PERNYATAAN

Akhirnya sebuah keputusan dibuat. Terlalu lama berdiri di depan sebuah persimpangan. Sendiri memikirkan pilihan yang akan dibuat: dengan siapa akan melalui perjalanan ini. Menentukan proses yang akan dijalani. Tidak jelas. Tujuan yang ingin dicapai masih jauh dari angan-angan.

Perjalanan yang dilakukan tiba-tiba terhenti. Berharap menemukan seseorang yang bersedia menemani. Tetapi bersediakah seseorang itu menemani perjalanan yang belum pasti tujuannya? Perjalanan yang kau lakukan baru saja dimulai. Masih jauh dari tempat tujuan. Bahkan untuk membayangkan tujuanmu saja kau belum bisa. Dalam hati, kau bertanya, adakah yang mau menemani perjalananmu dalam keadaan seperti itu?

Tapi, di tengah perjalanan, kau kehilangan arah. Tanpa seseorang yang menemani, kau bimbang dalam perjalananmu. Tidak ada yang bisa kau tanyakan pendapat mengenai langkah yang kau buat. Setiap jejak langkah kakimu penuh dengan keraguan. Perlahan-lahan menyentuh tanah. Tidak pernah yakin dengan pijakan yang kau pilih. Apakah ini yang benar-benar kau inginkan? Apakah tidak? Haruskah kau melangkahkan kaki kanan terlebih dahulu? Ataukah yang sebelah kiri?

Ketika ada sebuah ruas jalan kecil, kau menoleh kepadanya. Tertarik untuk coba melewati ruas kecil itu. Penasaran akan ke mana ruas jalan itu membawamu. Perlahan kau coba untuk membelokkan arah kakimu. Kau angkat perlahan. Langkah pertama menuju ruas jalan itu. Namun kau ragu. Bukankah jalan ini yang telah kau lalui sejak lama. Mengapa harus melewati ruas jalan yang baru, yang begitu asing bagimu? Kau tidak tahu sama sekali mengenai jalan itu. Melewati jalan itu adalah perjalanan asing bagimu.

Perlahan-lahan arah langkah kaki kau ubah lagi. Langkah pertama menuju ruas jalan itu kau tarik kembali. Kau lalu melangkah lagi di jalan semula. Selangkah demi selangkah kau tinggalkan jejak kakimu di jalan itu. Jejak ragu-ragu dalam perjalananmu. Matamu terus memandang ke depan. Mencoba menyelidik apa yang ada di ujung perjalananmu. Tapi hatimu masih berpikir tentang ruas jalan tadi. Dalam hatimu masih bertanya-tanya tentang ruas itu. Apakah ruas itu yang seharusnya kau lewati dalam perjalanan kali ini?

Sendiri melalui perjalanan ini terkadang membuatmu merasa nyaman. Kau tidak perlu menunggu langkah siapapun. Kau bisa berhenti di suatu tempat sesuai dengan kehendakmu. Tak perlu mendengar pendapat siapapun. Tidak ada seorang pun yang akan memarahimu ketika kau berbuat kesalahan. Tidak ada yang akan menamparmu ketika kau kehilangan kesadaran karena terlalu lelah dalam perjalanan. Tidak ada yang akan memelukmu ketika udara begitu menusuk. Kau sendiri. Di dalam tidurmu, kau menggigil kedinginan. Dalam situasi seperti ini, kau berpikir untuk mencari seorang teman perjalanan. Kau butuh seorang teman yang selalu menemanimu. Kau butuh seorang pendamping untuk menjagamu agar tidak salah dalam memilih arah perjalanan. Kau butuh seorang kekasih untuk menyandarkan kepalamu. Bersandar ketika kau merasa terlalu lemah untuk melakukan perjalanan ini. Memelukmu ketika udara dingin membuatmu menggigil. Melindungimu ketika kau takut menghadapi kenyataan. Kau membutuhkan seseorang yang bisa memberikan semangat ketika kau merasa pesimis dengan perjalanan yang kau lakukan. Ketika kau merasa lelah dengan semuanya. Kau perlu seseorang yang akan kau bahagiakan di akhir perjalananmu.

Tapi, selalu saja keraguan itu muncul. Apakah benar-benar ada seseorang yang bersedia menemanimu dalam perjalanan ini? Beberapa kisah telah kau dengar. Kisah tentang kekasih yang hanya mau menemani ketika seseorang berhasil sampai di tempat tujuannya. Kisah tentang seseorang yang ditinggal kekasih yang enggan menemani melalui perjalanan. Sama dengan orang tersebut, sampai saat ini kau tidak tahu kapan perjalananmu akan berakhir. Berhasilkah sampai di tempat tujuan yang kau inginkan? Bahkan, kau pun belum yakin akan keberhasilan mencapai tempat tujuanmu. Terlalu banyak spekulasi dalam perjalananmu. Kau ragu akan ada seseorang yang akan bersedia menemanimu dalam keadaan yang belum pasti seperti ini.

Kau hanya bisa terus berharap. Berharap datangnya seseorang yang dengan kesabarannya selalu menemanimu melalui semuanya.

