita lalui di masa lalu, tapi sekarang kita sedang bersama dengan orang berbeda. Masa lalu biarkan menjadi pelajaran untuk menyelesaikan masalah yang sedang kita hadapi saat ini. Atau mungkin….

Sebenarnya, ada satu cara untuk terbebas dari masalah ini. Bukan jalan keluar karena kita tidak berjalan melalui segala hambatan yang diberikan oleh masalah ini. Terbebas walau bukan berarti kita telah mengalahkan permasalahan yang dihadapi. Hanya terbebas dari sebuah masalah. Berpaling meninggalkannya. Mengubah arah perjalanan. Tidak perlu mengkhawatirkan jurang yang menganga di hadapan kita. Karena, kita tidak akan pernah berjalan melalui jurang itu. Berbalik. Ubah arah tujuan. Jurang yang tadinya ada di hadapan berpindah ke belakang. Berjalan perlahan menjauh darinya. Dan, kita tidak akan pernah jatuh ke dalamnya. Setidaknya, untuk saat ini.

Namun, apakah itu yang sebenarnya kita inginkan? Entah.

Jujur, saat ini, aku terbagi menjadi dua. Satu sisi dari diriku masih ingin terus terlena dalam kebahagiaan ini. Tertawa bersamamu. Terus menggoda dirimu yang selalu salah tingkah ketika aku melakukannya. Kau begitu lucu saat itu. Secara spontan, kau melakukan hal-hal yang tidak seharusnya kau lakukan. Hanya demi untuk menutupi kegugupanmu, kau melakukan hal-hal yang tidak penting. Lucu dan aku menyukainya.

Masih ingin aku berlama-lama hanyut dalam perasaan ini. Perasaan yang telah lama tidak aku rasakan. Terutama, karena perasaan ini aku alami bersamamu. Ah, kau muncul begitu saja di hadapanku. Masuk ke dalam kehidupanku dengan cara yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.

Aku tidak pernah mengharapkan seorang bidadari hadir dalam perjalanan yang kulalui saat ini. Bukannya tidak berani, tapi aku memang menginginkan seorang wanita. Manusia sama sepertiku. Wanita yang dapat menerimaku apa adanya. Mungkin kau tidak pernah tahu betapa terkejutnya aku saat kau bilang, “Bawa aku masuk ke duniamu”. Perkataan yang tidak pernah kubayangkan akan keluar dari seorang wanita. Aku terkejut, dalam arti positif.

Aku bahagia. Bagaimana tidak. Tiba-tiba seorang wanita yang selama ini hanya ada di dalam angan-anganku hadir di hadapanku. Sederhana, tidak banyak menuntut, hanya ingin berjalan bersamaku. “Terlalu sempurna,” begitu pendapatku ketika awal mengenal dirimu hingga aku tak yakin dengan semua perkataan yang kau ucapkan. “Terlalu sempurna,” begitu selalu yang ada di dalam benakku tentang dirimu. Aku tidak yakin kau bersungguh-sungguh dengan semua yang kau ucapkan. Aku merasa kau sedang mempermainkan aku.

Hingga suatu saat, kau meyakinkan aku kalau semua yang kau ucapkan merupakan sebuah kesungguhan. Tidak ada hal lain yang bisa kurasakan kecuali bahagia. Dan, itulah yang kurasakan saat ini.

Namun, sisi lain dari diriku tidak ingin membiarkan aku terlalu terlena dalam kebahagiaan ini. Sebagian sisi itu menyadarkan aku pada kenyataan yang ada di antara kita. Ada perbedaan mendasar di antara kita. Dan, itulah yang menjadi masalah utama di antara kita saat ini.

Ketika aku meminta sedikit waktu untuk menyendiri bukan karena aku tidak ingin bersama denganmu. Jangan berburuk sangka dulu. Aku sangat ingin bersama denganmu. Sangat ingin. Aku masih ingin berbagi cerita denganmu. Tertawa bersama denganmu. Walaupun hanya melalui sebuah percakapan di tengah malam, aku sangat menikmatinya. Karena kuatnya keinginan itu, aku meminta sedikit waktu untuk menyendiri. Aku ingin sendiri di dalam duniaku. Maaf, bukannya aku tidak ingin mengajakmu masuk ke dalam duniaku. Tapi saat ini, aku hanya ingin sendiri memikirkan permasalahan yang kita hadapi.

Jangan juga berpikir kalau aku akan menyelesaikan masalah ini sendiri. Ini masalah kita dan kitalah yang harus menyelesaikannya, bersama. Aku hanya ingin meyakinkan diriku terhadap masalah yang sedang kita hadapi. Saat kita bertemu nanti, saat kita kembali bersama, aku akan memberitahumu semua yang telah kupikirkan selama aku menyendiri. Tulisan ini mungkin akan memberitahumu banyak tentang yang aku pikirkan.

Sungguh, sungguh, dan sungguh, aku sangat ingin bersamamu. Sungguh, sungguh, dan sungguh, aku ingin bahagia denganmu. Aku ingin kita bisa menyelesaikan masalah ini tanpa harus ada pihak lain yang kita kecewakan. Itu yang kita harapkan. Tapi, kita juga harus sadar bahwa kita hanya manusia biasa. Ideal memang jika kita bisa membuat semua orang merasa bahagia. Tapi terkadang, kita tidak bisa mewujudkan kondisi ideal itu. Harus ada pihak yang terpaksa kita ‘buat kecewa’ demi kebahagiaan pihak yang lain. Semua tergantung kita, mana yang dikorbankan dan mana yang didahulukan.

Benar katamu, “tidak adil”. Akupun merasa seperti itu. Kenapa harus ada perbedaan jika hanya untuk membuat kita merasa tersiksa. Sempat terpikir untuk egois: tak perlu memikirkan tentang dunia ini. Ini kehidupan kita. Kita yang menjalaninya. Kita yang membuat keputusan terhadap semua yang akan kita lakukan. Apa peduli dengan pendapat dan pikiran orang lain. Persetan dengan mereka. Tapi, bisakah kita seperti itu?

Aku sangat menghargaimu. Aku tidak ingin terlalu memaksamu, karena aku pun tidak ingin kau melakukan itu kepadaku. Saat ini, aku hanya bisa bilang: mari jalani semua ini. Berpikir secara dewasa. Jangan terbawa emosi. Kita cari jalan terbaik yang mungkin bagi kita.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s