SIKLUS

Selalu saja seperti ini. Memulai perjalanan dekat dari titik terakhir dan mengakhirinya sebelum kembali ke titik awal. Selalu seperti itu. Berulang dan berulang lagi. Berangkat dari pemberhentian di dekat tujuan perjalanan. Di pemberhentian itu, selalu memulai sebuah perjalanan baru. Padahal, hanya tinggal satu pemberhentian lagi sebelum sampai di tempat tujuan. Tapi, seakan tidak peduli (atau tak pernah ambil peduli), terus saja meneruskan perjalanan. Bukan ke arah yang menuju tempat tujuan, tapi sebaliknya. Arah perjalanan yang diambil selalu sama. Melawan arus, menuju tempat yang seharusnya menjadi titik keberangkatan. Menentang semua. Menentang arus yang datang dari awah berlawanan. Tidak peduli dengan terpaan yang datang dari arah depan. Tetap yakin akan sampai ke tempat tujuan. Tetap berpegang akan sampai di sana. Walaupun, perjalanan yang dilakukan tidak semakin mendekat ke tempat tujuan, malah menjauh.

Begitupun saat mengakhiri perjalanan. Akhir perjalanan yang dilakukan selalu di tempat yang sama. Tempat yang tidak seharusnya. Mengakhiri setiap perjalanan di titik pemberhentian yang tidak jauh dari tempat yang seharusnya menjadi awal keberangkatan. Inilah yang terus terjadi. Terus-menurus dilakukan. Tidak pernah belajar dari perjalanan sebelumnya. Selalu yakin dengan perjalanan yang ditempuh. Meski, di dalam hati, sempat timbul keraguan terhadap perjalanan yang dilakukan. Pikiran itu tersingkirkan. Tidak pernah diambil peduli.

Tidak bisa terus seperti ini. Tidak bisa melanjutkan semua ini. Ini semua harus dihentikan. Ini semua harus distop hanya sampai saat ini. Semua ini salah. Kesalahan yang terus terulang. Kesalahan sama yang selalu dibuat.

Selalu saja memulai dari akhir dan mengakhiri di awal.

Semua yang perjalanan yang ditempuh tidak mencapai mana pun. Selalu terhenti. Tidak sampai di tempat tujuan. Hanya menyisakan kenangan tentang kegagalan.

Sia-sia semua bekal yang telah dipersiapkan. Sia-sia semua tenaga yang telah dikeluarkan. Sia-sia semua usaha yang telah upayakan kalau hasilnya tetap sama.

Perjalanan adalah sebuah petualangan dari tempat asal ke tempat tujuan. Di tempat tujuan itulah, akhir dari sebuah perjalanan. Menikmati hasil perjuangan yang selama ini telah dilakukan. Mengenang masa-masa penuh tantangan. Berusaha untuk menempuh semua tantangan yang ditemui. Menguatkan hati untuk bisa sampai di tempat tujuan. Menguatkan tekad agar selalu bertahan di perjalanan yang sedang dilakukan. Tapi, jika perjalanan yang dilakukan tidak seperti yang semestinya, percuma semua tekad yang telah dikobarkan. Toh, akhirnya akan tetap sama.

Perjalanan merupakan sebuah pengalaman. Pengalaman menemui hal-hal baru yang selama ini belum pernah dirasakan. Melihat pemandangan yang selama ini hanya ada di dalam bayangan. Tentang sebuah desa yang dipenuhi oleh petani yang sedang memanen sawahnya. Padi-padi menguning tengah disemai. Dipisahkan gabah dari batangnya. Dipukul-pukul ke sebuah alat yang terbuat dari kayu. Gabah lalu dikumpulkan. Dimasukkan ke dalam karung lalu dibawa pulang. Sementara, batang-batang padi yang tersisa lalu dibakar. Abunya dapat menjadi pupuk untuk membantu menyuburkan sawah untuk musim tanam yang akan datang.

Pengalaman menikmati pemandangan sebuah gunung tinggi yang jauh. Puncaknya tertutup oleh kabut putih. Di bawahnya, terhampar sebuah hutan hijau yang rimbun.

Pengalaman menikmati hiruk pikuk lalu lintas sebuah kota yang padat. Kemacetan di hampir setiap jalan yang dilalui. Setiap pengendara saling bersaing untuk dapat mendahului yang lain. Berdesak-desakan merebut setiap ruang yang tersedia. Bunyi klakson selalu menjadi pendamping sertia yang sudah tidak asing lagi di telinga.

