JUST A MINUTE!

Aku tak tahu lagi seberapa besar arti hidupku. Aku tidak tahu apakah aku ini masih layak untuk menjalani hidup? Atau mungkin, aku memang harus hidup untuk menjadi korban? Rasa-rasanya aku lebih baik tidak hidup di dunia ini lagi. Aku lebih baik meninggalkan dunia ini secepatnya, menyusul kerabat dan tetanggaku yang telah lebih dahulu pergi meninggalkanku. Ah… aku rasa aku tidak diizinkan untuk mati. Aku tidak boleh mati. Aku dilarang keras untuk mati. Aku tidak punya hak untuk mati. Aku adalah contoh hidup dan contoh hidup tidak boleh mati. Kalau aku mati, maka tidak ada lagi contoh hidup.

Entahlah. Saat ini aku sangat bingung. Sejak lahir, aku harus hidup dalam kemiskinan. Aku harus terus bertahan dalam kekurangan yang aku alami. Sejak lahir, aku diharuskan untuk menahan penderitaan dunia ini. Bahkan sejak di dalam kandungan, aku sudah dilarang untuk mengeluh. Aku tidak boleh menangis manja. Aku tidak boleh mengeluh nasib yang akan aku jalani.

Sejak kecil, aku jarang sekali merasakan masa-masa bahagia. Jarang… ya, aku jarang sekali merasakan kebahagiaan. Masa-masa bahagia yang aku ingat adalah ketika pertama kali aku duduk berdua di tepi laut bersama Martha, kekasihku saat itu yang kini menjadi istriku. Kami menikmati cahaya matahari di saat senja sambil menikmati hembusan angin laut yang datang menampar wajah kami. Ada lagi…. Aku ingat ketika pertama kali aku merasakan kenikmatan sebagai suami. Malam pertama yang indah. Aku dan Martha. Kenangan yang tidak akan kulupakan. Kenangan indah yang jarang sekali aku alami di kehidupan ini.

Masa kecil yang menurut banyak orang adalah masa yang sangat membahagiakan, ternyata tidak bagiku. Sebagian besar waktuku dihabiskan untuk menolong ayah menangkap ikan di laut. Setelah itu, aku masih harus membantu ibuku menjemur ikan-ikan yang didapatkan ayah. Kemudian, aku masih harus mengatarkan ikan-ikan yang sudah dikeringkan itu ke pasar di kota. Sehari-hari aku terus melakukan pekerjaan itu. Aku tidak punya waktu untuk bermain.

Aku tidak pernah merasakan nikmatnya belajar di sekolah. Aku tidak pernah mengenal yang namanya guru. Aku tidak tahu bentuk meja dan kursi sekolah. Aku tidak pernah merasakan bangganya mengenakan seragam sekolah. Aku tidak pernah sekolah. Tidak pernah! Aku ingin sekolah. Aku ingin belajar di sekolah. Aku ingin duduk di kursi sekolah. Aku ingin diajarkan oleh guru di dalam kelas. Aku ingin mengenakan seragam sekolah. Aku ingin sekolah, tetapi kemiskinan telah memupuskan semua impianku. Aku tidak dapat bersekolah. Aku hanya dapat bermimpi untuk bersekolah. Sekolah bagiku adalah laut. Guru bagiku adalah ombak. Kursi sekolah bagiku adalah perahu.

Aku menyesali hidup ini? Tidak! Aku tidak pernah menyesali hidup ini. Aku bangga aku hidup seperi ini. Aku bangga pada diriku yang mampu bertahan dari semua kekurangan yang ada di dalam kehidupanku. Aku bangga terhadap diriku sendiri. Entah kalau orang lain yang menjalani hidup seperti ini. Aku tidak yakin dia akan dapat bertahan menjalani kehidupan ini, seperti yang aku jalani selama ini. Aku bangga akan kemampuanku bertahan hidup.

Seperti yang sudah aku bilang tadi, aku adalah contoh. Aku adalah contoh dari keserakahan dunia. Aku adalah contoh dari kemunafikan dunia. Aku adalah contoh dari ketidakpedulian manusia. Aku bangga menjadi contoh. Aku bangga hidupku yang serba kekurangan ternyata merupakan contoh bagi yang lain.