Kau juga pernah mendengar beberapa kisah lainnya. Tentang kesetiaan seorang kekasih menemani di dalam perjalanan. Tidak peduli seberapa jauh dan lama perjalanan yang dilakukan, kekasih tersebut selalu menemani. Bahkan, tidak peduli kalau pada akhirnya tidak berhasil tiba di tempat yang dituju. Seorang kekasih selalu memberikan kesetiaannya. Menemani dan terus berada di sisi apapun yang terjadi.

Harapanmu semakin melambung. Tinggi. Setiap langkah yang kau jejakkan, setiap arah yang kau pandangi, kau selalu berharap akan bertemu dengan kekasihmu. Kau selalu seperti itu. Tidak jarang kau sampai membuat bayangan tentang kekasihmu. Ketika kau benar-benar merasa membutuhkan kehadirannya, pikiranmu membuat bayangan kekasih yang sangat kau ingin. Seakan-akan dia ada di hadapanmu. Tersenyum manis ke arahmu. Merentangkan kedua tangannya menyambut kedatanganmu. Kau melakukannya ketika kau sedang berada di dalam keraguan. Kau sadar dengan kesendirianmu. Tapi terkadang, perjalanan ini terlalu berat untuk kau lalui sendiri. Dengan membuat bayangan tentang kekasihmu, kau membuat dirimu bangkit. Semangatmu kembali meningkat. Kau merasa di depan sana ada seseorang yang selalu menunggu kedatanganmu. Kau kembali bersemangat melanjutkan perjalananmu.

Sebenarnya kau tidak selalu sendiri dalam perjalanan ini. Penah ada yang menemanimu melalui setiap langkah yang kau buat. Berada di sisimu setiap kali kau menjejakkan langkahmu. Hanya saja mereka kini tidak ada lagi di sisimu. Yang pertama kau tinggalkan. Keragu-raguannyalah yang membuatmu meninggalkannya. Yang kedua pergi darimu. Dia tidak lagi kuat menahan tekanan karena ketidakjelasan perjalananmu. Perjalanan yang kau lakukan tidak jelas kapan akan berakhir dan akan sampai di mana. Dia tidak bisa selalu berada dalam situasi seperti itu.

*

Kau pernah diterangi cahaya dalam perjalanan ini. Dia menerangi setiap langkahmu. Membimbingmu untuk berjalan ke arahnya. Menuntunmu untuk menjadi seperti yang dia inginkan. Kau tidak lagi peduli dengan tujuanmu semula. Kau hanya peduli dengan tujuan yang diinginkannya. Kau melupakan arahmu. Kau hanya mengikuti arah jalan yang ditunjukkannya.

Cahaya itu begitu terang. Tidak pernah kau mengalami kegelapan walau di malam yang mendung. Kau selalu ditemaninya. Tapi, mungkin, cahaya itu terlalu terang bagimu. Kau menjadi terlalu bergantung padanya. Cahayanyalah satu-satunya harapanmu dalam melalui setiap jengkal jalan yang kau lalui. Kau tidak lagi percaya kemampuanmu. Kau membunuh dirimu. Kau begitu merendahkan dirimu di hadapannya.

Pernah suatu saat kau berada di sebuah persimpangan. Sebenarnya kau ingin melanjutkan perjalanan dengan berbelok ke kanan. Melakukan sesuatu di sebuah tempat yang begitu kau impikan. Sudah lama kau ingin pergi ke tempat itu. Berbagai impian sudah ada di dalam kepalamu. Kau ingin melakukan banyak hal di tempat itu. Tapi ternyata, cahayamu menginginkanmu berbelok ke arah kiri, karena di sanalah dia berada. Dia ingin kau selalu berjalan menujunya. Dia tidak ingin kau pergi menjauh darinya. Dia tidak ingin cahayanya redup dalam perjalanan yang kau lakukan.

Cahaya itu memohon kepadamu. Memintamu untuk berjalan menuju arah yang dia tentukan. Kau ragu. Kebimbangan mucul di dalam hatimu. Kau tidak ingin kehilangan cahayamu, tapi kau juga tidak ingin melupakan cita-citamu pergi ke tempat impianmu.

Kau berusaha meyakinkan dia. Kau bilang padanya kalau kau akan sering mengunjunginya. Pergi ke tempat impianmu tidak akan membuatmu melupakannya. Tapi cahayamu tidak dapat menerimanya. Dia tidak ingin kau berada jauh darinya. Dia ingin selalu bersamamu. Dia ingin selalu menemanimu.

Kau lalu mengajaknya untuk pergi bersama ke tempat impianmu. Namun, dia menolak. Baginya tempat dia berada sekarang adalah rumah untuk selamanya. Dia tidak mungkin pergi dari rumahnya. Dia tidak ingin pergi meninggalkan tempat yang sudah ditinggalinya sejak lama. Walaupun bersama denganmu, dia tidak ingin pergi meninggalkan rumahnya. Yang dia inginkan adalah kau tinggal bersamanya. Menetap di rumah yang ditinggalinya.