Pengalaman menikmati pemandangan yang selama ini tidak pernah terpikirkan oleh akal sehat. Pengalaman melihat seorang anak kecil yang harus bersaing dengan kerasnya kehidupan. Anak kecil yang seharusnya sedang menikmati indahnya masa kanak-kanak mereka. Anak kecil yang telah dicabut kesenangan mereka. Anak kecil yang harus rela berpanas-panasan turun ke jalan. Mengemis kepada setiap pengendara yang laju kendaraannya terhenti akibat padatnya lalu lintas. Anak kecil yang naik-turun dari satu bus kota ke bus kota yang lain. Memohon keibaan setiap penumpang.

Pengalaman melihat anak kecil yang hidup di dunianya sendiri. Bersama dengan teman-temannya, mereka membuat dunia mereka sendiri. Dunia yang tidak mungkin terjangkau oleh orang dewasa. Berlari berkejaran di pinggir jalan raya yang padat. Kadang, menghabiskan uang yang mereka dapat dari meminta-minta untuk sebuah kenikmatan.

Pengalaman melihat pembangunan yang tak pernah berhenti. Terus-menerus membangun. Tak kenal lelah. Tak ada kata cukup. Terus membangun segala fasilitas kenikmatan dunia. Tak peduli dengan semakin menipisnya lahan yang tersedia. Gusur kalau memang harus dilakukan. Usir kalau memang ada orang yang tidak rela untuk digusur.

Perjalanan merupakan sebuah pengalaman. Pengalaman bertemu dengan orang-orang baru. Seorang gadis yang baru saja ditinggalkan oleh kekasihnya. Kisah cintanya harus berakhir dengan duka karena sang kekasih sudah harus pergi dahulu akibat derasnya arus lalu lintas.

Pengalaman bertemu dengan seorang remaja yang hampir putus asa karena ijazah pendidikannya selama ini tidak diterima oleh perusahaan manapun. Usaha selama bertahun-tahun di bangku kuliah tidak membuat masa depannya menjadi cerah.

Pengalaman bertemu dengan seorang ibu yang sibuk mengurus anak-anaknya yang masih kecil. Berdesak-desakkan di tengah kepadatan bus kota. Seorang anaknya yang berada digendong terus menangis, sementara kedua anaknya yang lain tidak mau mengalah. Saling berebut tempat duduk yang ada di dekat jendela. Berebut untuk bisa melihat kemacetan lalu lintas.

Perjalanan merupakan sebuah pilihan. Pilihan yang harus dibuat setiap saat. Mulai dari detik menjejakkan kaki ke luar dari rumah. Menentukan pilihan perlengkapan apa saja yang akan dibawa sepanjang perjalanan. Menentukan pilihan perbekalan apa saja yang dibutuhkan sepanjang perjalanan.

Itulah perjalanan yang seharusnya dilalui. Dari titik awal sampai ke titik tujuan. Mengikuti arus. Terkadang memang ada saat untuk menentang arus. Coba menilai kemampuan diri. Tapi hanya sesaat. Setelah sadar dan tahu kemampuan diri, berbaliklah lagi. Mengikuti arus semula. Tidak perlu dilanjutkan keegoisan yang terus menipu diri. Coba terus bertahan melawan walau sebenarnya sudah sadar tidak akan dapat melaluinya.

Ada saatnya memang ketika ego menguasai diri. Ingin ke luar dari kebiasaan yang selama ini terjadi. Dalam perjalanan, hampir semua pejalan melalui fase itu. Bukan hal aneh. Bukan hal baru. Kadang memang harus melakukannya. Tapi, dalam sebuah perjalanan yang jauh, fase itu hanya bagian yang sangat kecil. Fase itulah yang akan memberikan pelajaran dalam mengarungi sisa perjalanan selanjutnya.

Sekarang, baiknya persiapkan kembali perbekalan. Buatlah rencana perjalanan yang baru. Jangan mengulangi kesalahan yang lama. Mulailah perjalanan baru. Buatlah rute yang dikendaki. Tapi ingat, tak perlu memaksakan ego. Sudah terlalu banyak pelajaran yang bisa diambil dari perjalanan-perjalanan sebelumnya. Tak perlu lagi melakukan kesalahan demi mendapatkan pengalaman yang sama. Percuma, karena sudah tahu hasilnya.

Ikutilah arus. Arus itulah yang dilalui oleh pejalan-pejalan sebelumnya, dan oleh pejalan-pejalan lain yang sedang melakukan perjalanan bersama. Tentunya, bukan arus itu bukanlah suatu kebodohan atau kesalahan. Sederhanya, tidak mungkin para pejalan akan terus mengikuti arus itu jika itu hanya akan menuju pada kesia-siaan. Ikuti saja yang sudah ada. Tak perlu melawan karena memang itu yang sudah digariskan.

15 Februari 2006- 8 Juli 2009

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s