*

Matahari belum terlihat betul saat itu. Saat seorang pria berdiri sendiri di tepi teluk. Di depannya tergeletak sesosok mayat kecil dan ditangan kirinya terdapat sebuah cangkul.

Udara dingin yang berhembus dari laut masih sangat terasa ketika lelaki itu mulai menggunakan cangkulnya untuk membuat lubang. Sedikit demi sedikit tanah terangkat oleh cangkul yang diayuhkan lelaki itu. Tak lama kemudian, lelaki itu sudah selesai membuat lubang yang tidak terlalu besar untuk menguburkan mayat yang ada di dekatnya.

Terlihat mayat yang ada di dekat lelaki itu tidak terlalu besar. Kira-kira mayat itu adalah mayat anak kecil yang usianya sekitar 2-3 tahun. Tapi, kenapa mayat itu dikuburkan di tepi teluk? Kenapa pula hanya lelaki itu yang menguburkan mayat itu? Kenapa tidak ada upacara adat untuk menguburkan mayat kecil itu? Apakah ini pembunuhan? Tidak. Jangan bilang ini adalah pembunuhan. Aku tidak mau menjadi saksi pembunuhan. Bisa-bisa nanti aku yang mati terbunuh.

*

Seumur hidup, aku telah merasakan bagaimana rasanya tersisihkan. Seumur hidup, aku telah merasakan bagaimana rasanya terbuang. Seumur hidup, aku telah merasakan bagaimana rasanya menjadi korban. Tetapi, baru kali ini aku merasakan tidak berarti. Baru kali ini, aku merasakan betapa hidupku tidak berarti. Bagi masyarakat, bagi negara, bagi semua yang ada di dunia ini. Inilah saat bagiku merasakan ketidakberartian hidup yang aku jalani.

Ketika semua warga desaku mengadukan nasib malangnya, kami hanya menjadi bahan pembicaraan yang menarik bagi orang lain. Masalah yang kami adukan menjadi behan pembicaraan bagi semua orang di dunia ini. Semua membicarakan masalah yang kami adukan. Semua memperdebatkan masalah yang kami hadapi. Semua berdialog mengenai penyakit aneh yang kami derita. Semuanya menjadi sibuk berbicara mengenai kami. Semua sibuk berucap sampai lupa melakukan tindakan bagi kami. Semuanya sibuk berdebat dan beragumentasi sampai lupa kalau kami sedang membutuhkan pertolongan. Di televisi, koran, radio, warung kopi, kantor, pasar swalayan, di mana-mana, kami menjadi bahan pembicaraan yang menarik. Tetapi, apa yang kami dapatkan? Pertolongan? Bantuan? Harapan? Atau, apa? Tidak, kami tidak mendapatkan apa-apa. Kami hanya mendapatkan ketenaran. Kami mendapatkan popularitas yang sangat tidak kami harapkan. Pertolongan, bantuan, dan harapan untuk hidup yang kami inginkan dari pengaduan masalah kami ternyata mejadi sia-sia. Aku tidak tahu berapa lama lagi kami dapat bertahan hidup menghadapi penyakit aneh yang menimpa desa kami. Aku tidak tahu sampai kapan semua orang akan berhenti memperdebatkan masalah yang kami hadapi. Aku tidak tahu kapan orang-orang itu tersadar kalau kami membutuhkan pertolongan bukan ketenaran. Mungkin sampai semua warga di desa kami meninggal karena penyakit aneh. Mungkin sampai tidak ada lagi pihak yang dapat dijadikan contoh hidup. Mungkin sampai derita yang kami alami berakhir dengan kematian. Mungkin sampai saat ketika kami telah ditolong terlebih dahulu oleh kematian, sehingga yang perlu dilakukan oleh orang-orang itu adalah penulisan sejarah baru dalam kehidupan umat manusia.