Kau bingung menentukan pilihan. Kau sadar bahwa arah manapun yang kau pilih, kau akan merasakan kehilangan. Berkali-kali kau coba untuk meyakinkan hatimu. Menoleh ke kanan dan ke kiri mencoba meyakinkan diri arah mana yang terbaik bagimu. Dan, cahaya terangnya membuatmu memutuskan untuk berbelok ke arah kiri. Melupakan tempat impianmu.

Kau sudah sangat bergantung padanya. Kau tidak ingin kehilangan cahaya itu. Kau berpikir akan tersesat kalau berbelok ke arah kanan. Dalam kegelapan, kau tidak dapat melihat jalan. Kau tidak lagi percaya pada kemampuanmu sendiri.

Dia begitu senang dengan keputusan yang kau buat. Dia senang kau berjalan ke arah yang dia tentukan. Kau lalu malayang. Tidak lagi melangkah. Kau dibawanya ke atas. Ke langit. Semakin mendekat padanya. Kau pun menikmati hal itu. Kau berharap untuk bersama dengan dia selamanya.

Semakin lama kau semakin tinggi. Kau tidak pernah menoleh ke arah bawah. Kau sudah melupakan jalan-jalan yang kau lalui. Setiap tapak yang pernah kau buat dalam perjalananmu tidak lagi berarti. Kau sudah melupakan itu semua. Cahayanya begitu menguasaimu. Hanya cahayanya yang ada di dalam pikiranmu dan di matamu. Kau tidak bisa melihat hal lain. Hanya cahaya itu yang dapat kau lihat.

Tapi itu tak berlangsung lama. Sebuah bisikan membuatmu teringat akan rumahmu. Kau ingin berkunjung ke rumahmu. Kau rindu terhadap keluargamu. Kau lalu sampaikan keinginanmu kepadanya. Kau ingin dia menemanimu ketika kau kembali ke rumah. Memperkenalkannya kepada keluargamu. Tapi dia tidak menyetujui hal itu. Dia tidak ingin pergi dari rumahnya. Dia tidak ingin sejengkal pun keluar dari rumahnya. Dan, dia pun tidak ingin kau pergi menjauh darinya. Dia ingin kau selalu bersamanya.

Perjalananmu menuju cahaya itu belumlah selesai. Kau belum tiba di rumahnya. Dan kini, kau ingin kembali ke rumahmu. Dia sangat sedih. Dia ingin kau terus melanjutkan perjalananmu menuju rumahnya. Dia ingin kau segera tiba di rumahnya.

Kau kembali berada dalam situasi yang membuatmu bimbang. Kau kembali dihadapkan untuk membuat sebuah pilihan. Kau berhenti sejenak. Kembali mencoba membuat sebuah pilihan. Meyakinkan diri pilihan yang terbaik bagimu.

Kau pun lalu memutuskan untuk berbalik arah. Kau bilang padanya tentang keputusanmu. Kau akan kembali ke rumah. Selama ini cahayanya selalu menerangi jalanmu, tapi sekarang kau harus melupakan itu semua. Perlahan kau turun kembali ke jalan yang dulu sempat kau tinggalkan. Kerinduanmu pada keluarga begitu besar. Kau ingin kembali merasakan kehangatan keluargamu. Kasih sayang dari seorang ibu. Ayahmu yang selalu melindungimu. Kau ingin kembali bergurau dengan saudara-saudaramu.

Kau sadar kau telah kehilangan cahaya itu. Kau sedih. Tapi itulah pilihan yang telah kau buat.

Dia pun merasakan kesedihan yang sama. Cahayanya tak lagi menerangi perjalananmu. Dia telah kehilangan dirimu.

Sempat dia menawarkan padamu untuk kembali berjalan menuju arahnya. Coba meyakinkan dirimu tentang akhir perjalanan yang akan ditemuinya. Tentang kehidupan yang penuh dengan cahaya. Tentang kehidupan yang akan kau lalui bersama dengan dirinya. Kau pun sempat terpikir untuk kembali menempuh perjalanan itu. Perlahan kakimu mengarah ke tempatnya. Namun kau ragu. Keraguanmu terhadapnya tiba-tiba muncul. Kau ragu akan kehilangan keluargamu. Kau takut tidak dapat kembali lagi merasakan kehangatan sebuah keluarga. Kau takut untuk berpisah dengan orangtuamu.

Berjalan menuju arahnya memang sebuah keinginanmu, tapi tidak bila pada akhirnya kau akan kehilangan keluargamu. Dia masih tetap seperti semula. Dia tidak ingin meninggalkan rumahnya walaupun untuk sesaat. Pergi berkunjung ke rumahmu. Dia hanya ingin kau yang berjalan ke arahnya. Dan kau akan terus hidup bersamanya. Tidak lagi berjalan menjauh darinya.

Pikiran itupun akhirnya kau buang. Kau menolak untuk kembali berjalan ke arahnya. Kau memilih untuk berjalan di jalan yang baru. Kau akan kembali memulai perjalananmu, tapi melalui jalan yang berbeda. Sebuah jalan yang baru. Setiap jejak langkah yang pernah kau tinggalkan adalah masa lalu. Kau ingin memulai perjalanan yang baru. Langkah-langkah baru.

*

Kau menikmati dengan perjalananmu yang baru. Semua hal yang kau temui merupakan hal baru. Semua yang kau lihat adalah pemandangan baru. Pengalaman baru yang kau alami. Kau sangat tertarik dengan semua itu. Hal-hal baru dalam perjalanan ini membuatmu bersemangat. Kau menemukan tujuan baru dalam perjalananmu. Sebuah tempat yang membuatmu yakin akan sampai di sana.

Tapi ternyata bayangan cahaya itu belum terlepas dari perjalananmu. Seringkali kau berpikir tentangnya. Tentang cahaya yang sempat menerangi perjalananmu. Tentang betapa mudahnya melalui jalan-jalan yang diterangi cahayanya. Tapi pikiran itu kemudian menyiksamu. Kau menjadi takut untuk berjalan di siang hari. Kau takut dengan cahaya. Siang selalu membuatmu berpikir tentangnya. Kau memilih untuk hanya melanjutkan perjalanan ketika hari sudah gelap. Ataupun kalau kau harus berjalan di siang hari, kau akan memilih untuk melalui jalan yang tertutup pepohonan. Kau tidak ingin terkena cahaya. Kau membawa dirimu dalam kegelapan.

Sempat pula timbul rasa penyesalan di dalam hatimu. Rasa sesal dengan keputusan yang telah kau buat. Meninggalkannya merupakan sebuah kesalahan. Itulah yang ada di dalam pikiranmu. Pikiran yang terus menyiksamu. Membuatmu akhirnya memutuskan untuk berhenti sejenak. Tidak lagi melanjutkan perjalanan ini. Di dalam sebuah gua, kau melewatkan hari-harimu. Kau menyiksa dirimu dengan kesendirian dan kegelapan.

Ketika malam, kau selalu keluar dari gua itu. Berdiri di depan gua sambil menatap langit. Berharap ada setitik cahaya yang dapat kau lihat. Berharap dia masih mau memberikan cahayanya padamu. Tapi, itu tak pernah terjadi. Kau hanya bisa terus berharap. Menunggu. Sesaat kau melupakan tempat tujuanmu. Kau enggan untuk melanjutkan perjalananmu. Terlalu sulit bagimu untuk melanjutkan perjalanan ini. Penyesalan terhadapnya selalu mengganggumu. Kau tidak yakin dengan perjalanan yang kau lakukan.

Lama kau tinggal di dalam gua itu. Kau coba untuk berbuat sesuatu di dalam gua itu. Berharap suatu saat semua yang kau perbuat dapat membantumu mencapai tempat tujuan. Sampai pada akhirnya seseorang datang mengunjungi guamu. Dia menawarkan padamu perjalanan yang baru. Tidak seperti yang telah kau lakukan sebelumnya. Perjalanan baru untuk kau tempuh. Menemukan hal-hal baru yang belum pernah kau rasakan.

Dia mengajakmu ke laut. Menyelam ke dalamnya. Melihat keindahan yang ada di dalamnya. Mengenal semua mahluk yang hidup di dalam laut. Kau tertarik dengan tawaran itu. Bagimu tawarannya adalah perjalanan baru yang mungkin sudah kau lakukan sejak dahulu.

Bersama dengannya, kau lalu berjalan ke arah laut. Awalnya kau ragu untuk menyelam ke dalam laut. Kau hanya berjalan di pinggir pantai. Merasakan setiap ombak yang datang. Perlahan-lahan kau menikmati semua itu. Kau pun mulai menapakkan kakimu ke dalam laut. Di air yang dangkal, kau melihat kakimu ada di dalam air. Kau nyaman dengannya. Kau nyaman dengan air. Semakin lama semakin jauh kau berjalan ke arah laut. Sedikit demi sedikit tubuhmu dibasahi oleh air laut. Pakaianmu basah. Tubuhmu basah.

Kau lalu berenang menuju ke tengah laut. Ayunan tanganmu semakin membawamu ke tengah laut. Menjauh dari daratan. Terus kau mangayunkan kedua tanganmu. Tapi kau tidak merasakan lelah. Kau terus saja berenang. Tidak peduli seberapa jauh kau dari daratan. Kakimu tak lagi berpijak. Air tidak dapat menjadi pijakan bagimu.

Dia selalu ada di sisimu. Menemanimu di setiap ayunan tanganmu. Dia lalu mengajakmu untuk menyelam ke dalam lautan. Awalnya kau ragu. Kau takut tidak bisa benapas. Kau bukanlah ikan. Kau takut akan tenggelam. Apalagi kau merasa nyaman berada di atas lautan. Air yang tenang membuatmu nyaman. Kau takut kehilangan kenyamanan ini. Apalagi ketika kau melihat ke dalam laut, yang kau lihat hanya kegelapan. Kau takut tersesat. Takut kau tidak dapat melihat arah yang ada di hapadanmu.

Dia meyakinkanmu. Tentang keindahan yang tersembunyi di dalam kegelapan laut. Dan baginya, kegelapan itu akan hilang ketika kau menyelam ke dalamnya. Kaulah yang akan menerangi kegelapan itu. Baginya, kaulah cahaya yang dapat menunjukkan keindahan laut.