Semenjak pabrik penambang emas itu berdiri, kesusahan hidupku dan warga desa bertambah. Limbah pabrik itu dibuang ke laut. Ikan yang kami tangkap semakin sedikit. Banyak ikan yang mati karena keracunan. Ikan yang hidup pun tak lepas dari racun akibat limbah. Penghasilan kami berkurang. Ikan-ikan hasil tangkapan kami tidak dapat dijual di pasar. Pedagang di kota menolak ikan-ikan hasil tangkapan kami. Tidak hanya itu. Sejak beberapa tahun yang lalu, warga desa terserang penyakit kulit yang aneh. Penyakit yang kami dapat setelah memakan ikan hail tangkapan di laut. Penyakit ini menyerang seluruh warga desa. Lelaki, perempuan, orang tua, sampai bayi yang baru dilahirkan. Beberapa warga desa akhirnya menyerah pada penyakit aneh yang belum diketahui obatnya ini. Beberapa warga memilih untuk pasrah pada kematian daripada bertahan hidup dengan penyakit aneh. Beberapa warga desa telah meninggal, termasuk… termasuk anakku yang baru berumur 3 tahun. Anak ketigaku yang cantik telah menyerah pada kematian. Anakku yang mayatnya kini ada di hadapanku.

*

Lelaki itu mengangkat mayat kecil yang ada di hadapannya dan menaruhnya perlahan di dalam lubang yang telah dia buat. Sinar matahari yang mulai muncul dari ufuk timur menyinari wajah lelaki itu. Sekilas kulihat kesedihan yang amat dalam di wajah lelaki itu. Air mata keluar perlahan dari kedua matanya.

Niatku untuk meninggalkan upacara pemakaman itu menjadi pudar ketika melihat kesedihan di muka lelaki yang sedang menguburkan mayat kecil di tepi teluk.
Siapa sebenarnya yang sedang dikubur oleh lelaki itu? Anaknya? Mungkin. Tetapi kenapa dikubur di tepi teluk, bukankah di dekat desa ada tempat permakaman?
Mayat kecil itu diletakkan dengan amat perlahan di dalam lubang. Mayat kecil yang tidak dibungkus kain kafan. Mayat kecil yang seharusnya sedang riang bermain bersama temannya.

Lelaki itu sempat mencium wajah mayat kecil yang dikuburnya. Kecupan kecil yang sangat manis. Kecupan terakhir sebelum mayat kecil itu ditimbun oleh tanah. Setelah meletakkan mayat kecil, lelaki itu keluar dari lubang. Sedikit demi sedikit lubang itu ditutup dengan tanah. Sedikit demi sedikit lubang itu dibasahi oleh air mata lelaki itu. Sedikit demi sedikit lubang mulai tertutup. Sedikit demi sedikit hati lelaki itu mulai hancur.

Lama lelaki itu bersujud di atas kuburan kecil itu. Menangis sendiri. Lalu, dia menaruh bunga yang ada di saku celananya di atas kuburan kecil itu. Aku melihat kesedihan yang amat mendalam dari bayangan lelaki itu. Bayangan yang semakin lama semakin memendek. Bayangan kesedihan masyarakat desa.

Lelaki itu kemudian berjalan menginggalkan kuburan kecil di teluk. Membawa cangkul di tangan kirinya dan luka di hatinya. Lelaki itu meninggalkan kuburan kecil sendiri di teluk. Lelaki itu berjalan tergopoh ke arah desa.

*

Anakku, maafkan kemiskinan kedua orangtuamu. Maafkan kami yang tidak mampu membeli makanan yang bebas penyakit. Makanan yang bersih. Maafkan kami karena telah melahirkanmu hanya untuk menjadi korban.

Sekarang aku kuburkan kau di teluk ini agar kau menjadi contoh bagi yang lain. Sama seperti ayahmu, kau adalah contoh bagi yang lain. Kau adalah bukti bahwa di teluk ini pernah terjadi ketidakadilan. Kuburanmu adalah bukti nyata bencana yang ada di teluk ini.

Selamat tinggal anakku. Sekarang kau sendiri di teluk ini. Pesanku, tolong jaga teluk ini. Jangan sampai teluk ini kembali mengkibatkan kematian seperti yang kau alami. Aku, ayahmu, dan ibumu akan pergi dari desa ini. Kami akan pergi jauh dari desa terkutuk ini. Kami pergi mencari kehidupan yang baru. Kami harap di tempat yang baru nanti kami tidak lagi menjadi contoh kehidupan. Tetapi kalaupun hal itu terjadi, kami rela menjalaninya. Seumur hidup akan menjadi contoh.

Selamat tinggal anakku.

(Kalau yang ini ceritanya mau peduli sama penderitaan Minamata di Buyat)
Juli 2004

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s