Kau menyukai caranya meyakinkanmu. Mulai sedikit demi sedikit menenggelamkan dirimu ke dalam lautan. Menyelam bersamanya.

Sepanjang perjalanan, dia selalu memujamu. Memujamu sebagai cahaya yang menerangi lautnya. Kau semakin menyukainya. Semakin membuatmu yakin dengan perjalanan yang kau lalui. Menyelam semakin dalam.

Seperti pada perjalanan yang lainnya, kau kembali melihat hal-hal baru. Ikan-ikan yang berwarna-warni. Berenang bergerombol. Ada pula terumbu karang yang sangat indah. Tumbuhan-tumbuhan laut yang belum pernah kau lihat sebelumnya. Kau menyukainya. Semua itu membuatmu terpesona. Bersamanya, kau menemukan dunia yang baru.

Dia pun tidak melarangmu ketika suatu saat kau ingin kembali ke rumah. Kadang dia menemanimu dalam perjalanan menuju rumahmu. Dia ingin selalu bersama denganmu. Tidak peduli ke manapun kau pergi. Di sisimu, dia selalu. Setiap kali itu pula, kau akan kembali menyelam ke dalam lautan. Kau selalu kembali padanya.

Kenyamanan yang diberikannya padamu semakin lama semakin membuatmu lupa akan tempat asalmu. Kau tidak lagi punya keinginan untuk kembali ke daratan. Kau tidak ingin lagi menapakkan kedua kakimu di atas jalan seperti yang pernah kau lakukan sebelumnya. Tidak ingin lagi untuk pergi mengunjungi rumahmu. Bertemu dengan keluargamu. Perjalanan yang kau lakukan hanyalah bersamanya. Setiap detik yang kau lewati adalah dengannya berada di sisimu.

Dia lalu mengajakmu ke tempat tinggalnya. Melewati sebuah terumbu karang yang sangat indah. Berbagai jenis ikan berenang. Ikan yang penuh dengan warna-warni. Tempat tinggalnya berada di antara terumbu karang yang begitu indah. Kau takjub melihatnya. Tapi sebelumnya, kau harus melewati dulu sebuah hutan di dalam laut. Hutan yang penuh dengan tumbuhan laut yang menjalar. Menutupi keindahan terumbu karang yang ada di belakangnya.

Memasuki tempat tinggalnya membuatmu merasakan kenyamanan yang tidak pernah kau alami sebelumnya. Tempat itu membuatmu melupakan perjalananmu. Kau seakan ingin menghentikan perjalananmu dan tinggal untuk selamanya di tempat itu. Kau ingin bersama dengannya di tempat itu.

Tapi ternyata tidak semudah yang kau bayangkan. Kau adalah mahluk darat, sedangkan dia berasal dari lautan. Kalian berbeda. Kalian tercipta dari dunia yang berbeda. Memang selama ini kau mampu untuk terus bertahan untuk hidup di dalam lautan. Tenggelam di dalamnya. Kau mampu terus berada di sampingnya. Tapi seberapa besar usaha yang kau lakukan, kau tidak mampu mengubah keadaan bahwa kau dan dia berasal dari dunia yang berbeda.

Kau ingin sekali memilikinya. Memegang tangannya. Memeluk tubuhnya. Kau ingin dia selalu berada di sisimu. Dia pun menginginkan hal yang sama denganmu. Dia menginginkanmu. Pujaannya yang sangat berarti baginya. Tapi impian kalian tidak mengubah apapun. Kalian tidak bisa mengubah keadaan.

Kalian terus berusaha meyakinkan diri masing-masing. Mencoba menipu kata hati kalian. Mengelebaui asal-usul kalian. Mencoba untuk terus berpikir kalau kalian adalah satu. Tidak ada perbedaan di antara kalian.

Kebohongan demi kebohongan kalian ciptakan di dalam diri masing-masing. Mencoba untuk terus bertahan dari keadaan yang kalian pun sudah menyadari kalau kalian tidak bisa melakukan semua itu. Hanya penipuan terhadap diri yang terus kalian lakukan. Hingga akhinya suatu saat kalian lelah dengan semua kebohongan yang kalian lakukan. Sudah terlalu lama kalian menipu diri masing-masing. Lelah dengan semuanya. Lelah dengan usaha yang kalian buat. Usaha yang sejak lama kalian sadari tidak akan berhasil. Kalian pun memutuskan untuk berhenti dengan semua yang kalian lakukan. Cukup bagi kalian semua yang telah kalian lakukan. Usaha yang dilakukan sudah sampai pada titik maksimal. Kalian tidak dapat lagi untuk melakukan sesuatu yang dapat mengubah kenyataan.

Perpisahan adalah sesuatu yang tidak pernah ada di dalam pikiran kalian sebelumnya. Sesuatu yang tidak pernah kalian bayangkan akan terjadi. Dan kini kalian harus melakukan itu. Kalian harus berjalan di jalan masing-masing. Meninggalkan semua kisah yang telah kalian lakukan. Menjadikannya sebagai sebuah cerita yang akan selalu menjadi bagian dari kehidupan kalian.

Tidak perlu timbul penyesalan karena kalian sudah mencoba segalanya. Tidak perlu rasa kecewa karena kalian sadar yang kalian sudah melakukan semuanya. Inilah jalan yang harus kalian lalui. Perjalanan yang akhirnya tidak pernah sampai ti tempat tujuan.

*

Kau lalu berenang ke daratan. Mencoba untuk memulai lagi sebuah perjalanan yang baru. Sendiri kau lalui setiap langkah yang kau buat. Berusaha untuk mencari tujuan baru. Berusaha meyakinkan diri kalau kau akan mampu melalui perjalanan ini sendiri. Tidak ada pendamping dalam perjalananmu tidak membuatmu menghentikan perjalanan yang akan kau lalui. Langkah demi langkah kau buat. Satu per satu tapak kakimu kau tinggalkan di jalan.

Sempat terpikir di dalam benakmu untuk tidak pernah membiarkan seorang pun menemanimu dalam perjalanan kali ini. Berusaha untuk mampu melakukannya sendiri. Tidak lagi ingin mencoba untuk membuat dirimu bergantung pada orang lain. Takut akan perpisahan. Takut kembali lagi mengecewakan. Semua yang kau jalani sekarang adalah perjalananmu sendiri menghadapi segalanya.

Tapi terkadang perasaan itu timbul. Kerbutuhan akan adanya seorang pendamping dalam perjalanan ini. Seseorang yang mampu membuatmu bangkit ketika semangatmu hancur. Seseorang yang akan memelukmu ketika udara dingin membuatmu menggigil. Seseorang yang akan selalu menganggapmu pejuang. Tak peduli semua kekalahan yang pernah kau alami. Tak peduli dengan semua jejak ragu-ragu yang pernah kau buat. Baginya kaulah orang yang mampu membawanya ke tempat tujuanmu.

Beberapa kali kau mencoba berkenalan dengan orang yang kau temui sepanjang perjalanan. Mencoba memulai sebuah pembicaraan. Mengetahui lebih dalam tentang orang yang baru kau temui tersebut. Mencari kemungkinan agar ia bisa menjadi pendamping perjalananmu. Tapi tidak ada satupun yang membuatmu yakin pada mereka. Ada memang yang menawarkan dirinya untuk menjadi pendamping perjalananmu. Meyakinkanmu untuk membawanya di dalam perjalanan yang kau lakukan. Tapi kau menolaknya. Bagimu, dia bukanlah pendamping perjalanan yang kau inginkan. Entahlah, kau tidak tahu dengan pasti alasan kau menolaknya. Hanya saja kata hatimu mengatakan seperti itu. Dan kau sangat mempercayai kata hatimu.

Di waktu yang lain, ketakutan juga muncul di dalam hatimu. Takut kau akan gagal dalam perjalanan ini. Kau akan membuat kecewa pendampingmu. Semua yang telah dia berikan, membuatmu sangat takut untuk membuatnya kecewa. Kau ragu dengan usahamu mencari pendamping perjalanan.

Tidak ada seorang pun yang layak menerima kegagalan. Dalam perjalanan ini, kau tidak tahu hasil akhir yang akan kau peroleh. Dan kau tidak ingin itu terjadi. Mengecewakan seseorang yang dengan segala kesetiaannya menemanimu dalam perjalanan yang kau lakukan. Membuatnya merasa sia-sia terhadap yang telah dia berikan padamu.

Kau menjadi bimbang. Kau ragu dengan apa yang akan kau lakukan. Mencoba meyakinkan diri dengan pilihan yang akan kau buat. Meyakinkan diri bahwa pilihan yang akan kau buat adalah pilihan yang tepat.

Kau lanjutkan perjalananmu. Langkah-langkah yang kau buat terasa berat. Sambil bertanya dalam hati, kau gontai dalam perjalanan ini. Belum terlalu pasti dengan langkah yang kau ambil. Ingin rasanya kau berhenti sejenak dalam perjalanan ini. Merenungkan sejenak pilihan-pilihan yang ada di dalam hatimu. Meyakinkan diri sebelum akhirnya kau lanjutkan perjalanan ini. Tapi perjalanan ini tidak mengizinkanmu melakukannya. Dia memaksamu untuk terus melangkah. Tak peduli dengan keraguan di dalam hatimu. Kau melanjutkan perjalanan ini dengan segala keraguan yang ada di dalam hatimu atau kau akan kehilangan jalan yang telah kau pilih.

Kau lalu tiba di sebuah persimpangan. Langkahmu kau hentikan di depan persimpangan itu. Bimbang untuk memilih arah mana yang akan kau pilih. Bimbang untuk melanjutkan arah perjalananmu ini. Terus melanjutkan jalan yang selama ini kau lalui ataukah mencoba jalan lain. Perlahan kau tengokkan kepalamu ke arah jalan yang baru. Mencoba mencari tahu keadaannya. Sedikit demi sedikit kau geser kakimu mendekat pada jalan itu. Kau perhatikan dengan seksama. Kau lihat semua tumbuhan yang tumbuh di sisinya. Kau amati betul-betul jalan itu.

Tak lama kemudian seseorang datang dari jalan itu. Berjalan di depanmu. Kau lalu menghampiri orang itu. Kau tanyakan akhir dari jalan itu. Kalian lalu berbincang. Dia menceritakan semuanya. Tentang semua yang pernah ditemuinya selama menyusuri jalan itu. Tentang sebuah tempat yang sangat indah di ujung jalan ini. Sebuah danau dengan air yang sangat jernih. Tentang segerombolan rusa yang selalu berlari ke arah danau dan meminum air danau. Tentang keindahan yang tidak akan kau temui di manapun. Dia sangat bersemangat menceritakan padamu. Kau pun begitu. Kau mendengarkan semua ceritanya dengan seksama. Semua yang diceritakan membuatmu penasaran untuk menyusuri jalan itu. Mengunjungi danau yang ada di ujung jalan.

Selesai menceritakan semuanya, dia pergi meninggalkanmu. Melanjutkan perjalannya. Meninggalkanmu di persimpangan itu. Sebelumnya, kau pun tak lupa mengucapkan terima kasih padanya. Terima kasih untuk semua cerita yang telah dia berikan.

Langkah pertama kau lakukan menuju jalan itu ketika tiba-tiba kembali muncul keraguan di dalam hatimu. Kau hentikan langkahmu. Kau berbalik. Melihat arah jalan yang semula telah kau jalani. Perjalananmu yang lalu belum kau selesaikan dan kini kau ingin memulai sesuatu yang baru. Hatimu tidak membiarkanmu melakukannya. Hatimu terus berbisik padamu. Membisikkan tujuan awalmu. Menyuruhmu untuk kembali ke tujuan awalmu. Kembali ke jalan yang selama ini kau tempuh. Melanjutkan perjalananmu yang belum selesai.

Kau lalu membalikkan langkahmu. Kau langkahkan kakimu menuju jalan itu kembali. Jalan lama yang telah kau lalui. Tapi baru beberapa langkah, kau lalu teringat oleh cerita yang barusan kau dengar. Danau di ujung jalan itu menarik perhatianmu. Kau kembali ragu. Kau bimbang menentukan pilihan. Kau tidak tahu arah mana yang sebenarnya kau inginkan. Perasaan ragu berkecamuk di dalam hatimu.

Keraguan itu begitu menyiksamu. Kau tidak dapat membuat keputusan. Ingin rasanya kau berada di jalan yang lurus. Tanpa ada sebuah persimpangan yang membuatmu ragu. Tapi inilah perjalanan. Terkadang kau menemui persimpangan dan kau harus menentukan arah. Memilih jalan untuk melanjutkan perjalanan.

Kau menjadi lemah. Kehilangan seluruh tenaga. Kau bahkan tak mampu lagi untuk berdiri. Menunpukkan tubuhmu di atas kedua kaki. Kau lalu duduk di persimpangan itu. Menghentikan perjalananmu dalam keraguan. Sampai ada seseorang yang menghampirimu.

Dia menyapamu. Kau pun menyapanya kembali. Kepadanya, tak kau tanyakan arah mana yang seharusnya kau pilih. Dia baru saja datang dalam perjalanan ini. Kau belum terlalu mengenalnya. Kau pun tak mau menanyakan pendapatnya.

Dia lalu menceritakan perjalanan yang telah dilaluinya. Tentang pejalan lain yang pernah ditemaninya. Tentang segala keraguan yang pernah dialami oleh para pejalan itu. Keraguan yang akhirnya membuatnya meninggalkan mereka.

Ceritanya membuatmu terpesona. Kau begitu tertarik dengan setiap kata yang diucapkannya. Bagimu, semua yang diungkapkannya adalah suatu hal yang selama ini kau cari. Segala yang ada di dalam dirinya, membuatmu merasa nyaman. Kenyamanan yang selama ini kau rindukan. Kau nyaman bersama dengan dirinya. Kau nyaman untuk mendengar semua kisahnya. Hanya menjadi pendengar. Tidak perlu mengatakan apapun. Tidak perlu mengatakan pendapatmu. Dan dia pun tidak membutuhkan itu. Dia tidak membutuhkan pendapat orang lain mengenai perjalanan yang telah dilaluinya.

Kau pun akhirnya menceritakan tentang perjalananmu. Tentang setiap langkah yang telah kau buat. Tentang impian yang ingin kau wujudkan. Tentang sebuah tempat yang ingin kau tuju. Tentang jalan yang telah membawamu sampai ke tempat ini. Tentang semua hal yang pernah kau temui dalam perjalananmu. Dia pun mendengarkanmu.

Kau lalu menceritakan tentang keraguanmu. Kebimbanganmu menentukan pilihan mana yang akan kau pilih. Tentang jalan baru yang membuatmu ragu untuk melanjutkan perjalanan. Tentang sebuah danau indah yang terdapat di ujung jalan itu. Tentang semua yang telah kau alami.

Kau menginginkan pendapatnya. Pendapat dari seseorang yang membuatmu nyaman. Seseorang yang memberikan kenyamanan yang baru. Kenyamanan yang berbeda dari yang pernah kau alami sebelumnya.

Menurutnya, kau harus melanjutkan perjalanan yang selama ini telah kau lakukan. Teruskan perjalanan menuju ke tempat impianmu. Wujudkan impian awalmu. Jangan tergoda dengan impian baru. Jalan baru yang menawarkan keindahan adalah godaan bagimu untuk mencapai segala impian. Semua itu hanya menjadi penghalangmu. Membuatmu lupa tentang tujuan perjalananmu yang sebenarnya.

Kau pun yakin dengan semua yang diucapkannya. Kau yakin dengan semua yang dikatakannya. Semua yang diungkapkannya membuat hilang keraguan di dalam hatimu. Kau pun yakin dengan arah yang akan kau pilih. Kau yakin dengan arah perjalananmu.

Kau lalu memintanya menjadi pendamping perjalananmu. Kau ulurkan tangamu. Mengajaknya untuk berjalan di sisimu. Dia pun menggapai tanganmu. Digenggamnya tanganmu. Dia melangkah ke sisimu. Dia memberikan senyumnya padamu. Senyum yang semakin membuatmu yakin dengan perjalanan ini. Dan kaupun membalasnya.

Keyakinan terhadap perjalanan yang kau lakukanlah yang membuatnya bersedia menemani perjalanan ini. Dia tidak peduli dengan akhir dari perjalanan yang kau lakukan. Baginya yang terpenting adalah semangat dan usaha yang kau lakukan selama perjalanan ini. Semangat untuk selalu bangkit walaupun terjatuh atau terjerembab ke dalam selokan. Tak peduli dengan beceknya lumpur yang menghalangi jalan akibat hujan yang turun semalam, kau terus berjalan melaluinya.

Langkah-langkah awal bersamanya dipenuhi dengan cerita perjalananmu. Tentang keraguan yang sering kau alami sepanjang perjalanan ini. Tentang sebuah tempat di langit yang pernah kau kunjungi. Tentang sebuah taman di dalam lautan. Tentang semuanya. Alasan kau memulai perjalanan ini. Tujuan yang ingin kau capai. Tempat yang sangat kau impikan. Dia hanya tersenyum mendengar semua itu.

Menurutnya, kau tidak perlu lagi untuk terbang ke langit untuk merasakan ketinggian. Untuk melihat daratan. Kau hanya perlu mendaki ke atas bukit. Kau pun bisa melihat semuanya. Kau juga tidak perlu lagi menyelam ke dalam lautan untuk membuat dirimu basah atau melihat kehidupan di dalam air. Kau bisa melakukannya di sebuah sungai. Sungai yang terus mengalir. Di sisi sebuah bukit, terdapat sebuah sungai yang terus mengairi sebuah desa. Kau tidak perlu ke mana-mana. Inilah tempatmu. Inilah asalmu. Daratanlah tempatmu yang sebenarnya. Kau tidak perlu mengubah itu semua. Di daratan, semua terdapat yang kau cari. Bersamanya, kau akan melanjutkan perjalanan ini. Entah berapa lama perjalanan ini akan berakhir. Kau pun tak tahu sampai di mana perjalanan yang kau lakukan kali ini. Hanya satu hal saja yang kau ketahui saat ini. Berjalan bersamanya membuatmu merasakan sesuatu yang baru. Semangat baru untuk mewujudkan impian lamamu.

*

Di sinilah sekarang kau berada. Di sebuah gubuk kecil yang kau bangun sendiri. Gubuk sederhana di tepi sebuah jalan kecil.

Kau tinggal di situ sendiri. Sebuah keputusan sudah kau buat. Menghentikan sejenak perjalanan. Tinggal sementara di sebuah gubuk sederhana sebelum akhirnya akan melanjutkan perjalanan yang harus kau selesaikan, baik dengan atau tanpa pendamping.

Di tempat ini, kau persiapkan segala perbekalan yang mungkin akan kau butuhkan dalam perjalanan nantinya.

Rasa rindu akan seorang pendamping kadang muncul di dalam benakmu. Tapi, perjalanan yang lalu telah memberi banyak pelajaran padamu. Hatimu tidak lagi terlalu memikirkannya. Tetaplah menjalani seperti ini. Mempersiapkan segalanya terlebih dahulu. Segalanya harus siap sebelum akhirnya membuat keputusan untuk melanjutkan lagi perjalanan.

Bagimu, inilah duniamu. Gubuk kecil yang kau bangun adalah tempat yang dapat melindungimu dari teriknya sinar matahari. Dari derasnya hujan yang turun. Dari dinginnya angin malam yang datang. Gubuk itu selalu memberikan pelindungannya padamu.

Kau pun punya sebuah ladang kecil. Di belakang gubuk, kau menggarap sebuah lahan. Tidak terlalu besar, tapi cukup untuk membuatmu meluangkan waktu dan hasilnya bisa kau bawa sebagai perbekalan.

Kau pun terkadang pergi ke danau. Di sana, kau sering memancing ikan-ikan untuk kau jadikan santapan. Atau, kau pergi mengarungi danau itu. Dengan sebuah sampan yang kau buat, kau pergi ke tengah danau. Menikmati ketenangan yang diberikan oleh danau itu.

Inilah duniamu saat ini. Tujuan akhir dari perjalanan yang dilakukan.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s